Sungguh
menyedihkan jika kita hanya bisa mendukung seseorang dari kejauhan. Dan orang
yang kita dukung itu tidak pernah tahu bahwa kita yang selalu mendukungnya. Aku
lah orang menyedihkan itu.
Ulang
tahun sekolah di tahun terakhir ku di masa putih abu. Masih teringat jelas, di
setiap lomba yang dia ikuti, aku adalah orang pertama yang stand-by sebelum teman-temanku datang. Aku adalah orang pertama
yang berdiri dari kejauhan untuk memberikan nya semangat. Saat itu ia sempat
melihatku, tapi ia tidak menghiraukan aku. Dan betapa menyakitkan, setelah
selesai mengikuti lomba, ia tidak datang kepadaku, tetapi kepadaku ex orang yang dulu sempat dekat
dengannya, tapi bukan pacar. Mirisnya lagi, gadis itu adalah teman ku. Aku
hanya bisa tersenyum pahit. Di lain waktu, dia juga mengikuri suatu lomba.
Lomba cerdas cermat kimia. Dan saat itu aku juga adalah orang pertama yang
menonton nya. Ketika ia tidak bisa menjawab soal, akulah orang pertama yang
khawatir. Saat ia menggaruk-garuk kepala jika tidak mendapat jawaban, akulah
orang pertama yang bingung memikirkan apa jawabannya. Tapi selalu terulang
kembali, dia tidak pernah sekalipun melihat gerak-gerikku. Sekali dua kali, aku
pernah beradu pandangan mata dengannya. Saat itu aku sedang menatapnya, mungkin
ia merasa ada orang yang terus menatapnya, sehingga ia menoleh padaku, dan
pandangan mata kami beradu. Aku langsung mengalihkan pandangan mataku. Sangat
pengecut.
Nyaman.
Itu hal yang aku rasakan saat berada disampingmu. Ya, kami memang teman,
walaupun tidak terlalu dekat. Terkadang aku bersenda gurau dengannya,
berdiskusi bersama. Sore itu, aku sedang kesusahan memperbaiki dan mengecat
ulang pigura Presiden yang rusak. Dia datang, dan langsung mengambil kuas dan
membantuku. Dia hanya sempat menggodaku sekali.
“Bodoh, hal kecil begini saja kau tidak mampu melakukan nya.
Dasar..” .
Tapi aku tau dia tidak serius.
Karena setelah berkata begitu, dia mencoretkan cat ke lenganku. Kami tertawa
sebentar, lalu bekerja dalam sunyi. Bukan kesunyian yang membosankan. Tapi
kesunyian yang benar-benar… Bermakna. Entah mengapa, aku ataupun dia, terkadang
agak canggung dalam berbicara. Jika aku, wajar saja. Karena aku memiliki suatu
perasaan khusus dengannya. Tapi dia? Entahlah.. Kami mengecat dalam diam,
terkadang hanya ada celetukan dari nya atau pun aku yang sangat sederhana.
Nyaman adalah saat dimana kita tidak saling berbicara panjang lebar tentang
sesuatu, tapi berbicara from heart to
heart. Nyaman adalah bukan dimana kita bersebelahan, saling memandang,
slaing bergandengan tangan, tetapi kau dan aku bersebelahan, saling menikmati
kebersamaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dan nyaman iitu
bukanlah bersama dalam waktu yang lama, tetapi tidak ada hal yang bermakna,
melainkan, walaupun hanya 15 menit, tapi 15 menit itu sangatlah berkesan. It’s mean of comfort.
Terkadang, bahkan sering, aku
merasa sedikit jealous. Bukan tanpa
alasan, karena setiap perlakuanmu pada gadis itulah yang secara spontan membuat
bara api yang ada di dalam tubuhku menyala. Saat berada di dekatmu, jantungku
tidak sedang jumplalitan, bahkan deg-deg
an. Biasa saja. Tapi ketika kau menggodaku, disanalah detak jantungku langsung
berdetak lebih cepat dari biasa nya. Seperti pada suatu pagi, kau selalu berada
di dekatnya, bagaimana aku tidak panas? Langsung saja aku menyanyikan sebuah
lagu yang liriknya berisi sebuah kata ‘cemburu’ . Tapi tak tahu kenapa, dia
bisa merasakan bahwa lagu itu ditujukkan untuknya. Aneh tapi nyata. Dan
kejadian ini sering terjadi. Dan jika sudah seperti itu, tak lama kemudian, dia
segera mencari masalah denganku, membuat ku kesal, dan menggodaku. Aneh kan?
Bahkan pernah sekali waktu, dia menjambakku. Aku tidak tahu dia bercanda atau
serius, karena setelah itu aku memberikan sebuah kenangan manis di pipi nya
berupa cap tangan ku. Dia tidak marah, dia hanya tertawa dengan lebarnya.
Tapi tidak selalu dan setiap hari
kami seperti itu. Berlaku seperti orang yang amat lebay itu. Adakalanya aku dan
dia bagaikan orang asing,. TIdak pernah berbicara. Ya, tepat setelah ulang tahun
sekolah berakhir. Aku dan dia tidak pernah lagi salimg bercanda, bahkan saling
menjahili satu sama lain. Aku dengannya seperti tidak saling kenal.
Entah apa akhir dari hubungan kita
yang aneh ini. Tetap teman, menjadi orang asing atau bahkan saling mencintai?
Entah… Aku bukan peramal yang bisa meramalkan akhir dari suatu hubungan
seseorang. Aku hanya bisa menerka-nerka apa yang mungkin terjadi esok hari.
Hati kevcilku sedikit berharap untuk bisa bersamamu, cukup sebagai teman biasa.
Tidak lebih. Atau mungkin aku selalu menjadi supporter setia tanpa kau ketahui? Whats ending of our story?