Kembali terulang untuk yang kesekian kali nya. Sebuah penolakan,pengabaian, dan pengecualian yang ditujukan hanya kepadaku. Rasanya seperti kau menyisihkan aku layaknya orang yang terjangkit penyakit menular.
Penolakan. Disaat aku ingin memperbaiki hubungan kita, disaat aku ingin sekali berada disisimu, kau menolak ku. Tahukah kau bahwa penolakan halus mu telah sukses membuat sistem kerja otot ku menjadi lemas? Raut wajah ceria ku sirna seketika. Yang ada diwajahku saat ini adalah wajah masam yang mungkin terlihat lebih buruk dari tumpukan sampah yang berserakan. Disaat aku ingin bersamamu, belum saja aku mengucapkan sepatah kata untuk berada disampingmu, kau telah terlebih dulu menolakku. Haha. Andai saj aku tidak memiliki urat malu, mungkin aku tidak akan peduli dengan adanya harga diri dan gengsi tinggi seorang wanita.
Pengabaian. Terabaikan. Semua orang sangat tidak ingin terabaikan. Seolah-olah kau tidak terlihat. Ya, tapi mengapa selalu aku yang terabaikan, huh? Dikala aku sedang kesulitan, tidak pernah kau menaruh perhatian padaku. Walaupun hanya setitik perhatian, aku pasti sangat menghargai nya. Apakah aku memang tidak terlihat layaknya hantu? Aku tidak sekalipun mengurangi perhatian ku kepadamu. Ya, perlu kalian ketahui. Mungkin inilah efek cinta yang tak terbalas.
Pengecualian. Sebagai orang yang selalu kau "kecuali" kan, aku sudah cukup banyak terluka. Kau selalu membalas pesan singkat orang lain dengan panjang lebar. Tapi tidak denganku. Ya, kecuali aku. Kau selalu memperlakukan wanita lain dengan baik layaknya mereka seorang putri. Tapi kau memperlakukan aku layaknya aku pembokat mu. Kecuali aku. Semua hal baik tidak akan pernah kau lakukan padaku. Selama aku masih pengecualian mu.
Terima kasih untuk segala luka yang kau beri. Dan seharusnya kau mengucapkan "terima kasih kembali" karena aku masih tetap menyukai dan peduli padamu. Seharusnya kau sadar karena aku sudah terlalu jelas menyukaimu. Bodoh.
Bandung, 18 December 2013.
7:30 AM.
No comments:
Post a Comment