Pernahkah kau merasakan rasanya terjatuh diatas tanah
berbatu? Apa yang kau rasakan? Sakit? Pasti. Saat itu ada orang yang menolongmu
dan membersihkan luka mu dengan alcohol. Apa yang kau rasakan? Perih. Ya.
Pasti. Bisakah kau membayangkan rasanya luka itu terkena perasan jeruk nipis?
Atau bahkan terkena tetesan cuka? Aku pernah merasakan nya. Dan yang aku
rasakan adalah perih yang sangat teramat. Tapi aku yakin suatu saat luka itu
akan sembuh. Entah seminggu, sebulan atau bahkan lebih, yang pasti ia akan
sembuh walaupun meninggalkan bekas yang takkan bisa hilang sepenuhnya. Tapi
pernah kah kau bayangkan jika itu adalah hati mu? Hati yang tulus bersih,
tiba-tiba saja dihancurkan dengan sebuah perkataan yang sederhana tapi sangat
menusuk hati? Bagaimana cara mu untuk menyembuhkan nya? Bagaimana cara mu untuk
menyembuhkan hati itu?
Ya. Memang semua adalah kesalahan ku. Aku yang terlalu bodoh
karena menyukai mu, memperhatikan mu seolah kau lah yang paling utama di
hidupku. Padahal aku tahu, sedari awal, aku tidak akan pernah mendapat tempat
khusus di hatimu. Hatimu hanya terisi oleh dia dan hanya dia. Ya. Hanya dia.
Sekeras apapun aku mencoba, kau tidak akan pernah membuka hati mu untuk aku
isi.
Aku memang tidak gampang jatuh hati kepada orang. Apalagi
kau adalah orang yang sangat dingin, kaku dan tertutup. Ibarat sebuah kotak
rahasia yang memiliki kata kunci rahasia dan tidak sembarang orang bisa membuka
nya. Dan aku terjebak di dalam semua ini. Kisah cinta yang menyakitkan dan
rumit.
Awalnya aku tidak tahu bahwa jatuh hati kepadamu akan
serumit ini. Se menyakitkan ini. Setiap wanita di belahan bumi ini pasti akan
terlena dengan perhatian dari seorang pria. Begitupun aku. Kau mengingatkan aku
setiap saat akan apa yang belum aku lakukan. Dan karena aku yang terlalu polos
dengan masalah cinta, aku terlena dengan kebaikan mu. Dan aku mulai memasuki
dunia mu yang sangat tertutup. Mencoba mencari celah dimana aku bisa mendapat
tempat di sana. Semuanya berjalan baik-baik saja. Kita saling mengabari satu
sama lain. Walaupun tidak selalu tiap menit. Rentang waktu mu untuk membalas
percakapan singkat kita paling cepat adalah 15 menit sedangkan aku, tidak
sampai satu menit aku sudah membalas nya. Aku rela menanti sebuah pesan singkat
yang memang isi nya benar-benar singkat. Aku mencoba memahami dan selalu
berfikir bahwa mungkin kau sedang sibuk, kau tidak mungkin mendahulukan aku di
dalam setiap waktu mu. Baik. Aku bisa mengalah dan memahami mu. Untuk pertama
kali nya aku tidak bersikap egois dan keras kepala. Ketahuilah, aku adalah
seorang scorpio tulen. Yang selalu mengutamakan emosi, egois dan keras kepala
di setiap tindakan nya. Tapi hanya dengan mu, aku mengalah. Waktu demi waktu
berlalu. Hingga tiba saat nya, saat aku mengetahui bahwa kau telah mencintai
gadis lain. Yang jauh lebih sempurna dariku. Ibarat aku hanya sebutir pasir dan
dia sebutir mutiara. Indah. Mempesona. Sempurna. Tapi aku bukan lah orang yang
pantang menyerah. Disaat teman-teman ku menyuruh ku untuk mundur, aku tidak
mau. Karena aku tahu, cinta perlu perjuangan. Tapi sepertinya perjuangan ku di
mata mu tidak berarti apa-apa. Aku berjuang menunjukkan perasaanku, tapi kau
memperlakukan nya seperti mainan. Kau memainkan nya saat kau bosan dengan
kegiatanmu, dan kau membuangku dikala kegiatan mu membuat mu bahagia. Aku bisa
membayangkan bagaimana sakit nya kau mengangkat ku dengan tinggi, dan setelah
di ketinggian itu, kau meninggalkan ku hanya karena dia dating kepada mu. Dan
bisa kau bayangkan sakitnya jatuh dari ketinggian? Sakit? Jangan ditanya. Sakit
memang. Sangat teramat. Tapi mungkin cinta telah mengalahkan logika dan akal
sehat ku. Aku tetap tidak ingin menyerah. Tidak. Belum saatnya. Perjuanganku
ibarat angin lalu dimatamu. Aku seperti merasakan berjuang, bercucuran
keringat, menangis darah, tidak tidur siang dan malam, tapi rasanya aku tidak
lelah. Aku menangis pagi malam. Aku tidur subuh dan bangun pagi-pagi. Mungkin
orang-orang melihatku seperti zombie. Aku terbangun dengan air mata yang
mengering dimataku. Dan kau pun tidak tahu. Kau tidak pernah mau tahu aku
terluka karena mu, menangis karena mu. Karena di dalam hatimu, di dalam mata
mu, kau hanya melihat dia seorang. Matahari yang menyinari harimu. Dan kau
tidak pernah melihatku. Perlukah aku berteriak bahwa aku ada disini?
Memperjuangkan mu dan mencintai mu? Haruskah? Ada saat dimana aku ingin
melakukan nya dan membuatmu sadar bahwa aku masih disini menunggu dan
memperjuangkan mu. Ya. Dalam diam aku masih berharap kau melihatku disini.
Dalam doa ku aku masih menyebut nama mu. Dalam kelam nya malam aku masih
menaruh harapan pada sesuatu yang aku tidak yakin akan datang. Ya. Masih saja.
No comments:
Post a Comment