Kichi Vimalo
Enjoy every second what you have. If it past, you can't go back :')
Monday, October 27, 2014
Masih
Wednesday, April 2, 2014
Story of Sains Five a.k.a Duabelas IPA Lima
Ujian nasional. Mungkin hampir setengah dari kita merasa belum siap dengan ujian nasional. Belum menguasai materi dengan baik, belum memahami semua materi setiap mata pelajaran dengan baik. Tapi siap atau tidak siap, kita di tuntut untuk siap. Bagaikan berperang di medan tempur, kita harus mempersiapkan senjata dengan baik agar kita bisa memenangkan pertempuran ini. Tapi jika kita bersantai-santai, bahkan berleha-leha seperti ini? Akankah kita memenangkan pertempuran ini? Entah.
Pelepeasan. Saat kita mengalami sebuah pertemuaan, suatu saat akan ada perpisahan. Misalkan saja, pagi hari kita bertemu ayah dan ibu, lalu kita berpamit untuk sekolah. Bukankah itu adalah salah satu dari perpisahan? Ya, perpisahan jangka pendek. Bagaimana dengan kita berpisah dengan teman-teman kita, untuk melanjutkan cita-cita kita? Mungkin ada sebagian dari kita yang merantau di berbagai daerah di Indonesia, atau bahkan ke daerah manca negara. Dan kita tidak pernah tahu kapan kita dipertemukan kembali.
Saat kau tanyakan pada ku, apa yang aku rasakan, aku akan menjawab, aku merasakan semua nya. Sedih, rindu, senang, gembira, haru, semua. Di hari-hari sebelum kita berpisah ini, kita sering bertanya-tanya, "gak bakal makan bareng dikelas lagi ya" , "gak bakal bisa bolos lagi" , "gak bakal bisa ngejahilin guru lagi" , "gak bakal bisa nge-jodoh-jodohin temen lagi ya" .
Dan masih banyak "gak bakal" yang akan membuat mata kita sedikit berkaca-kaca. Sungguh, aku sendiri sangat membenci perpisahan. Mungkin nanti, beberapa tahun lagi, aku masih mengingat kalian, tapi kalian tidak mengingatku. Ataupun sebaliknya.
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Seiring dengan berjalannya waktu, kita semakin bisa menghargai waktu. Kita memanfaatkan waktu dengan sangat amat baik. Kita mengukir berbagai kenangan, membuat kenangan, yang tidak akan kita lupakan.
Masa putih-abu memang masa terindah diantara semua masa. Di putih-abu lah kita belajar mendewasakan diri. Di putih-abu juga kita belajar mencintai lawan jenis. Memendam rasa, cemburu, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta segitiga, cinta diam-diam. Semua kita rasakan di putih-abu. Masa dimana kita menjalin kekompakkan melalui berbagai kegiatan yang diadakan oleh sekolah maupun osis. Disaat kita latihan gerak jalan, bersama-sama menghias kelas, berusaha bersama untuk melakukan yang terbaik demi kelas yang kita milikki. Disitulah kebersamaan kita di uji. Kadangkala kita diuji dengan masalah, kita kadang bertengkar, memperdebatkan suatu masalah yang mungkin terlihat sepele. Kadang kita bersatu untuk melawan kelas yang mungkin dengki terhadap kelas kita.
Ade, dewa komang, dede, gita, tesa, dewa ketut, yoga putra, sukaidep, yuda suryawan, ariawan, dayu, indah, dwi febri, hendrawan, pasek, pastika, satria, yardi, riski, wisnu, yoga permadi, kishi, natasari, bobby, agustina, dewi puspa, citra, eka, risma, yuni, nita, pramitha, amelia, ayu devi, widhy dan yuliana. 36 siswa yang sering terlibat konflik, debat pelik, perseteruan dan berbagai hal yang membuat kita bersama.
Mungkin lain kali, akan aku sambung lagi. Hey, Sains Five. I'd really love you.
-to be continued
Tuesday, December 17, 2013
Rejected, Ignored and Refused
Kembali terulang untuk yang kesekian kali nya. Sebuah penolakan,pengabaian, dan pengecualian yang ditujukan hanya kepadaku. Rasanya seperti kau menyisihkan aku layaknya orang yang terjangkit penyakit menular.
Penolakan. Disaat aku ingin memperbaiki hubungan kita, disaat aku ingin sekali berada disisimu, kau menolak ku. Tahukah kau bahwa penolakan halus mu telah sukses membuat sistem kerja otot ku menjadi lemas? Raut wajah ceria ku sirna seketika. Yang ada diwajahku saat ini adalah wajah masam yang mungkin terlihat lebih buruk dari tumpukan sampah yang berserakan. Disaat aku ingin bersamamu, belum saja aku mengucapkan sepatah kata untuk berada disampingmu, kau telah terlebih dulu menolakku. Haha. Andai saj aku tidak memiliki urat malu, mungkin aku tidak akan peduli dengan adanya harga diri dan gengsi tinggi seorang wanita.
Pengabaian. Terabaikan. Semua orang sangat tidak ingin terabaikan. Seolah-olah kau tidak terlihat. Ya, tapi mengapa selalu aku yang terabaikan, huh? Dikala aku sedang kesulitan, tidak pernah kau menaruh perhatian padaku. Walaupun hanya setitik perhatian, aku pasti sangat menghargai nya. Apakah aku memang tidak terlihat layaknya hantu? Aku tidak sekalipun mengurangi perhatian ku kepadamu. Ya, perlu kalian ketahui. Mungkin inilah efek cinta yang tak terbalas.
Pengecualian. Sebagai orang yang selalu kau "kecuali" kan, aku sudah cukup banyak terluka. Kau selalu membalas pesan singkat orang lain dengan panjang lebar. Tapi tidak denganku. Ya, kecuali aku. Kau selalu memperlakukan wanita lain dengan baik layaknya mereka seorang putri. Tapi kau memperlakukan aku layaknya aku pembokat mu. Kecuali aku. Semua hal baik tidak akan pernah kau lakukan padaku. Selama aku masih pengecualian mu.
Terima kasih untuk segala luka yang kau beri. Dan seharusnya kau mengucapkan "terima kasih kembali" karena aku masih tetap menyukai dan peduli padamu. Seharusnya kau sadar karena aku sudah terlalu jelas menyukaimu. Bodoh.
Bandung, 18 December 2013.
7:30 AM.
Tuesday, December 10, 2013
Regret at 11 December '13
Hari ini aku mendapat dua pelajaran penting. Di tanggal yang manis ini, 11 Desember 2013. Aku mendapat pelajaran bahwa kita harus berani mengutarakan apa yang kita inginkan, dan percaya lah, bahwa Tuhan selalu mengabulkan apa yang kita inginkan disaat kita mempercayai nya.
Satu minggu sebelum acara gila ini, aku selalu berdoa dan meminta kepada Tuhan. "Tuhan, pasangkan aku dengan nya di permainan gila itu. Sekali saja. Aku ingin merasakan kehangatan berada didekatnya. Sekali saja. Biarkan aku dan dia bersama memperjuangkan kelas kita" . Ya, itu yang selalu aku minta kepada Tuhan sebelum aku tidur.
Dan hari itu tiba. Permainan gila yang ku maksud adalah Pinata Party Girl and Boy. Dimana sang pria mengarahkan sang wanita agar bisa memukul pinata yang digantung. Aku yakin teman-teman ku tidak ada yang ingin mengikuti permainan gila ini. Aku sangat ingin mengajukan diri. Tapi aku tidak mempunyai keberanian. Hingga akhirnya, temannku dipilih secara paksa. Dan lelaki yang di pilih adalah DIA. Ya, dia. Dia yang sangat akubinginkan untuk menjadi pasanganku di pinata party. Lelaki yang selalu aku sebut nama nya di setiap doa malamku. Dan tahukah kau bahwa Tuhan selalu mengabulkan apa yang kita inginkan? Ya, Dia bertanya kepada aku dan teman-temanku yang saat itu sedangvmemberi dukungan. "Hey, tidak adakah gadis lain yang bisa menemaniku memenangkan pinata party ini?" . Dia bertanya kepada semua yang ada disana saat itu. Aku sangat ingin bersuara, "Ya,aku mau. Ayo kita lakukan". Tapi betapa pecundang nya aku. Aku tidak berani bersuara. Hingga akhirnya mereka lah yang memainkan pinata party itu. Aku sedikit iri kepada temanku. Seharusnya aku lah yang berada disana bersama Dia.
Aku pergi meninggalkan acara yang sebelumnya menarik menjadi membosankan saat mereka berdua bermain. Aku sangat kesal. Mengapa aku sebegitu pengecutnya. Mengapa aku tidak berani menggapai apa yang aku inginkan. Tuhan telah memberi ku kesempatan. Hanya saja aku yang bodoh karena tidak bisa memanfaatkanya dengan baik. Menyesal? Untuk apa menyesal! Semua telah terlambat. Aku merutuk pada diriku.
Teman-teman ku tidak ada yang tahu bahwa aku sangat ingin bermain pinata party dengan Dia. Sungguh. Aku hanya bisa memendam rasa kesal ini sendiri. Seharusnya saja aku berani mengatakan bahwa, "YES. I WANT. I WANT DO IT WITH YOU". Aku pasti tidak akan merasa dongkol seperti ini. Bukan tanpa alasan. Aku hanya takut akan penolakan dari Dia. Bagaimana jika Dia mengundurkan diri saat aku menawarkan diri? Itu akan membuat aku malu dan merasa aku telah ditolak.
Sudahlah. Semua telah berlalu. Tidak akan terulang kembali. Aku berjanji kepada diriku sendiri, aku harus berani. Dan aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberi ku kesempatan. Tapi maafkan aku karena aku tidak memanfaatkan nya dengan baik. Terima kasih dan maaf Tuhan.