Monday, October 27, 2014

Masih

Pernahkah kau merasakan rasanya terjatuh diatas tanah berbatu? Apa yang kau rasakan? Sakit? Pasti. Saat itu ada orang yang menolongmu dan membersihkan luka mu dengan alcohol. Apa yang kau rasakan? Perih. Ya. Pasti. Bisakah kau membayangkan rasanya luka itu terkena perasan jeruk nipis? Atau bahkan terkena tetesan cuka? Aku pernah merasakan nya. Dan yang aku rasakan adalah perih yang sangat teramat. Tapi aku yakin suatu saat luka itu akan sembuh. Entah seminggu, sebulan atau bahkan lebih, yang pasti ia akan sembuh walaupun meninggalkan bekas yang takkan bisa hilang sepenuhnya. Tapi pernah kah kau bayangkan jika itu adalah hati mu? Hati yang tulus bersih, tiba-tiba saja dihancurkan dengan sebuah perkataan yang sederhana tapi sangat menusuk hati? Bagaimana cara mu untuk menyembuhkan nya? Bagaimana cara mu untuk menyembuhkan hati itu?

Ya. Memang semua adalah kesalahan ku. Aku yang terlalu bodoh karena menyukai mu, memperhatikan mu seolah kau lah yang paling utama di hidupku. Padahal aku tahu, sedari awal, aku tidak akan pernah mendapat tempat khusus di hatimu. Hatimu hanya terisi oleh dia dan hanya dia. Ya. Hanya dia. Sekeras apapun aku mencoba, kau tidak akan pernah membuka hati mu untuk aku isi.

Aku memang tidak gampang jatuh hati kepada orang. Apalagi kau adalah orang yang sangat dingin, kaku dan tertutup. Ibarat sebuah kotak rahasia yang memiliki kata kunci rahasia dan tidak sembarang orang bisa membuka nya. Dan aku terjebak di dalam semua ini. Kisah cinta yang menyakitkan dan rumit.

Awalnya aku tidak tahu bahwa jatuh hati kepadamu akan serumit ini. Se menyakitkan ini. Setiap wanita di belahan bumi ini pasti akan terlena dengan perhatian dari seorang pria. Begitupun aku. Kau mengingatkan aku setiap saat akan apa yang belum aku lakukan. Dan karena aku yang terlalu polos dengan masalah cinta, aku terlena dengan kebaikan mu. Dan aku mulai memasuki dunia mu yang sangat tertutup. Mencoba mencari celah dimana aku bisa mendapat tempat di sana. Semuanya berjalan baik-baik saja. Kita saling mengabari satu sama lain. Walaupun tidak selalu tiap menit. Rentang waktu mu untuk membalas percakapan singkat kita paling cepat adalah 15 menit sedangkan aku, tidak sampai satu menit aku sudah membalas nya. Aku rela menanti sebuah pesan singkat yang memang isi nya benar-benar singkat. Aku mencoba memahami dan selalu berfikir bahwa mungkin kau sedang sibuk, kau tidak mungkin mendahulukan aku di dalam setiap waktu mu. Baik. Aku bisa mengalah dan memahami mu. Untuk pertama kali nya aku tidak bersikap egois dan keras kepala. Ketahuilah, aku adalah seorang scorpio tulen. Yang selalu mengutamakan emosi, egois dan keras kepala di setiap tindakan nya. Tapi hanya dengan mu, aku mengalah. Waktu demi waktu berlalu. Hingga tiba saat nya, saat aku mengetahui bahwa kau telah mencintai gadis lain. Yang jauh lebih sempurna dariku. Ibarat aku hanya sebutir pasir dan dia sebutir mutiara. Indah. Mempesona. Sempurna. Tapi aku bukan lah orang yang pantang menyerah. Disaat teman-teman ku menyuruh ku untuk mundur, aku tidak mau. Karena aku tahu, cinta perlu perjuangan. Tapi sepertinya perjuangan ku di mata mu tidak berarti apa-apa. Aku berjuang menunjukkan perasaanku, tapi kau memperlakukan nya seperti mainan. Kau memainkan nya saat kau bosan dengan kegiatanmu, dan kau membuangku dikala kegiatan mu membuat mu bahagia. Aku bisa membayangkan bagaimana sakit nya kau mengangkat ku dengan tinggi, dan setelah di ketinggian itu, kau meninggalkan ku hanya karena dia dating kepada mu. Dan bisa kau bayangkan sakitnya jatuh dari ketinggian? Sakit? Jangan ditanya. Sakit memang. Sangat teramat. Tapi mungkin cinta telah mengalahkan logika dan akal sehat ku. Aku tetap tidak ingin menyerah. Tidak. Belum saatnya. Perjuanganku ibarat angin lalu dimatamu. Aku seperti merasakan berjuang, bercucuran keringat, menangis darah, tidak tidur siang dan malam, tapi rasanya aku tidak lelah. Aku menangis pagi malam. Aku tidur subuh dan bangun pagi-pagi. Mungkin orang-orang melihatku seperti zombie. Aku terbangun dengan air mata yang mengering dimataku. Dan kau pun tidak tahu. Kau tidak pernah mau tahu aku terluka karena mu, menangis karena mu. Karena di dalam hatimu, di dalam mata mu, kau hanya melihat dia seorang. Matahari yang menyinari harimu. Dan kau tidak pernah melihatku. Perlukah aku berteriak bahwa aku ada disini? Memperjuangkan mu dan mencintai mu? Haruskah? Ada saat dimana aku ingin melakukan nya dan membuatmu sadar bahwa aku masih disini menunggu dan memperjuangkan mu. Ya. Dalam diam aku masih berharap kau melihatku disini. Dalam doa ku aku masih menyebut nama mu. Dalam kelam nya malam aku masih menaruh harapan pada sesuatu yang aku tidak yakin akan datang. Ya. Masih saja.

Wednesday, April 2, 2014

Story of Sains Five a.k.a Duabelas IPA Lima

Tinggal menghitung hari. Kita tak bisa mundur lagi. Ujian nasional dan pelepasan. Hal yang mungkin sangat berat.

Ujian nasional. Mungkin hampir setengah dari kita merasa belum siap dengan ujian nasional. Belum menguasai materi dengan baik, belum memahami semua materi setiap mata pelajaran dengan baik. Tapi siap atau tidak siap, kita di tuntut untuk siap. Bagaikan berperang di medan tempur, kita harus mempersiapkan senjata dengan baik agar kita bisa memenangkan pertempuran ini. Tapi jika kita bersantai-santai, bahkan berleha-leha seperti ini? Akankah kita memenangkan pertempuran ini? Entah.

Pelepeasan. Saat kita mengalami sebuah pertemuaan, suatu saat akan ada perpisahan. Misalkan saja, pagi hari kita bertemu ayah dan ibu, lalu kita berpamit untuk sekolah. Bukankah itu adalah salah satu dari perpisahan? Ya, perpisahan jangka pendek. Bagaimana dengan kita berpisah dengan teman-teman kita, untuk melanjutkan cita-cita kita? Mungkin ada sebagian dari kita yang merantau di berbagai daerah di Indonesia, atau bahkan ke daerah manca negara. Dan kita tidak pernah tahu kapan kita dipertemukan kembali.

Saat kau tanyakan pada ku, apa yang aku rasakan, aku akan menjawab, aku merasakan semua nya. Sedih, rindu, senang, gembira, haru, semua. Di hari-hari sebelum kita berpisah ini, kita sering bertanya-tanya, "gak bakal makan bareng dikelas lagi ya" , "gak bakal bisa bolos lagi" , "gak bakal bisa ngejahilin guru lagi" , "gak bakal bisa nge-jodoh-jodohin temen lagi ya" .

Dan masih banyak "gak bakal" yang akan membuat mata kita sedikit berkaca-kaca. Sungguh, aku sendiri sangat membenci perpisahan. Mungkin nanti, beberapa tahun lagi, aku masih mengingat kalian, tapi kalian tidak mengingatku. Ataupun sebaliknya.

Waktu berjalan dengan begitu cepat. Seiring dengan berjalannya waktu, kita semakin bisa menghargai waktu. Kita memanfaatkan waktu dengan sangat amat baik. Kita mengukir berbagai kenangan, membuat kenangan, yang tidak akan kita lupakan.

Masa putih-abu memang masa terindah diantara semua masa. Di putih-abu lah kita belajar mendewasakan diri. Di putih-abu juga kita belajar mencintai lawan jenis. Memendam rasa, cemburu, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta segitiga, cinta diam-diam. Semua kita rasakan di putih-abu. Masa dimana kita menjalin kekompakkan melalui berbagai kegiatan yang diadakan oleh sekolah maupun osis. Disaat kita latihan gerak jalan, bersama-sama menghias kelas, berusaha bersama untuk melakukan yang terbaik demi kelas yang kita milikki. Disitulah kebersamaan kita di uji. Kadangkala kita diuji dengan masalah, kita kadang bertengkar, memperdebatkan suatu masalah yang mungkin terlihat sepele. Kadang kita bersatu untuk melawan kelas yang mungkin dengki terhadap kelas kita.

Ade, dewa komang, dede, gita, tesa, dewa ketut, yoga putra, sukaidep, yuda suryawan, ariawan, dayu, indah, dwi febri, hendrawan, pasek, pastika, satria, yardi, riski, wisnu, yoga permadi, kishi, natasari, bobby, agustina, dewi puspa, citra, eka, risma, yuni, nita, pramitha, amelia, ayu devi, widhy dan yuliana. 36 siswa yang sering terlibat konflik, debat pelik, perseteruan dan berbagai hal yang membuat kita bersama.

Mungkin lain kali, akan aku sambung lagi. Hey, Sains Five. I'd really love you.

                                                 -to be continued

Tuesday, December 17, 2013

Rejected, Ignored and Refused

Kembali terulang untuk yang kesekian kali nya. Sebuah penolakan,pengabaian, dan pengecualian yang ditujukan hanya kepadaku. Rasanya seperti kau menyisihkan aku layaknya orang yang terjangkit penyakit menular.

Penolakan. Disaat aku ingin memperbaiki hubungan kita, disaat aku ingin sekali berada disisimu, kau menolak ku. Tahukah kau bahwa penolakan halus mu telah sukses membuat sistem kerja otot ku menjadi lemas? Raut wajah ceria ku sirna seketika. Yang ada diwajahku saat ini adalah wajah masam yang mungkin terlihat lebih buruk dari tumpukan sampah yang berserakan. Disaat aku ingin bersamamu, belum saja aku mengucapkan sepatah kata untuk berada disampingmu, kau telah terlebih dulu menolakku. Haha. Andai saj aku tidak memiliki urat malu, mungkin aku tidak akan peduli dengan adanya harga diri dan gengsi tinggi seorang wanita.

Pengabaian. Terabaikan. Semua orang sangat tidak ingin terabaikan. Seolah-olah kau tidak terlihat. Ya, tapi mengapa selalu aku yang terabaikan, huh? Dikala aku sedang kesulitan, tidak pernah kau menaruh perhatian padaku. Walaupun hanya setitik perhatian, aku pasti sangat menghargai nya. Apakah aku memang tidak terlihat layaknya hantu? Aku tidak sekalipun mengurangi perhatian ku kepadamu. Ya, perlu kalian ketahui. Mungkin inilah efek cinta yang tak terbalas.

Pengecualian. Sebagai orang yang selalu kau "kecuali" kan, aku sudah cukup banyak terluka. Kau selalu membalas pesan singkat orang lain dengan panjang lebar. Tapi tidak denganku. Ya, kecuali aku. Kau selalu memperlakukan wanita lain dengan baik layaknya mereka seorang putri. Tapi kau memperlakukan aku layaknya aku pembokat mu. Kecuali aku. Semua hal baik tidak akan pernah kau lakukan padaku. Selama aku masih pengecualian mu.

Terima kasih untuk segala luka yang kau beri. Dan seharusnya kau mengucapkan "terima kasih kembali"  karena aku masih tetap menyukai dan peduli padamu. Seharusnya kau sadar karena aku sudah terlalu jelas menyukaimu. Bodoh.

Bandung, 18 December 2013.
7:30 AM.

Tuesday, December 10, 2013

Regret at 11 December '13

Hari ini aku mendapat dua pelajaran penting. Di tanggal yang manis ini, 11 Desember 2013. Aku mendapat pelajaran bahwa kita harus berani mengutarakan apa yang kita inginkan, dan percaya lah, bahwa Tuhan selalu mengabulkan apa yang kita inginkan disaat kita mempercayai nya.

Satu minggu sebelum acara gila ini, aku selalu berdoa dan meminta kepada Tuhan. "Tuhan, pasangkan aku dengan nya di permainan gila itu. Sekali saja. Aku ingin merasakan kehangatan berada didekatnya. Sekali saja. Biarkan aku dan dia bersama memperjuangkan kelas kita" . Ya, itu yang selalu aku minta kepada Tuhan sebelum aku tidur.

Dan hari itu tiba. Permainan gila yang ku maksud adalah Pinata Party Girl and Boy. Dimana sang pria mengarahkan sang wanita agar bisa memukul pinata yang digantung. Aku yakin teman-teman ku tidak ada yang ingin mengikuti permainan gila ini. Aku sangat ingin mengajukan diri. Tapi aku tidak mempunyai keberanian. Hingga akhirnya, temannku dipilih secara paksa. Dan lelaki yang di pilih adalah DIA. Ya, dia. Dia yang sangat akubinginkan untuk menjadi pasanganku di pinata party. Lelaki yang selalu aku sebut nama nya di setiap doa malamku. Dan tahukah kau bahwa Tuhan selalu mengabulkan apa yang kita inginkan? Ya, Dia bertanya kepada aku dan teman-temanku yang saat itu sedangvmemberi dukungan. "Hey, tidak adakah gadis lain yang bisa menemaniku memenangkan pinata party ini?" . Dia bertanya kepada semua yang ada disana saat itu. Aku sangat ingin bersuara, "Ya,aku mau. Ayo kita lakukan". Tapi betapa pecundang nya aku. Aku tidak berani bersuara. Hingga akhirnya mereka lah yang memainkan pinata party itu. Aku sedikit iri kepada temanku. Seharusnya aku lah yang berada disana bersama Dia.

Aku pergi meninggalkan acara yang sebelumnya menarik menjadi membosankan saat mereka berdua bermain. Aku sangat kesal. Mengapa aku sebegitu pengecutnya. Mengapa aku tidak berani menggapai apa yang aku inginkan. Tuhan telah memberi ku kesempatan. Hanya saja aku yang bodoh karena tidak bisa memanfaatkanya dengan baik. Menyesal? Untuk apa menyesal! Semua telah terlambat. Aku merutuk pada diriku.

Teman-teman ku tidak ada yang tahu bahwa aku sangat ingin bermain pinata party dengan Dia. Sungguh. Aku hanya bisa memendam rasa kesal ini sendiri. Seharusnya saja aku berani mengatakan bahwa, "YES. I WANT. I WANT DO IT WITH YOU". Aku pasti tidak akan merasa dongkol seperti ini. Bukan tanpa alasan. Aku hanya takut akan penolakan dari Dia. Bagaimana jika Dia mengundurkan diri saat aku menawarkan diri? Itu akan membuat aku malu dan merasa aku telah ditolak.

Sudahlah. Semua telah berlalu. Tidak akan terulang kembali. Aku berjanji kepada diriku sendiri, aku harus berani. Dan aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberi ku kesempatan. Tapi maafkan aku karena aku tidak memanfaatkan nya dengan baik. Terima kasih dan maaf Tuhan.

Sunday, September 29, 2013

Weird Friendship

                Sungguh menyedihkan jika kita hanya bisa mendukung seseorang dari kejauhan. Dan orang yang kita dukung itu tidak pernah tahu bahwa kita yang selalu mendukungnya. Aku lah orang menyedihkan itu.
                Ulang tahun sekolah di tahun terakhir ku di masa putih abu. Masih teringat jelas, di setiap lomba yang dia ikuti, aku adalah orang pertama yang stand-by sebelum teman-temanku datang. Aku adalah orang pertama yang berdiri dari kejauhan untuk memberikan nya semangat. Saat itu ia sempat melihatku, tapi ia tidak menghiraukan aku. Dan betapa menyakitkan, setelah selesai mengikuti lomba, ia tidak datang kepadaku, tetapi kepadaku ex orang yang dulu sempat dekat dengannya, tapi bukan pacar. Mirisnya lagi, gadis itu adalah teman ku. Aku hanya bisa tersenyum pahit. Di lain waktu, dia juga mengikuri suatu lomba. Lomba cerdas cermat kimia. Dan saat itu aku juga adalah orang pertama yang menonton nya. Ketika ia tidak bisa menjawab soal, akulah orang pertama yang khawatir. Saat ia menggaruk-garuk kepala jika tidak mendapat jawaban, akulah orang pertama yang bingung memikirkan apa jawabannya. Tapi selalu terulang kembali, dia tidak pernah sekalipun melihat gerak-gerikku. Sekali dua kali, aku pernah beradu pandangan mata dengannya. Saat itu aku sedang menatapnya, mungkin ia merasa ada orang yang terus menatapnya, sehingga ia menoleh padaku, dan pandangan mata kami beradu. Aku langsung mengalihkan pandangan mataku. Sangat pengecut.
                Nyaman. Itu hal yang aku rasakan saat berada disampingmu. Ya, kami memang teman, walaupun tidak terlalu dekat. Terkadang aku bersenda gurau dengannya, berdiskusi bersama. Sore itu, aku sedang kesusahan memperbaiki dan mengecat ulang pigura Presiden yang rusak. Dia datang, dan langsung mengambil kuas dan membantuku. Dia hanya sempat menggodaku sekali.
“Bodoh, hal kecil begini saja kau tidak mampu melakukan nya. Dasar..” .
Tapi aku tau dia tidak serius. Karena setelah berkata begitu, dia mencoretkan cat ke lenganku. Kami tertawa sebentar, lalu bekerja dalam sunyi. Bukan kesunyian yang membosankan. Tapi kesunyian yang benar-benar… Bermakna. Entah mengapa, aku ataupun dia, terkadang agak canggung dalam berbicara. Jika aku, wajar saja. Karena aku memiliki suatu perasaan khusus dengannya. Tapi dia? Entahlah.. Kami mengecat dalam diam, terkadang hanya ada celetukan dari nya atau pun aku yang sangat sederhana. Nyaman adalah saat dimana kita tidak saling berbicara panjang lebar tentang sesuatu, tapi berbicara from heart to heart. Nyaman adalah bukan dimana kita bersebelahan, saling memandang, slaing bergandengan tangan, tetapi kau dan aku bersebelahan, saling menikmati kebersamaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dan nyaman iitu bukanlah bersama dalam waktu yang lama, tetapi tidak ada hal yang bermakna, melainkan, walaupun hanya 15 menit, tapi 15 menit itu sangatlah berkesan. It’s mean of comfort.
Terkadang, bahkan sering, aku merasa sedikit jealous. Bukan tanpa alasan, karena setiap perlakuanmu pada gadis itulah yang secara spontan membuat bara api yang ada di dalam tubuhku menyala. Saat berada di dekatmu, jantungku tidak sedang jumplalitan, bahkan deg-deg an. Biasa saja. Tapi ketika kau menggodaku, disanalah detak jantungku langsung berdetak lebih cepat dari biasa nya. Seperti pada suatu pagi, kau selalu berada di dekatnya, bagaimana aku tidak panas? Langsung saja aku menyanyikan sebuah lagu yang liriknya berisi sebuah kata ‘cemburu’ . Tapi tak tahu kenapa, dia bisa merasakan bahwa lagu itu ditujukkan untuknya. Aneh tapi nyata. Dan kejadian ini sering terjadi. Dan jika sudah seperti itu, tak lama kemudian, dia segera mencari masalah denganku, membuat ku kesal, dan menggodaku. Aneh kan? Bahkan pernah sekali waktu, dia menjambakku. Aku tidak tahu dia bercanda atau serius, karena setelah itu aku memberikan sebuah kenangan manis di pipi nya berupa cap tangan ku. Dia tidak marah, dia hanya tertawa dengan lebarnya.
Tapi tidak selalu dan setiap hari kami seperti itu. Berlaku seperti orang yang amat lebay itu. Adakalanya aku dan dia bagaikan orang asing,. TIdak pernah berbicara. Ya, tepat setelah ulang tahun sekolah berakhir. Aku dan dia tidak pernah lagi salimg bercanda, bahkan saling menjahili satu sama lain. Aku dengannya seperti tidak saling kenal.

Entah apa akhir dari hubungan kita yang aneh ini. Tetap teman, menjadi orang asing atau bahkan saling mencintai? Entah… Aku bukan peramal yang bisa meramalkan akhir dari suatu hubungan seseorang. Aku hanya bisa menerka-nerka apa yang mungkin terjadi esok hari. Hati kevcilku sedikit berharap untuk bisa bersamamu, cukup sebagai teman biasa. Tidak lebih. Atau mungkin aku selalu menjadi supporter setia tanpa kau ketahui? Whats ending of our story?