Sungguh,
ini kesekian kalinya aku mengeluhkan keadaan ku yang semakin hari semakin
miris, hubungan kita yang tidak kunjung membaik, dan hubungan kita yang semakin
hari semakin merenggang. Semakin tidak ada sepatah kata yang terucap antara
kita jika kita bertemu. Jangankan untuk berkata ‘hai’, jika kita bertemu, kita
hanya saling membuang muka. Kau yang memulai membuang muka ketika mata kita
bertemu. Aku hanya berlaku sebagai cermin. Apa yang kau lakukan padaku, aku
balikkan kembali. Bukan hanya sekali dua kali mata kita bertemu dan terdiam
untuk beberapa saat. Dan bukan hanya sekali dua kali kita saling membuang muka.
Aku sangat tak menyangka bahwa kita akan menjadi asing separah ini. Aku tidak
pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Karena aku tidak pernah terpikirkan
ini akan terjadi, ini semua karena dahulu kita sangat lah manis. Aku hanya
tidak habis pikir, semua nya hanya berlalu begitu saja. Seolah-olah semua itu
tidak pernah terjadi.
Hingga
detik ini, aku sendiri tidak tahu apa akar dari permasalahan kita. Apa penyebab
dari merenggang nya hubungan manis kita terdahulu. Aku pun tidak tahu, apa yang
membuatmu begitu mudah untuk menyingkirkan aku dari otak mu. Apakah hari-hari
yang pernah kita lalui dulu hanya bagian dari permainan mu saja? Apa memang ini
tujuanmu? Menyakiti aku setelah kau memberi aku harapan? Apa memang kau senang
melihat seorang gadis terluka karena mu? Jika memang itu tujuan mu, selamat,
kau telah berhasil membuat ku menjadi gadis yang sangat rapuh saat ini.
Sudah
terlampau sering kau mengabaikan kehadiranku. Hari itu, aku sangat ingat, Sabtu
terakhir di bulan April. Saat kau melintas dihadapanku dan terus berlalu tanpa
menyadari kehadiranku di hadapanmu. Apakah kau tahu, bagaimana rasanya
diabaikan seperti itu? Sungguh, aku benar-benar merasakan seluruh kerja tubuhku
terhenti. Aku hanya menatap punggungmu yang berlalu dengan tatapan nanar. Menangis?
Tidak. Aku tidak menangis. Air mata ini telah habis. Aku hanya menatap langkah
mu dengan tatapan kosong. Ada secercah harapan agar kau menoleh kebelakang dan
menyadari kehadiranku. Tapi inilah kehidupan nyata, tidak selalu terjadi sesuai keinginan. Dan kau tetap
berlalu tanpa peduli akan hadirnya aku.
Baru-baru
ini, kita sempat bertemu. Aku yakin pada saat itu kau melihat kehadiran diriku.
Bagaimana tidak, saat itu sedang bubaran sekolah. Karena sangat ramai sesak,
kita berjalan bersebelahan. Awalnya aku tidak menyadari kehadiran dirimu. Tapi aku
berbeda denganmu. Ingat itu. Aku langsung mengalih kan pandanganku, dan
memandang siapa sosok yang berdiri disebelahku. Dan itu kamu. Dan saat itu pula
kamu menoleh kesebelah. Mata kita bertemu. Aku tidak tahu mengapa otot-otot di
sekitar mulutku ini sering bekerja sendiri. Senyuman tipis mengembang begitu
saja di wajahku. Dan waktu itu, aku berpikir bahwa mungkin kerja otot mu sudah
rusak. Apakah kau tidak pernah belajar tata krama? Apa nilai budi pekertimu
jelek? Tidak adakah orang yang mengajarimu untuk membalas senyuman orang? Tak
tahukah kau betapa malunya aku? Aku dengan senang hati melemparkan sebuah
senyuman manis, tetapi selalu saja. Selalu saja kau menganggapku tak ada.
Seolah-olah aku hanya angin lewat. Apa aku harus berubah jadi monster agar aku
terlihat olehmu?
Tidak
ingatkah kau akan sapaan pagi-siang-malam kita di percakapan manis kita di
pesan singkat maupun di jejaring sosial? Aku masih menyimpan percakapan kita
terdahulu. Memang benar kata orang-orang. Jika kita rindu akan seseorang,
membaca kembali percakapan kita terdahulu akan mengobati rasa rindu kita. Dan itu benar. Itulah yang sering
aku lakukan belakangan ini. Ya, memang tidak dapat dipungkiri, kita memang
sangat mesra, dulu. Berbagai macam kalimat ber majas hiperbola sering kau
tuliskan untukku. Dan aku menyukainya. Perdebatan kecil diantara kita menjadi
bumbu yang membuat kebersamaan kita lebih bermakna. Kata-kata ‘bodoh’, ‘woy’,
dan segala macamnya sering kau lontarkan kepadaku. Ah, aku sungguh merindukan ‘kita’
yang sangat manis seperti dulu. Mungkin hal-hal manis seperti itu tidak akan pernah
terulang kembali. Mungkin karena posisiku yang dulu telah tergantikan oleh
gadis lain. Yang mungkin lebih asik untuk diajak berdebat kecil denganmu. Ya,
aku selalu tersingkirkan seperti sediakala. Mau apa lagi, aku bukan
siapa-siapa. Tidak berhak melarang apa yang ingin kau lakukan. Jika kau bisa,
aku pasti bisa juga kan? Seharusnya seperti itu. Tapi ingat, ini kenyataan. Aku
masih belum bisa…
No comments:
Post a Comment