Sunday, June 2, 2013

Takkan Terulang Kembali

                Sungguh, ini kesekian kalinya aku mengeluhkan keadaan ku yang semakin hari semakin miris, hubungan kita yang tidak kunjung membaik, dan hubungan kita yang semakin hari semakin merenggang. Semakin tidak ada sepatah kata yang terucap antara kita jika kita bertemu. Jangankan untuk berkata ‘hai’, jika kita bertemu, kita hanya saling membuang muka. Kau yang memulai membuang muka ketika mata kita bertemu. Aku hanya berlaku sebagai cermin. Apa yang kau lakukan padaku, aku balikkan kembali. Bukan hanya sekali dua kali mata kita bertemu dan terdiam untuk beberapa saat. Dan bukan hanya sekali dua kali kita saling membuang muka. Aku sangat tak menyangka bahwa kita akan menjadi asing separah ini. Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Karena aku tidak pernah terpikirkan ini akan terjadi, ini semua karena dahulu kita sangat lah manis. Aku hanya tidak habis pikir, semua nya hanya berlalu begitu saja. Seolah-olah semua itu tidak pernah terjadi.
                Hingga detik ini, aku sendiri tidak tahu apa akar dari permasalahan kita. Apa penyebab dari merenggang nya hubungan manis kita terdahulu. Aku pun tidak tahu, apa yang membuatmu begitu mudah untuk menyingkirkan aku dari otak mu. Apakah hari-hari yang pernah kita lalui dulu hanya bagian dari permainan mu saja? Apa memang ini tujuanmu? Menyakiti aku setelah kau memberi aku harapan? Apa memang kau senang melihat seorang gadis terluka karena mu? Jika memang itu tujuan mu, selamat, kau telah berhasil membuat ku menjadi gadis yang sangat rapuh saat ini.
                Sudah terlampau sering kau mengabaikan kehadiranku. Hari itu, aku sangat ingat, Sabtu terakhir di bulan April. Saat kau melintas dihadapanku dan terus berlalu tanpa menyadari kehadiranku di hadapanmu. Apakah kau tahu, bagaimana rasanya diabaikan seperti itu? Sungguh, aku benar-benar merasakan seluruh kerja tubuhku terhenti. Aku hanya menatap punggungmu yang berlalu dengan tatapan nanar. Menangis? Tidak. Aku tidak menangis. Air mata ini telah habis. Aku hanya menatap langkah mu dengan tatapan kosong. Ada secercah harapan agar kau menoleh kebelakang dan menyadari kehadiranku. Tapi inilah kehidupan nyata, tidak selalu  terjadi sesuai keinginan. Dan kau tetap berlalu tanpa peduli akan hadirnya aku.
                Baru-baru ini, kita sempat bertemu. Aku yakin pada saat itu kau melihat kehadiran diriku. Bagaimana tidak, saat itu sedang bubaran sekolah. Karena sangat ramai sesak, kita berjalan bersebelahan. Awalnya aku tidak menyadari kehadiran dirimu. Tapi aku berbeda denganmu. Ingat itu. Aku langsung mengalih kan pandanganku, dan memandang siapa sosok yang berdiri disebelahku. Dan itu kamu. Dan saat itu pula kamu menoleh kesebelah. Mata kita bertemu. Aku tidak tahu mengapa otot-otot di sekitar mulutku ini sering bekerja sendiri. Senyuman tipis mengembang begitu saja di wajahku. Dan waktu itu, aku berpikir bahwa mungkin kerja otot mu sudah rusak. Apakah kau tidak pernah belajar tata krama? Apa nilai budi pekertimu jelek? Tidak adakah orang yang mengajarimu untuk membalas senyuman orang? Tak tahukah kau betapa malunya aku? Aku dengan senang hati melemparkan sebuah senyuman manis, tetapi selalu saja. Selalu saja kau menganggapku tak ada. Seolah-olah aku hanya angin lewat. Apa aku harus berubah jadi monster agar aku terlihat olehmu?

                Tidak ingatkah kau akan sapaan pagi-siang-malam kita di percakapan manis kita di pesan singkat maupun di jejaring sosial? Aku masih menyimpan percakapan kita terdahulu. Memang benar kata orang-orang. Jika kita rindu akan seseorang, membaca kembali percakapan kita terdahulu akan mengobati rasa rindu kita. Dan itu benar. Itulah yang sering aku lakukan belakangan ini. Ya, memang tidak dapat dipungkiri, kita memang sangat mesra, dulu. Berbagai macam kalimat ber majas hiperbola sering kau tuliskan untukku. Dan aku menyukainya. Perdebatan kecil diantara kita menjadi bumbu yang membuat kebersamaan kita lebih bermakna. Kata-kata ‘bodoh’, ‘woy’, dan segala macamnya sering kau lontarkan kepadaku. Ah, aku sungguh merindukan ‘kita’ yang sangat manis seperti dulu. Mungkin hal-hal manis seperti itu tidak akan pernah terulang kembali. Mungkin karena posisiku yang dulu telah tergantikan oleh gadis lain. Yang mungkin lebih asik untuk diajak berdebat kecil denganmu. Ya, aku selalu tersingkirkan seperti sediakala. Mau apa lagi, aku bukan siapa-siapa. Tidak berhak melarang apa yang ingin kau lakukan. Jika kau bisa, aku pasti bisa juga kan? Seharusnya seperti itu. Tapi ingat, ini kenyataan. Aku masih belum bisa…

No comments:

Post a Comment