Semua
telah berbeda. Tak sama seperti terdahulu. Kita, itu adalah sebuah kalimat yang
menggambarkan aku dan dia. Kita sangat manis, sangat hangat, ya, itu dulu.
Sebelum hari ini. Apakah sangat mudah untuk melupakn sebuah kenangan bagi dia? Semudah
itu diamenghapus semua kenangan kita yang ada sekitar 90 hari itu? Jika dia semudah
itu melupakannya, aku juga pasti bisa kan untuk melupakan mu semudah dia
melupakanku? Tapi pada kenyataannya, mengapa aku sesulit ini untuk melupakan
mu? Mungkin sewajarnya, sangat sulit untuk melupakan kenangan ini. Apakah perlu
aku jabarkan satu persatu apa saja yang telah kita lalui? Mungkin jika aku
jabarkan satu persatu, aku akan meneteskan air mata, karena aku yakin, aku
pasti akan merindukan nya.
Hari
itu, adalah hari terakhir kita. Kenangan manis kita berakhir tanpa sebab yang
jelas. Aku sendiri tidak tahu, apa yang menjadi dasar merenggangnya hubungan
kita. Aku berpikir ribuan kali, menerka-nerka apalah aku melakukan kesalahan
padamu. Tidak. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Kau yang mengatai aku
tidak seperti terdahulu. Apakah kau tidak sadar bahwa kau yang seperti itu? Ah,
jadi seperti sinetron. Kau menuduh aku,
aku menuduh kau. Lucu. Mengapa tidak aku cinta kau, kau cinta aku saja? Hahaha.
Mimpi yang mungkin tidak akan terwujudkan. Kehadiran ku saja tidak pernah kau
gubris. Apalagi berharap kau mencintaiku? Semua telah berubah 180 derajat. Kita
tak pernah lagi bertegur sapa jika bertemu. Jika bukan aku yang memulai, kau
takkan akan memulai. Kesannya, aku sebagai wanita yang sangat aktif, dan kau
pasif. Terlihat seakan aku yang lebih menginginkanmu daripada kau menginginkan
ku. Kau tidak pernah lagi berada disisiku, menghiburku dikala aku mendapat
nilai jelek, tidak ada lagi tangan mu yang terkadang menggelitiki
pinggangku,bahkan terkadang mengacak-acakkan rambutku dan mengatai aku bodoh.
Mungkin itu terlihat sepele dimatamu, tapi dimata orang yang melihat kita,
mereka pasti sangat iri. Bandingkan saja dengan sepasang kekasih. Tidak selalu
mereka seperti kita, yang tertawa bahagia setiap bertemu. Tapi KITA? Kita
memang bukan sepasang kekasih, tetapi tingkah laku kita yang menunjukan kita
lebih dari ‘teman’. Aku sering mendengar teman-temanku berseru heboh ketika aku
menamerkan kehangatan kita kepada mereka. Dan lihat, mereka iri pada kita. Satu
lagi yang tak pernah aku lupakan. Kau yang memberi aku malam minggu
pertama.Dimasa sekolah menengah atas, aku tidak pernah tahu apa itu malam
minggu. Malam minggu selalu aku habis kan dengan ber hibernasi dirumah. Dan kau
lah, orang satu-satu nya yang pernah mengajakku merasakan apa itu malam minggu.
Hanya satu jam, bahkan tidak lebih, aku telah merasakan apa itu malam minggu. Aku
tidak butuh bermalam minggu berjam-jam,bahkan hingga tengah malam. Aku tidak
butuh bermalam minggu direstoran megah dengan makanan bintang lima, aku tidak
butuh berfoya-foya. Hanya cukup membeli makanan sederhana dan 2 gelas es the,
itu sudah cukup. Ditambah lagi, bersama mu. Aku tak peduli bahwa itu hanya satu
jam. Tapi satu jam itu sangat bermakna. Belum tentu juga orang yang bermalam
minggu berjam-jam akan memaknai malam minggu mereka.
Dan
semua bagaikan hilang begitu saja, tak berbekas. Tidak ada lagi kehangatan
antara kau dan aku. Semua telah berlalu. TIdak akan mungkin semua itu terulang
kembali. Aku sangat bersyukur karena dapat menikmati masa-masa seindah itu. Aku
bersyukur karena aku menikmati hari demi hari yang aku lalui bersamamu. Kini,
kita bagaikan dua orang asing yang tak pernah mengenal. Meninggalkan segala
kenangan manis kita terdahulu. Ah, tapi aku tidak begitu, itu hanya bagimu
saja. Aku masih sering mengingat-ingat kembali kenangan kita dulu. KArena hal
itu sangat manis untuk dilupakan. AKu sungguh tak sanggupuntuk melupakan dan
menganggapnya tidak pernah terjadi. BIarkan kenangan itu terhapus begiotu saja
di benakmu, tapi jika kau ingin mengetahui apa yang pernah terjadi tedahulu,
datanglah padaku, aku tidak pernah melupakan kenangan kita dulu. Kenangan kita
dulu, dan kamu. Aku tidak pernah melupakan nya.
No comments:
Post a Comment