Wednesday, May 8, 2013

Senandung Hujan


                Tepat sebulan sudah hubungan kita merenggang seperti ini. Tak pernah bertegur sapa layaknya tak saling kenal. Tak saling melempar senyum. Orang asing...
                Hujan.. Aku selalu percaya hujan memiliki kesan tersendiri bagi setiap orang. Tepat sore tadi, hujan lah yang menyatukan kekakuan hubungan kita. Walau tak sepenuhnya mencair, setidaknya tidak serenggang dan sekaku kemarin. Sebenarnya aku heran, sedari pagi hingga siang hari tadi, tidak ada tanda-tanda bahwa langit akan menumpahkan isi nya. Bahkan aku tidak sempat melihat adanya awan-awan hitam yang menggelayut di langit siang itu. Entah darimana datangnya, saat kita duduk bersebelahan memandang langit, hujan turun dengan derasnya. Aku dan dia saling memandang, mata kami bertemu, kami terdiam untuk beberapa saat. Mata itu, mata yang hangat. Mata yang dulu selalu membuat ku meleleh. Senyuman itu, senyuman yang selalu aku beri sebutan ‘ice breaker’. Ah, walau hampir sebulan aku tidak berkomunikasi dengannya, dia tidak banyak berubah. Dia masih seperti yang dulu... Laki-laki yang hangat. Laki-laki yang bisa membuatku tersenyum setiap saat.  Kini, setelah satu bulan aku tidak merasakan hangat dirinya, kini aku kembali merasakannya. Tepat dihari ini, di hari satu bulan kami kehilangan komunikasi. Aku membuka percakapan dengannya. Aku merasakan kecanggungan dan kekakuan di nada bicara kami. Kami layak nya dua insan yang baru saja berkenalan 5 menit yang lalu.
                Aku sangat ingin mengetahui alasan mengapa ia menjauhiku terdahulu. Tapi pertanyaan itu tak kunjung ku lontarkan padanya. Ada sedikit rasa takut saat aku menanyakannya. Aku takut dengan jawaban yang akan ia berikan. Jadi aku memilih untuk diam dan menikmati dinginnya hujan bersama dengannya. Aku mulai bercanda dengannya walau terkesan membosankan dan canggung. Mata kami sering bertemu. Aku merasakan mata kami ingin mengatakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu.
                Ah, aku sangat merindukanmu. Sangat. Apakah hanya hari ini saja kita seperti ini? Apakah esok kita akan tetap seperti hari ini? Kembali bersenda gurau, bercakap-cakap, bergosip dan melakukan hal aneh bersama. Akankah?
                Aku memikirkan berbagai macam kemungkinan. Aku terdiam menatapi butiran-butiran hujan yang mulai membasahi tanah ini. Kau pun terdiam. Kita ada dibawah hujan, terdiam dalam diam, hanya ada suara rintik hujan. Bisakah hujan lebih mencairkan suasana ini? Aku benar-benar merasa canggung, kikuk, grogi, dan segala macam perasaan saat kita baru pertama berkenalan dengan orang baru. Tapi aku tetap menghargai betapa berharganya hari ini. Akan selalu aku ingat di memori otakku ini.
                Sungguh, aku sangat berterima kasih dengan datangnya hujan hari ini. Entah berterimakasih untuk hal apa, aku hanya ingin berterima kasih. Memang benar kan, hujan memiliki senandung berbeda-beda di setiap telinga yang mendengarnya. Hujan juga membuat kenangan kita lebih terasa. Ah hujan.. Aku menyukai senandung hujan yang saat ini Ia senandungkan....

1 comment: