Monday, May 20, 2013

Terlambat Mencintai


                Menyukai seseorang itu lumrah. Saling menyukai itu wajar. Tapi jika misalkan, kita menyukai seseorang, lalu teman kita juga menyukai nya dan ia berusaha merebut orang yang kita cintai untuk mencintai nya, apakah itu wajar?

                Rara dan Mira sudah bersahabat sejak mereka masih duduk ditaman kanak-kanak. Rara sangat mirip seperti laki-laki. Sedangkan Mira sangat lembut. Mereka bagaikan dua manusia yang bertolak belakang. Tetapi persahabatan tidak mengenal perbedaan. Sejak kecil mereka selalu bersama. Hingga sampai menginjak SMA.
                Rara menaruh hati pada Kevin, laki-laki pendiam, jago eksak dan seorang ice-breaker. Rara, Kevin dan Mira sangat dekat, karena mereka pernah satu kelas saat SMP dulu. Sejak kelas satu SMA, Mira lah yang menjadi tempat Rara menyimpan rahasianya tentang Kevin. Dimana Rara selalu heboh jika melihat Kevin melewati kelasnya, saat Kevin tersenyum kepadanya. Semua ia curahkan kesenangan dan kegembiraan nya itu kepada Mira. Rara juga selalu bercerita tentang berbagai penolakan Kevin. Misalkan saja saat Rara mengajak Kevin melihat-lihat buku di toko buku dekat sekolah, Kevin selalu beralasan ada bimbel yang berarti menolak ajakan Rara secara halus.
                Kevin selalu terlihat mempesona di depan mata Rara. Kevin selalu memberikan rasa nyaman bagi Rara. Hal itu selalu Rara nikmati tiap detiknya. Tangan Kevin yang besar yang sering mengacak-acak kan rambut Rara. Mengatai Rara bahwa rambut Rara sama halusnya dengan bulu shitzu kesayangannya. Dengan begitu Rara akan mengembungkan pipi nya tanda kesal dan selalu mengundang gelak tawa dari Kevin. Kevin sering menggoda Rara, dan hal itu selalu membuat muka Rara bersemu merah. Kevin tidak tahu bahwa Rara menyayangi nya, mencintainya. Kevin tidak peka. Itu yang membuat Rara sedikit kesal. Rara sangat ingin mengungkapkan perasaannya. Tapi Rara ingat, bahwa dia adalah wanita. Sedikit aneh jika Rara mengutarakan perasaanya. Hingga perasaan itu hanya bisa terpendam di dalam hati Rara.
                Hingga saat Prom Night, atau pelepasan siswa kelas XII, Rara ingin mengutarakan perasaannya. Ia sudah tidak peduli dengan aturan bahwa ia adalah wanita. Saat itu, Rara, Mira dan Kevin sedang menikmati hidangan yang disajikan. Mereka bertiga sedang tertawa terbahak-bahak di sebuah meja yang ada dipojok. Meja itu berbentuk persegi.  Terdapat 4 kursi disana. Rara berhadapan dengan Kevin, dan Mira disebelah Kevin. Saat bersenda gurau, Kevin sering kali mengacak-acak kan rambut Mira sambil mengatai rambut Mira mirip dengan Shitzu seperti dirumahnya. Rara cemburu, geram. Rara yang melihat itu merasakan hal yang aneh. Tapi Rara tidak ingin berburuk sangka. Tatapan mata Kevin saat menatap Mira sangat beda. Susah untuk dijelaskan. Rara semakin mencium tanda-tanda keanehan. Tapi sekali lagi, Rara tidak ingin berburuk sangka. Tapi memikirkan tangan Kevin yang biasanya mengacak-acakan kepalanya itun beralih ke kepala sahabatnya, sangat membuat hati nya panas. Terbakar api cemburu.
                Rara tidak ingin menunggu lama lagi, saat ia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, Kevin memotongnya terlebih dahulu. Rara terdiam sesaat. Ia melihat Mira menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan, tebak Rara dalam hati. Hingga akhirnya, Kevin mengatakan kalimat itu dengan santainya, tanpa beban. Tanpa memikirkan hati Rara yang hancur berkeping-keping.
“Ra, aku mau ngasih tau kamu. Aku udah jadian sama Mira dari 6 bulan yang lalu. Aku sengaja ngasih tahu kamu malam ini, buat bikin kamu kaget. Hehe..”
                Rara terdiam. Ia menatap Mira, lalu menatap Kevin. Ia menatap Mira dengan tatapan penuh benci, ia menatap Kevin dengan tatapan nanar.
“Oh, udah 6 bulan ya? Selamat ya, Mira, Kevin. Langgeng terus ya.. Eh, aku mau ke toilet dulu yah..”
                Kevin menatap kepergian Rara dengan pandangan aneh. Lalu ia bertanya kepada Mira.
“Rara udah suka sama kamu semenjak kita kelas satu SMA, Vin. Aku yang salah udah ngerebut kamu dari dia. Mungkin sekarang dia benci banget sama aku..”
                Mira mulai merasa bersalah. Disatu sisi ia ingin mempertahankan persahabatannya dengan Rara, tapi disatu sisi ia sangat mencintai pria ini, pria yang juga dicintai oleh sahabatnya.
                Di toilet, Rara menyesali ketakutannya untuk mengutarakanj perasaanya. Sekarang, semuanya telah terlambat. Kevin dan Mira tidak mungkin dipisahkan. Rara merasa diri nya bodoh, mengapa ia tidak menyatakannya sedari dulu, jika sedari dulu ia utarakan, mungkin Kevin tidak pernah memegang kepala Mira di depan mata nya tadi.
                Rara memutuskan meninggalkan acara Prom Night itu, ia ingin pulang kerumah. Saat sesampainya diluar, hujan deras menghambat langkah nya untuk pulang.
“Hujan, aku selalu benci hujan” Rara pun berjongkok menekuk lutut, menangis sesenggukan. Hujan meredam suara tangisnya. Semua telah terlambat.
                Utarakan lah perasaan mu kepada orang yang kau cintai secepatnya. Lupakanlah derajat mu sebagai wanita, waktu bisa mengubah segalanya. Waktu bisa merebut apa yang ingin kita miliki. Sahabat bisa mengambil apa yang kita inginkan jika kita tidak mengenal siapa dia. Ingat, sebelum semua terlambat. Terlambat...

No comments:

Post a Comment