Menunggu
itu memang selalu membosankan. Setuju? YA, aku sangat setuju dengan kalimat
itu. Menunggu adalah hal yang sangat aku benci. Menunggu itu tak kenal waktu,
bisa saja satu menit, satu jam, satu minggu, satu tahun, bahkan bertahun-tahun!
Aku tidak akan menunggu bila saja aku tidak mengharapkan kehadiranmu.
Hari
ini adalah malam minggu pertama bagi ku, remaja yang baru menginjak usia 17
tahun. Malam minggu sebelum-sebelumnya, aku selalu menghabiskan waktu untuk
bermalas-malasan dirumah, menonton televisi, bermain game online, bahkan
terkadang bermain basket di halaman belakang rumahku. Kali ini adalah malam
minggu pertama ku, bukan bersama kekasihku, tetapi bersama dengan orang yang
selama ini aku cintai secara diam-diam. Dia berjanji menjemputku di halte dekat
rumahku, yang berjarak sekitar 1km. Aku menyuruh nya menjemput disana agar
tidak ketahuan oleh orang tuaku.
Aku
berdandan ala kadarnya, baju t-shirt dan celana jins dan sneakers berwarna
merah hitam yang senada dengan pakaian yang aku kenakan. Ya, aku memang selalu
santai, cuek dengan penampilan. Rambutku aku ikat kuncir kuda ala kadarnya. Aku
memakai jam G-shock kesayanganku dan tas ransel Domo kesayanganku. Aku pun
beralasan ingin membeli buku kepada orang tua ku. Jam di tangan ku sudah menunjukan
pukul 6 sore waktu setempat. Aku berjalan keluar dari kompleks rumahku.
Tiba-tiba hujan turun. Pertama hanya rintik-rintik, lalu semakin deras dan
semakin deras. Memang akhir-akhir ini sering terjadi hujan yang tidak terduga. Bahkan
ramalan cuaca pun terkadang tidak tepat. Aku langsung berlari layaknya lomba
lari marathon. Aku merasakan derai hujan semakin deras. Langit menumpahkan
semua isinya. Sial, sepatu sneakers kesayanganku hari ini malah kotor. Setelah
15 menit berlari, akhirnya aku sampai di halte. Sepi. Hanya ada aku seorang.
Mungkin kebanyakan orang hanya ingin berdiam diri dirumah saat hujan turun.
Begitu pun aku. Jika saja Dia tidak mengajakku malam mingguan, aku pasti akan
tidur dirumah, mengambil selimut dan mendengarkan musik. Hah...
Sudah
hampir satu jam aku menunggu, menghitung ratusan kendaraan yang berlalu lalang
di bawah hujan. Tapi Dia tak kunjung datang. Badanku menggigil, kedinginan. Aku
hanya berharap ia segera datang. Aku sudah sangat lapar, lelah untuk berdiri.
Aku melihat jam tanganku untuk kesekian kali. Detik demi detik terus berlalu.
Hujan tidak kunjung reda. Mengapa menunggu itu terasa sangat membosankan?
Menunggu dibawah hujan sendirian, sungguh miris. Aku menghubungi telefon
genggam mu, tapi tidak tersambung. Ah, aku benci! Aku pun memutuskan menembus
hujan dan berlari kecil menuju tempat kita menikmati malam minggu ini.
Sesampainya
disana, restoran kecil itu terlihat sepi. Hanya ada satu-dua orang pengunjung
yang sedang menikmati makanannya. Hujan semakin deras saja diluar. Aku pun
memutuskan duduk di sebuah meja di pojok di sebelah jendela. Aku memesan
segelas teh hangat dan mi goreng yang terkenal enak di restoran ini. Aku terus
menunggu hingga jam di tanganku menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aku
pun tetap menunggu sambil menikmati hidangan yang ada didepanku ini. Tapi entah
mengapa masakan direstoran ini jadi terasa aneh, hambar. Hujan tak kunjung
henti, aku tak kunjung henti menantimu. Sungguh, aku sangat benci menanti hal
yang tak kunjung datang seperti ini. Aku sudah amat bosan menanti. Hingga aku
memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki seperti saat tadi aku datang ke
restoran ini. Aku benci hujan yang seperti ini. Aku benci menunggu.
Sesampainya
dirumah, rumahku telah sepi. Kedua orang tua ku telah tidur rupanya. Aku
memutuskan untuk langsung ke kamarku. Aku menuju ke kamar mandi untuk mandi
sekaligus berganti baju. Baju ku sudah sangat basah. Selesai mandi, aku
mendapati telepon genggamku bergetar beberapa kali. Ternyata ada 3 pesan
singkat yang masuk, semua nya dari Dia.
“Maaf, hari ini aku ada acara mendadak. Aku
tidak bisa menghubungimu. Telepon ku rusak. Maafkan aku. Maaf aku membuatmu
menunggu. Maaf aku tidak bisa memberitahu mu lebih awal. Dari: Dia”
Aku
berjanji bahwa aku tidak akan mau menunggu lagi jika selalu berakhir seperti
ini. Palsu.
No comments:
Post a Comment