Monday, May 20, 2013

Menunggu Hujan


                Menunggu itu memang selalu membosankan. Setuju? YA, aku sangat setuju dengan kalimat itu. Menunggu adalah hal yang sangat aku benci. Menunggu itu tak kenal waktu, bisa saja satu menit, satu jam, satu minggu, satu tahun, bahkan bertahun-tahun! Aku tidak akan menunggu bila saja aku tidak mengharapkan kehadiranmu.

                Hari ini adalah malam minggu pertama bagi ku, remaja yang baru menginjak usia 17 tahun. Malam minggu sebelum-sebelumnya, aku selalu menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan dirumah, menonton televisi, bermain game online, bahkan terkadang bermain basket di halaman belakang rumahku. Kali ini adalah malam minggu pertama ku, bukan bersama kekasihku, tetapi bersama dengan orang yang selama ini aku cintai secara diam-diam. Dia berjanji menjemputku di halte dekat rumahku, yang berjarak sekitar 1km. Aku menyuruh nya menjemput disana agar tidak ketahuan oleh orang tuaku.
                Aku berdandan ala kadarnya, baju t-shirt dan celana jins dan sneakers berwarna merah hitam yang senada dengan pakaian yang aku kenakan. Ya, aku memang selalu santai, cuek dengan penampilan. Rambutku aku ikat kuncir kuda ala kadarnya. Aku memakai jam G-shock kesayanganku dan tas ransel Domo kesayanganku. Aku pun beralasan ingin membeli buku kepada orang tua ku. Jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 6 sore waktu setempat. Aku berjalan keluar dari kompleks rumahku. Tiba-tiba hujan turun. Pertama hanya rintik-rintik, lalu semakin deras dan semakin deras. Memang akhir-akhir ini sering terjadi hujan yang tidak terduga. Bahkan ramalan cuaca pun terkadang tidak tepat. Aku langsung berlari layaknya lomba lari marathon. Aku merasakan derai hujan semakin deras. Langit menumpahkan semua isinya. Sial, sepatu sneakers kesayanganku hari ini malah kotor. Setelah 15 menit berlari, akhirnya aku sampai di halte. Sepi. Hanya ada aku seorang. Mungkin kebanyakan orang hanya ingin berdiam diri dirumah saat hujan turun. Begitu pun aku. Jika saja Dia tidak mengajakku malam mingguan, aku pasti akan tidur dirumah, mengambil selimut dan mendengarkan musik. Hah...
                Sudah hampir satu jam aku menunggu, menghitung ratusan kendaraan yang berlalu lalang di bawah hujan. Tapi Dia tak kunjung datang. Badanku menggigil, kedinginan. Aku hanya berharap ia segera datang. Aku sudah sangat lapar, lelah untuk berdiri. Aku melihat jam tanganku untuk kesekian kali. Detik demi detik terus berlalu. Hujan tidak kunjung reda. Mengapa menunggu itu terasa sangat membosankan? Menunggu dibawah hujan sendirian, sungguh miris. Aku menghubungi telefon genggam mu, tapi tidak tersambung. Ah, aku benci! Aku pun memutuskan menembus hujan dan berlari kecil menuju tempat kita menikmati malam minggu ini.
                Sesampainya disana, restoran kecil itu terlihat sepi. Hanya ada satu-dua orang pengunjung yang sedang menikmati makanannya. Hujan semakin deras saja diluar. Aku pun memutuskan duduk di sebuah meja di pojok di sebelah jendela. Aku memesan segelas teh hangat dan mi goreng yang terkenal enak di restoran ini. Aku terus menunggu hingga jam di tanganku menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aku pun tetap menunggu sambil menikmati hidangan yang ada didepanku ini. Tapi entah mengapa masakan direstoran ini jadi terasa aneh, hambar. Hujan tak kunjung henti, aku tak kunjung henti menantimu. Sungguh, aku sangat benci menanti hal yang tak kunjung datang seperti ini. Aku sudah amat bosan menanti. Hingga aku memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki seperti saat tadi aku datang ke restoran ini. Aku benci hujan yang seperti ini. Aku benci menunggu.
                Sesampainya dirumah, rumahku telah sepi. Kedua orang tua ku telah tidur rupanya. Aku memutuskan untuk langsung ke kamarku. Aku menuju ke kamar mandi untuk mandi sekaligus berganti baju. Baju ku sudah sangat basah. Selesai mandi, aku mendapati telepon genggamku bergetar beberapa kali. Ternyata ada 3 pesan singkat yang masuk, semua nya dari Dia.

“Maaf, hari ini aku ada acara mendadak. Aku tidak bisa menghubungimu. Telepon ku rusak. Maafkan aku. Maaf aku membuatmu menunggu. Maaf aku tidak bisa memberitahu mu lebih awal. Dari: Dia”

       Aku berjanji bahwa aku tidak akan mau menunggu lagi jika selalu berakhir seperti ini. Palsu.

No comments:

Post a Comment