Monday, May 20, 2013

Gula yang Sangat Manis seperti Sianida


Sekolah pagi hari ini masih sangat sepi. Terlihat tukang kebun disekolah saja yang sudah amat sibuk pada pagi hari ini. Memang tak biasanya aku datang ke sekolah sepagi ini. Jika teman-temanku melihat kehadiran ku sepagi ini, pasti mereka akan sangat kaget bahkan mungkin ada yang langsung pingsan melihatku. Wajar saja aku berkata begitu, biasanya aku datang ke sekolah tepat saat bel masuk berbunyi. Atau paling pagi 5 menit sebelum bel berbunyi. Itupun aku baru menginjakkan kaki disekolah. Jika dihitung perjalanan dari gerbang ke sekolah ke kelas, 5 menit itu tidak ada apa-apanya. Lihat sekarang, di pagi ini, aku sudah berada disekolah 1 jam sebelum bel masuk berbunyi. Betapa rajinnya aku pagi ini. Selain karena hari ini adalah hari pertama ujian nasional, hari ini, pagi ini aku juga ingin belajar matematika sekali lagi sebelum ujian nasional dimulai. Aku melangkahkan kaki ku ke kantin sekolah yang masih sangat sepi. Berbagai macam makanan kecil masih bertumpuk-tumpuk karena belum terjamah oleh ratusan siswa siswi disini yang pada siang hari bagaikan macan kelaparan. Aku memutuskan duduk di sebuah bangku di pojokkan yang menhadap ke lapangan sekolah. Aku sengaja mengambil tempat duduk disana agar aku bisa melihat jikalau temanku datang. Aku sangat benci kesendirian seperti ini. Sangat sepi. Aku butuh teman bicara.
Apakah mungkin karena ini pertama kali nya aku datang pagi ke sekolah, Tuhan mendengar doa ku dan langsung mengabulkan nya. Di hadapanku kini, ada seseorang yang biasanya selalu ku lihat dari kejauhan, tetapi kali ini ia ada dihadapanku. Hanya enam puluh centimeter mungkin jarak yang tercipta antara aku dan dia. Laki-laki yang selama ini selalu aku lihat senyuman nya dari kejauhan. Orang yang selama ini aku perjuangkan, laki-laki yang tetap ada di benakku meskipun kehadiranku diabaikan. Dia lah yang akhir-akhir ini berhasil membuat otak ku dipenuhi oleh diri nya sendiri. Laki-laki yang dulu sangat dekat dengan ku, tetapi menghilang secara mendadak tanpa ada ucapan selamat tinggal atau semacamnya. DIA. Intinya dia yang merusak sistem kerja tubuhku karena setiap malam memikirkan dirinya. Semua sistem imun ditubuhku sempat drop karena nya. Dan saat ini, detik ini, ia hadir lagi tepat dimana aku sedang membutuhkan teman bicara. Mengapa harus dia? Dahulu, saat aku mulai menyayangi mu, kau pergi tanpa meninggalkan sepatah dua patah kata padaku. Saat ini, ketika aku hamper berhasil untuk menghapus semua memori otakku tentang dirimu, kau hadir kembali. Tidakkah kau memikirkan aku yang sangat amat tersiksa dengan kehadiran mu yang seperti angin putting beliung ini? Datang selalu tak terduga dan berhasil mengobrak-abrik isi hatiku. Lalu pergi begitu saja meninggalkan luka yang sangat perih. Aku benci, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku menyukai kehadiranmu saat ini. Aku hanya mampu melemparkan senyum kecutku saja. Tapi mengapa kau meresponnya dengan sangat berlebihan? Kau bisa membalas sapaanku tanpa harus mengacak-acakkan rambutku seperti ini. Hal yang mengundang ribuan memori tentang mu muncul kembali di otakku. Ah, memang benar bahwa cinta itu selalu memaafkan. Aku menurunkan sedikit emosi yang sempat muncul bersamaan dengan kehadiranmu tadi.
Dia menanyakan mengapa aku datang sangat pagi pada hari ini. Aku jelas mengatakan bahwa aku memang berniat masuk amat pagi saat ujian nasional. Dan aku berterus terang bahwa aku sangat kesulitan menjawab soal limit ini. Aku langsung saja mengalihkan pembicaraan agar aku tidak terlihat grogi. Rupanya dia membantu ku menjawab soal limit yang aku tidak mengerti tadi. Bahkan ia sempat-sempatnya menjelaskan bagaimana hasil itu ia dapatkan. Mengapa aku bisa lupa bahwa kau sangat pintar dalam matematika ya? Mungkin ini efek dari mengurangnya sistem kekebalan tubuhku. Secara tidak langsung, aku pun menanyakan semua soal-soal yang kemarin aku tidak mengerti. Dan dengan sabarnya kau menjelaskan semua padaku. Aku paham betul semua yang kau jelaskan. Padahal kemarin malam, soal-soal limit trigonometri, limit tak terhingga dan segala macamnya sangat sulit tercerna di dalam otakku. Tapi kini, soal itu sangat mudah, lebih mudah dibandingkan menghitung satu ditambah satu. Kehadiran mu cukup menghangatkan ku, otakku, dan tubuhku. Perlahan, semua akan kembali seperti dulu. Ah, laki-laki ini memang yang tak pernah bisa kulupakan.
Waktu pun terus berlalu, 15 menit lagi pun ujian nasional akan dimulai. Aku sudah sangat siap dengan semua materi yang kemarin malam aku pelajari dan yang baru saja aku pelajari. Aku dan dia pun segera meninggalkan kantin karena sebentar lagi ujian akan dimulai. Tapi seandainya aku tidak meninggalkan kantin bersamaan dengan dia, mungkin aku tidak akan melihat kejadian yang cukup mengenaskan bagi hati ku ini. Saat kami akan berpisah karena memang kami berbeda ruangan, aku melihat seorang gadis yang sangat amat aku kenal, dia angkatan di bawah kami. Adik kelas. Aku melihat dari sudut mataku, laki-laki itu menyambut kehadiran gadis itu dengan senyuman yang mengembang dari bibir nya. Laki-laki itu sempat menoleh kearahku sambil berjalan berdampingan dengan gadis itu. Aku sempat melihat mulutnya mengucapkan sebuah kalimat dengan volume suara yang sangat kecil, seperti berbisik. Mungkin artinya, ‘Ini pacar baru ku, nanti aku kenalin ke kamu, sahabat ku’
Ternyata aku hanya sahabat? Haha.. Aku pun hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan mereka. Aku tidak menangis. Tidak bisa menangis. Aku berjalan menuju ruanganku dengan pandangan kosong. Memang aku tidak menangis, tapi siapa yang tahu isi hatiku? Aku ibaratkan telah terbang diangkasa, lalu jatuh terhempas begitu saja. Mengenaskan. Sedih sekali aku ini. Ibaratkan sebuah gula yang terasa sangat manis di lidahku, tetapi sangat mematikan bagaikan sianida di tenggorokanku.

No comments:

Post a Comment