Sekolah pagi hari ini masih sangat
sepi. Terlihat tukang kebun disekolah saja yang sudah amat sibuk pada pagi hari
ini. Memang tak biasanya aku datang ke sekolah sepagi ini. Jika teman-temanku
melihat kehadiran ku sepagi ini, pasti mereka akan sangat kaget bahkan mungkin
ada yang langsung pingsan melihatku. Wajar saja aku berkata begitu, biasanya
aku datang ke sekolah tepat saat bel masuk berbunyi. Atau paling pagi 5 menit
sebelum bel berbunyi. Itupun aku baru menginjakkan kaki disekolah. Jika
dihitung perjalanan dari gerbang ke sekolah ke kelas, 5 menit itu tidak ada
apa-apanya. Lihat sekarang, di pagi ini, aku sudah berada disekolah 1 jam
sebelum bel masuk berbunyi. Betapa rajinnya aku pagi ini. Selain karena hari ini
adalah hari pertama ujian nasional, hari ini, pagi ini aku juga ingin belajar
matematika sekali lagi sebelum ujian nasional dimulai. Aku melangkahkan kaki ku
ke kantin sekolah yang masih sangat sepi. Berbagai macam makanan kecil masih
bertumpuk-tumpuk karena belum terjamah oleh ratusan siswa siswi disini yang
pada siang hari bagaikan macan kelaparan. Aku memutuskan duduk di sebuah bangku
di pojokkan yang menhadap ke lapangan sekolah. Aku sengaja mengambil tempat
duduk disana agar aku bisa melihat jikalau temanku datang. Aku sangat benci
kesendirian seperti ini. Sangat sepi. Aku butuh teman bicara.
Apakah mungkin karena ini pertama
kali nya aku datang pagi ke sekolah, Tuhan mendengar doa ku dan langsung
mengabulkan nya. Di hadapanku kini, ada seseorang yang biasanya selalu ku lihat
dari kejauhan, tetapi kali ini ia ada dihadapanku. Hanya enam puluh centimeter
mungkin jarak yang tercipta antara aku dan dia. Laki-laki yang selama ini
selalu aku lihat senyuman nya dari kejauhan. Orang yang selama ini aku
perjuangkan, laki-laki yang tetap ada di benakku meskipun kehadiranku
diabaikan. Dia lah yang akhir-akhir ini berhasil membuat otak ku dipenuhi oleh
diri nya sendiri. Laki-laki yang dulu sangat dekat dengan ku, tetapi menghilang
secara mendadak tanpa ada ucapan selamat tinggal atau semacamnya. DIA. Intinya
dia yang merusak sistem kerja tubuhku karena setiap malam memikirkan dirinya.
Semua sistem imun ditubuhku sempat drop karena nya. Dan saat ini, detik ini, ia
hadir lagi tepat dimana aku sedang membutuhkan teman bicara. Mengapa harus dia?
Dahulu, saat aku mulai menyayangi mu, kau pergi tanpa meninggalkan sepatah dua
patah kata padaku. Saat ini, ketika aku hamper berhasil untuk menghapus semua
memori otakku tentang dirimu, kau hadir kembali. Tidakkah kau memikirkan aku
yang sangat amat tersiksa dengan kehadiran mu yang seperti angin putting beliung
ini? Datang selalu tak terduga dan berhasil mengobrak-abrik isi hatiku. Lalu
pergi begitu saja meninggalkan luka yang sangat perih. Aku benci, tapi aku
tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku menyukai kehadiranmu saat ini. Aku hanya
mampu melemparkan senyum kecutku saja. Tapi mengapa kau meresponnya dengan
sangat berlebihan? Kau bisa membalas sapaanku tanpa harus mengacak-acakkan
rambutku seperti ini. Hal yang mengundang ribuan memori tentang mu muncul
kembali di otakku. Ah, memang benar bahwa cinta itu selalu memaafkan. Aku
menurunkan sedikit emosi yang sempat muncul bersamaan dengan kehadiranmu tadi.
Dia menanyakan mengapa aku datang
sangat pagi pada hari ini. Aku jelas mengatakan bahwa aku memang berniat masuk
amat pagi saat ujian nasional. Dan aku berterus terang bahwa aku sangat
kesulitan menjawab soal limit ini. Aku langsung saja mengalihkan pembicaraan
agar aku tidak terlihat grogi. Rupanya dia membantu ku menjawab soal limit yang
aku tidak mengerti tadi. Bahkan ia sempat-sempatnya menjelaskan bagaimana hasil
itu ia dapatkan. Mengapa aku bisa lupa bahwa kau sangat pintar dalam matematika
ya? Mungkin ini efek dari mengurangnya sistem kekebalan tubuhku. Secara tidak
langsung, aku pun menanyakan semua soal-soal yang kemarin aku tidak mengerti.
Dan dengan sabarnya kau menjelaskan semua padaku. Aku paham betul semua yang
kau jelaskan. Padahal kemarin malam, soal-soal limit trigonometri, limit tak
terhingga dan segala macamnya sangat sulit tercerna di dalam otakku. Tapi kini,
soal itu sangat mudah, lebih mudah dibandingkan menghitung satu ditambah satu.
Kehadiran mu cukup menghangatkan ku, otakku, dan tubuhku. Perlahan, semua akan
kembali seperti dulu. Ah, laki-laki ini memang yang tak pernah bisa kulupakan.
Waktu pun terus berlalu, 15 menit
lagi pun ujian nasional akan dimulai. Aku sudah sangat siap dengan semua materi
yang kemarin malam aku pelajari dan yang baru saja aku pelajari. Aku dan dia
pun segera meninggalkan kantin karena sebentar lagi ujian akan dimulai. Tapi
seandainya aku tidak meninggalkan kantin bersamaan dengan dia, mungkin aku tidak
akan melihat kejadian yang cukup mengenaskan bagi hati ku ini. Saat kami akan
berpisah karena memang kami berbeda ruangan, aku melihat seorang gadis yang
sangat amat aku kenal, dia angkatan di bawah kami. Adik kelas. Aku melihat dari
sudut mataku, laki-laki itu menyambut kehadiran gadis itu dengan senyuman yang
mengembang dari bibir nya. Laki-laki itu sempat menoleh kearahku sambil
berjalan berdampingan dengan gadis itu. Aku sempat melihat mulutnya mengucapkan
sebuah kalimat dengan volume suara yang sangat kecil, seperti berbisik. Mungkin
artinya, ‘Ini pacar baru ku, nanti aku kenalin ke kamu, sahabat ku’
Ternyata aku hanya sahabat? Haha..
Aku pun hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan mereka. Aku tidak menangis.
Tidak bisa menangis. Aku berjalan menuju ruanganku dengan pandangan kosong.
Memang aku tidak menangis, tapi siapa yang tahu isi hatiku? Aku ibaratkan telah
terbang diangkasa, lalu jatuh terhempas begitu saja. Mengenaskan. Sedih sekali
aku ini. Ibaratkan sebuah gula yang terasa sangat manis di lidahku, tetapi
sangat mematikan bagaikan sianida di tenggorokanku.
No comments:
Post a Comment