Aku
memang gampang jatuh cinta. Ya, tapi hanya sekedar cinta monyet belaka. Padahal
umurku sudah hampir menginjak 17 tahun, cukup dewasa. Tapi terkadang aku tidak
benar-benar mencintai seseorang. Mungkin sudah banyakn kakak kelas ku yang dulu
sempat aku sukai. Tak lebih dari sekedar ngefans. Dan sekarang, entah mengapa,
padahal aku dengannya hanya berteman, tapi sudah cukup banyak memori yang aku
buat dengannya. Ya, dia Bryan. Teman seperjuanganku yang bisa dibilang masuk Top 5 Wanted Boy’s disekolah ini. Bisa dibilang
aku beruntung karena aku bisa dekat
dengan Bryan. Aku tidak terlalu senang dengan laki-laki yang dianggap terkenal
disekolah ku. Karena sudah pasti, mereka sombong, dan mata keranjang. Oh iya
satu lagi, playboy! Jabatan itu selalu mengandrungi setiap laki-laki yang
dianggap Prince di sekolahku itu. Tapi berbeda dengan Bryan. Bryan sangat
berbeda dari laki-laki yang terkenal sebelumnya. Ya, walaupun memang ia dekat
dengan banyak wanita disekolah ini. Dari kakak kelas, angkatanku, dan adik
kelas. Entah apa yang menarik dari Bryan, padahal menurutku dia biasa saja. Aku
lupa kapan tepatnya kami jadi akrab seperti ini.
Bryan.. Ya, dia sempat digosipkan
menyukai adik kelas. Ada pula yang mengatakan Bryan sedang mengincar ketua PMR
disekolahku yang merupakan kakak kelas. Aku tidak peduli dengan itu semua. Ah,
buat apa aku membicarakan Bryan dengan seribu selirnya? Mending deh aku
flashback tentang kebersamaan ku sama Bryan dulu. Walaupun teman, banyak orang
yang mengatai kami telah jadian. Aku langsung saja menyangkal hal itu. Bryan
pun sepertinya tidak senang jika teman-temannya mengatai bahwa ia adalah
kekasihku. Baiklah, lupakan saja hal tidak penting itu.
Saat itu, sore hari disekolah.
Saat aku sedang mengikuti extra basket, Bryan datang bersama teman-temannya
menuju ke lapangan indoor untuk bermain bulutangkis. Mata kami sempat beradu,
tapi langsung ku alihkan tatapan mataku. Aku pun kembali konsentrasi untuk bermain basket.
Sepulang basket, aku lupa bahwa aku ada bimbel. Aku lupa menghubungi supirku
untuk menjemputku. Aku sangat takut akan berdiam diri disekolah sampai malam
karena supirku tidak menjemputku. Tiba-tiba terdengar suara motor yang sangat
khas dari dalam sekolah. Dan pemilik motor itu hanya seorang disekolahku. Bryan.
Ia
menawariku tumpangan menuju bimbel. Karena kebetulan ia juga mengikuti bimbel
ditempat yang sama tetapi beda kelas. Sesampainya di tempat bimbel, kami menuju
kelas masing-masing. Tapi aku heran dengan Bryan yang tidak masuk kelas melainkan
mengikuti ku masuk ke kelasku. Bryan pun masuk ke kelas ku dan mengambil tempat
duduk di sebelahku. Pikiranku saat itu sudah sangat bercabang. Mungkin Bryan
kesambet jin atau salah makan, karena tiba-tiba ia duduk disebelahku. Karena memang
tidak tempat lagi, mungkin hanya kebetulan saja. Hmm..
Detik
demi detik berlalu, waktu demi waktu berlalu, aku dan Bryan menghabiskan 2 jam ditempat
les itu dengan duduk berdampingan. Aku tidak tahu saat itu bahwa ada penyakit
yang menyerangku, entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Apa mungkin arteri jantungku rusak? Atau ada penyakit berbahaya lainnya?? Langsung
ku tepi semua pikrian burukku itu. Kau pasti sudah tau aku terkena penyakit apa
pada saaat itu. Jatuh cinta.
Semakin
hari, Bryan semakin sering ikut dikelasku, dan akhirnya ia memutuskan pindah ke
kelasku. Selama bimbel, ia selalu bersikap manja layaknya sepasang kekasih.
Setiap pasang mata yang melihat kami hanya tersenyum penuh arti yang tidak
perlu diucapkan oleh kata-kata. Kami seperti sepasang kekasih yang sangat
bahagia. Terkadang ia tertidur di bahuku, terkadang ia menggengam tanganku
dengan alasan tangannya dingin, terkadang ia meminjam alat tulisku, ah, semua
hanya tentangnya. Aku pun tahu apa yang ia sukai, mulai dari makanan, minuman
ringan dan segala macam. Terlalu banyak waktu yang kita habiskan bersama. Tapi tidak
ada ikatan antara kita, bukan kekasih. Ingat. Bukan kekasih.
Tapi
aku senang, cukup seperti ini pun aku bahagia, aku tidak terikat dengannya. Aku
dan Bryan sama-sama bebas melakukan apapun. Hanya saja, jika dia mulai ada
disebelahku, aku dan Bryan mulai terlihat berbeda.
Terlalu
banyak waktu dan kenangan yang kita habiskan bersama dan kita ukir. Memang aku
tidak mengharapkan lebih darimu, seperti menjadi kekasihmu. Karena aku tahu,
aku bukanlah tipemu. Tapi siapakah yang tau isi hati ini? Bahwa terkadang aku
merasakan sedikit perih ketika melihat mu bersama gadis lain? Siapa yang bisa
melarang hati ini untuk tidak jatuh cinta? Siapa juga yang tahu bahwa suatu
saat kau bisa mencintaiku? Isi hati tidak ada yang pernah mengetahui nya.
Mungkin saja wajah kita gembira, tetapi hati kita rapuh. Seperti aku saat
ini........
No comments:
Post a Comment