Wednesday, May 1, 2013

Bahagia dan juga Rapuh itu Satu Paket


                Aku memang gampang jatuh cinta. Ya, tapi hanya sekedar cinta monyet belaka. Padahal umurku sudah hampir menginjak 17 tahun, cukup dewasa. Tapi terkadang aku tidak benar-benar mencintai seseorang. Mungkin sudah banyakn kakak kelas ku yang dulu sempat aku sukai. Tak lebih dari sekedar ngefans. Dan sekarang, entah mengapa, padahal aku dengannya hanya berteman, tapi sudah cukup banyak memori yang aku buat dengannya. Ya, dia Bryan. Teman seperjuanganku yang bisa dibilang masuk Top 5 Wanted Boy’s disekolah ini. Bisa dibilang aku beruntung karena aku  bisa dekat dengan Bryan. Aku tidak terlalu senang dengan laki-laki yang dianggap terkenal disekolah ku. Karena sudah pasti, mereka sombong, dan mata keranjang. Oh iya satu lagi, playboy! Jabatan itu selalu mengandrungi setiap laki-laki yang dianggap Prince di sekolahku itu. Tapi berbeda dengan Bryan. Bryan sangat berbeda dari laki-laki yang terkenal sebelumnya. Ya, walaupun memang ia dekat dengan banyak wanita disekolah ini. Dari kakak kelas, angkatanku, dan adik kelas. Entah apa yang menarik dari Bryan, padahal menurutku dia biasa saja. Aku lupa kapan tepatnya kami jadi akrab seperti ini.
Bryan.. Ya, dia sempat digosipkan menyukai adik kelas. Ada pula yang mengatakan Bryan sedang mengincar ketua PMR disekolahku yang merupakan kakak kelas. Aku tidak peduli dengan itu semua. Ah, buat apa aku membicarakan Bryan dengan seribu selirnya? Mending deh aku flashback tentang kebersamaan ku sama Bryan dulu. Walaupun teman, banyak orang yang mengatai kami telah jadian. Aku langsung saja menyangkal hal itu. Bryan pun sepertinya tidak senang jika teman-temannya mengatai bahwa ia adalah kekasihku. Baiklah, lupakan saja hal tidak penting itu.
Saat itu, sore hari disekolah. Saat aku sedang mengikuti extra basket, Bryan datang bersama teman-temannya menuju ke lapangan indoor untuk bermain bulutangkis. Mata kami sempat beradu, tapi langsung ku alihkan tatapan mataku. Aku pun  kembali konsentrasi untuk bermain basket. Sepulang basket, aku lupa bahwa aku ada bimbel. Aku lupa menghubungi supirku untuk menjemputku. Aku sangat takut akan berdiam diri disekolah sampai malam karena supirku tidak menjemputku. Tiba-tiba terdengar suara motor yang sangat khas dari dalam sekolah. Dan pemilik motor itu hanya seorang disekolahku. Bryan.
                Ia menawariku tumpangan menuju bimbel. Karena kebetulan ia juga mengikuti bimbel ditempat yang sama tetapi beda kelas. Sesampainya di tempat bimbel, kami menuju kelas masing-masing. Tapi aku heran dengan Bryan yang tidak masuk kelas melainkan mengikuti ku masuk ke kelasku. Bryan pun masuk ke kelas ku dan mengambil tempat duduk di sebelahku. Pikiranku saat itu sudah sangat bercabang. Mungkin Bryan kesambet jin atau salah makan, karena tiba-tiba ia duduk disebelahku. Karena memang tidak tempat lagi, mungkin hanya kebetulan saja. Hmm..
                Detik demi detik berlalu, waktu demi waktu berlalu, aku dan Bryan menghabiskan 2 jam ditempat les itu dengan duduk berdampingan. Aku tidak tahu saat itu bahwa ada penyakit yang menyerangku, entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa mungkin arteri jantungku rusak? Atau ada penyakit berbahaya lainnya?? Langsung ku tepi semua pikrian burukku itu. Kau pasti sudah tau aku terkena penyakit apa pada saaat itu. Jatuh cinta.
                Semakin hari, Bryan semakin sering ikut dikelasku, dan akhirnya ia memutuskan pindah ke kelasku. Selama bimbel, ia selalu bersikap manja layaknya sepasang kekasih. Setiap pasang mata yang melihat kami hanya tersenyum penuh arti yang tidak perlu diucapkan oleh kata-kata. Kami seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia. Terkadang ia tertidur di bahuku, terkadang ia menggengam tanganku dengan alasan tangannya dingin, terkadang ia meminjam alat tulisku, ah, semua hanya tentangnya. Aku pun tahu apa yang ia sukai, mulai dari makanan, minuman ringan dan segala macam. Terlalu banyak waktu yang kita habiskan bersama. Tapi tidak ada ikatan antara kita, bukan kekasih. Ingat. Bukan kekasih.
                Tapi aku senang, cukup seperti ini pun aku bahagia, aku tidak terikat dengannya. Aku dan Bryan sama-sama bebas melakukan apapun. Hanya saja, jika dia mulai ada disebelahku, aku dan Bryan mulai terlihat berbeda.
                Terlalu banyak waktu dan kenangan yang kita habiskan bersama dan kita ukir. Memang aku tidak mengharapkan lebih darimu, seperti menjadi kekasihmu. Karena aku tahu, aku bukanlah tipemu. Tapi siapakah yang tau isi hati ini? Bahwa terkadang aku merasakan sedikit perih ketika melihat mu bersama gadis lain? Siapa yang bisa melarang hati ini untuk tidak jatuh cinta? Siapa juga yang tahu bahwa suatu saat kau bisa mencintaiku? Isi hati tidak ada yang pernah mengetahui nya. Mungkin saja wajah kita gembira, tetapi hati kita rapuh. Seperti aku saat ini........

No comments:

Post a Comment