Sebegitu
sulitkah sebuah kata ‘aku telah memaafkanmu’ terucap dari bibirmu? Apakah
karena kau memang bukan orang yang pemaaf? Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Tahukah
kau bahwa aku butuh waktu berhari-hari hanya untuk menuliskan sebuah pesan
singkat yang sangat singkat, ‘maafkan aku jika aku sempat menyakiti hatimu atau
ada sikapku yang tak karuan. Maafkan aku.’ Tahukah kau bahwa aku butuh
keberanian tinggi untuk menuliskan sebuah kalimat itu saja? Tahukah kau, aku
berkali-kali menghirup dan menghembuskan nafas hanya untuk mengetikkan kalimat
itu? Aku berharap kamu akan memberi ku sedikit kata aku telah memaafkanmu,tapi
tidak kusangka. Tidak ada jawaban darimu. Tidakkah kau memikirkan diriku yang
berjam-jam memandangi alat komunikasi ku ini? Berjam-jam pula aku menunggu
balasan darimu. Aku selalu mencoba berfikir positif, mungkin saja kau tidak memiliki
pulsa untuk membalas, baterai handphone mu habis, handphone mu rusak dan berbagai
ribuan persepsi aku coba untuk menenangkan hatiku yang tidak bisa menunggu lama
ini. Yah, dan akhirnya, setelah 5 jam menunggu, tetap nihil; tidak ada balasan.
Seketika aku langsung putus asa. Dan aku yakin, kau tidak ingin membalas pesan
singkatku itu. Betapa menyedihkannya diriku, sangat miris. Menanti hal yang tak
pasti, yang tidak tahu kapan datangnya.
Apakah
aku masih salah? Bayangkan saja, aku tidak tahu siapa yang salah diantara kita
berdua, entah aku atau kau. Tapi coba pikirkan betapa bodohnya aku yang meminta
maaf terlebih dahulu tanpa tahu siapa yang salah. Hahahaha, tawaku meledak
sekeras-kerasnya. Ibarat ada 2 buronan polisi, yang satu tersangka dan yang
satu hanya teman tersangka, tetapi teman tersangka itu menyerahkan diri kepada
polisi. Coba kau pikirkan sedikit saja tentangku, mengapa aku menjadi seperti
teman tersangka itu? Apa perlu aku beri jawaban langsung tanpa harus memberi
waktu pada otakmu yang seperti otak udang itu untuk berfikir? Itu semua karena
aku tak ingin kehilangan dirimu. Hanya itu saja. Sangat simple tapi terlihat
bodoh. Parno.
Aku tahu
kau pasti memilki mulut yang bisa kau gunakan untuk bicara. Setidaknya kau bisa
memberitahu apa yang menjadi alasan dari merenggangnya hubungan kita ini.
Apakah kau tidak bosan dengan pertanyaan yang aku lontarkan padamu tiap saat?
Tidakkah kau berkeinginan sedikit pun untuk menjawab pertanyaan yang sepele
itu? Apakah memang semua laki-laki itu pengecut? Aku rasa tidak. Aku tahu siapa
kamu, kamu adalah seorang pemberani, bukan pengecut.
Apa
mungkin karena kau sudah bosan terus berada di sisiku sementara hubungan kita
hanya begini saja? Atau mungkin kau telah menemukan dambaan hati baru yang
mungkin lebih bersinar dan menggairahkan dariku? Atau ada alasan lain? Bisakah
kau buat aku untuk tidak terus berburuk sangka padamu terus? Bisakah kau buat
aku untuk berhenti memikirkan berbagai kemungkinan yang kebenarannya belum
terbukti ini? Sungguh jujur saja, aku sudah sangat bosan hidup didunia sinetron
ini yang penuh dengan perasaan gundah gulana, galau, resah dan berbagai macam
rasa membosankan lainnya. Aku sangat ingin merasakan kehangatan dirimu, bukan
seperti saat ini. Dirimu yang sangat dingin bagaikan es dikutub utara.
Se
laknat hamba-Nya, Tuhan saja masih bisa memberi hamba-Nya kesempatan untuk
berubah dan memaafkannya. Tidak bisakah kau berkelakuan seperti itu? Sebesar
itukah rasa bencimu kepadaku sehingga kau tidak ingin memaafkanku? AH..
No comments:
Post a Comment