Wednesday, May 1, 2013

Separah itukah Sebuah Kata Maaf?


                Sebegitu sulitkah sebuah kata ‘aku telah memaafkanmu’ terucap dari bibirmu? Apakah karena kau memang bukan orang yang pemaaf? Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Tahukah kau bahwa aku butuh waktu berhari-hari hanya untuk menuliskan sebuah pesan singkat yang sangat singkat, ‘maafkan aku jika aku sempat menyakiti hatimu atau ada sikapku yang tak karuan. Maafkan aku.’ Tahukah kau bahwa aku butuh keberanian tinggi untuk menuliskan sebuah kalimat itu saja? Tahukah kau, aku berkali-kali menghirup dan menghembuskan nafas hanya untuk mengetikkan kalimat itu? Aku berharap kamu akan memberi ku sedikit kata aku telah memaafkanmu,tapi tidak kusangka. Tidak ada jawaban darimu. Tidakkah kau memikirkan diriku yang berjam-jam memandangi alat komunikasi ku ini? Berjam-jam pula aku menunggu balasan darimu. Aku selalu mencoba berfikir positif, mungkin saja kau tidak memiliki pulsa untuk membalas, baterai handphone mu habis, handphone mu rusak dan berbagai ribuan persepsi aku coba untuk menenangkan hatiku yang tidak bisa menunggu lama ini. Yah, dan akhirnya, setelah 5 jam menunggu, tetap nihil; tidak ada balasan. Seketika aku langsung putus asa. Dan aku yakin, kau tidak ingin membalas pesan singkatku itu. Betapa menyedihkannya diriku, sangat miris. Menanti hal yang tak pasti, yang tidak tahu kapan datangnya.
                Apakah aku masih salah? Bayangkan saja, aku tidak tahu siapa yang salah diantara kita berdua, entah aku atau kau. Tapi coba pikirkan betapa bodohnya aku yang meminta maaf terlebih dahulu tanpa tahu siapa yang salah. Hahahaha, tawaku meledak sekeras-kerasnya. Ibarat ada 2 buronan polisi, yang satu tersangka dan yang satu hanya teman tersangka, tetapi teman tersangka itu menyerahkan diri kepada polisi. Coba kau pikirkan sedikit saja tentangku, mengapa aku menjadi seperti teman tersangka itu? Apa perlu aku beri jawaban langsung tanpa harus memberi waktu pada otakmu yang seperti otak udang itu untuk berfikir? Itu semua karena aku tak ingin kehilangan dirimu. Hanya itu saja. Sangat simple tapi terlihat bodoh. Parno.
                Aku tahu kau pasti memilki mulut yang bisa kau gunakan untuk bicara. Setidaknya kau bisa memberitahu apa yang menjadi alasan dari merenggangnya hubungan kita ini. Apakah kau tidak bosan dengan pertanyaan yang aku lontarkan padamu tiap saat? Tidakkah kau berkeinginan sedikit pun untuk menjawab pertanyaan yang sepele itu? Apakah memang semua laki-laki itu pengecut? Aku rasa tidak. Aku tahu siapa kamu, kamu adalah seorang pemberani, bukan pengecut.
                Apa mungkin karena kau sudah bosan terus berada di sisiku sementara hubungan kita hanya begini saja? Atau mungkin kau telah menemukan dambaan hati baru yang mungkin lebih bersinar dan menggairahkan dariku? Atau ada alasan lain? Bisakah kau buat aku untuk tidak terus berburuk sangka padamu terus? Bisakah kau buat aku untuk berhenti memikirkan berbagai kemungkinan yang kebenarannya belum terbukti ini? Sungguh jujur saja, aku sudah sangat bosan hidup didunia sinetron ini yang penuh dengan perasaan gundah gulana, galau, resah dan berbagai macam rasa membosankan lainnya. Aku sangat ingin merasakan kehangatan dirimu, bukan seperti saat ini. Dirimu yang sangat dingin bagaikan es dikutub utara.
                Se laknat hamba-Nya, Tuhan saja masih bisa memberi hamba-Nya kesempatan untuk berubah dan memaafkannya. Tidak bisakah kau berkelakuan seperti itu? Sebesar itukah rasa bencimu kepadaku sehingga kau tidak ingin memaafkanku? AH..
                

No comments:

Post a Comment