Tuesday, April 30, 2013

Aku, Kamu dan Dia. Complicated!


                Keadaan ini semakin memburuk saja. Hubungan ku dengannya tak kunjung mencair. Tetap kaku, canggung bahkan seperti orang asing. Sekedar sapa atau senyuman tak lagi ada diantara kita. Bahkan saat aku dan dia berpapasan, aku dan dia benar-benar seperti orang yang tidak saling mengenal. Sungguh menyiksa perasaan ku. Pesan singkatku tak pernah lagi dibalas olehnya. Panggilan telepon ku selalu diabaikan olehnya. Tapi yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah, kehadiran ku di depannya yang mungkin tak pernah ia inginkan. Kehadiran ku sama sekali tidak diharapkan. Kenapa tidak kau bunuh saja aku?
                Ya, setelah aku ketahui gosip yang beredar dari mulut ke mulut,aku tahu dia sedang menyukai seorang gadis, yang mungkin bisa dibilang sangat manis, cantik dan berbeda jauh dariku. Aku lupa siapa nama gadis itu. Yang ku ketahui dia tidak satu angkatan denganku. Mungkin adik kelas atau kakak kelas. Ya, mungkin saja adik kelas. AH aku tak tau pasti. Hanya sekedar omongan dari mulut ke mulut yang belum terbukti. Tapi entah mengapa aku sangat penasaran dengan gadis itu. Setelah aku sempat menjadi stalking timeline yang sangat naif, aku tau siapa gadis itu. Tidak sia-sia aku korbankan mataku untuk berjam-jam diam di depan laptop dan terus mengklik mouse yang mungkin jika ia bisa berkata ia akan berkata bahwa ia bosan. Bukan gadis, tetapi wanita. Bukan wanita yang telah beristri, bukan juga wanita girang. Dia adalah wanita baik-baik. Aku mengenalnya disekolah. Ia sangat terkenal. Mungkin karena keramahannya, kebaikannya, atau apalah. Ia sangat berbeda jauh dengan aku yang serampangan dan terlihat cuek dengan tubuhku ini. Berbeda dengan wanita itu. Yang sudah diberi kecerdasan, kepintaran, kemanisan, PERFECT. Seketika itu juga aku langsung memikirkan aku dan dia. Apakah mungkin ia sempat menaruh rasa pada wanita serampangan seperti diriku ini? Yang selama ku tau, gadis-gadis yang dulu sempat disukainya tidaklah seperti diriku. Diriku yang jika tertawa sangat lepas, tidak melihat tempat dan waktu. Aku sangat payah. Tidak seperti wanita itu.
                Aku tidak ingin mendapati aku akan galau atau sedih setelah mengetahui hubungan mereka. Karena sebentar lagi aku akan mendapat ulangan harian. Dan jika aku galau, itu akan mempengaruhi kerja otakku yang setelah semalaman aku isi dengan rumus-rumus eksak berganti dengan bayang-bayang dirimu dan wanita itu. Jujur saja, aku tidak munafik. Aku cemburu. Ya, rasa itu ada ketika aku melihat kebersamaan dirimu dengan nya. Apalagi aku sempat menemukan sebuah-dua buah jepretan kamera antara dirimu dengan wanita itu. Terlihat senyuman yang sangat manis. Penuh dengan aura cinta. Jika saja saat itu aku tidak bisa mengendalikan emosi ku, mungkin laptop ini sudah hancur aku banting karena saking cemburunya. Mereka bukanlah pasangan kekasih, tetapi mengapa dari mata mereka seperti bertaut satu sama lain? Mengapa mereka terlihat begitu bahagia? Tidakkah mereka sadar bahwa aku disini memendam rasa cemburu yang sangat dalam?
                Ah, cinta itu memang milik dua insan manusia, dan tidak ada tempat bagi orang ketiga. Aku pun juga berpendapatan yang sama. Tapi apakah hal ini selalu dan harus terjadi padaku? Haruskah aku yanag menjadi orang ketiga diantara kalian?
                Aku tidak bisa memungkiri perasaan sayangku yang semakin hari semakin bertambah, dan meluap. Dan aku yakin perasaan ini akan segera tumpah.
                Sudahlah, jika memang kau memang ditakdirkan untuk wanita itu, aku harus bisa membuat mu bahagia dengan melepaskanmu. Tapi, tidak bisakah kita kembali seperti dulu? Menjadi teman karib? Ya, sekedar teman. Itu cukup bagiku bila kau tidak bisa di dekapku. Ah, tapi bagaimana jika perasaan itu tumbuh kembali. Aku sangat bingung, semua ini sangat rumit.

No comments:

Post a Comment