Keadaan
ini semakin memburuk saja. Hubungan ku dengannya tak kunjung mencair. Tetap
kaku, canggung bahkan seperti orang asing. Sekedar sapa atau senyuman tak lagi
ada diantara kita. Bahkan saat aku dan dia berpapasan, aku dan dia benar-benar
seperti orang yang tidak saling mengenal. Sungguh menyiksa perasaan ku. Pesan singkatku
tak pernah lagi dibalas olehnya. Panggilan telepon ku selalu diabaikan olehnya.
Tapi yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah, kehadiran ku di depannya
yang mungkin tak pernah ia inginkan. Kehadiran ku sama sekali tidak diharapkan.
Kenapa tidak kau bunuh saja aku?
Ya,
setelah aku ketahui gosip yang beredar dari mulut ke mulut,aku tahu dia sedang
menyukai seorang gadis, yang mungkin bisa dibilang sangat manis, cantik dan
berbeda jauh dariku. Aku lupa siapa nama gadis itu. Yang ku ketahui dia tidak
satu angkatan denganku. Mungkin adik kelas atau kakak kelas. Ya, mungkin saja
adik kelas. AH aku tak tau pasti. Hanya sekedar omongan dari mulut ke mulut
yang belum terbukti. Tapi entah mengapa aku sangat penasaran dengan gadis itu.
Setelah aku sempat menjadi stalking
timeline yang sangat naif, aku tau siapa gadis itu. Tidak sia-sia aku
korbankan mataku untuk berjam-jam diam di depan laptop dan terus mengklik mouse
yang mungkin jika ia bisa berkata ia akan berkata bahwa ia bosan. Bukan gadis,
tetapi wanita. Bukan wanita yang telah beristri, bukan juga wanita girang. Dia
adalah wanita baik-baik. Aku mengenalnya disekolah. Ia sangat terkenal. Mungkin
karena keramahannya, kebaikannya, atau apalah. Ia sangat berbeda jauh dengan
aku yang serampangan dan terlihat cuek dengan tubuhku ini. Berbeda dengan
wanita itu. Yang sudah diberi kecerdasan, kepintaran, kemanisan, PERFECT. Seketika itu juga aku langsung
memikirkan aku dan dia. Apakah mungkin ia sempat menaruh rasa pada wanita
serampangan seperti diriku ini? Yang selama ku tau, gadis-gadis yang dulu
sempat disukainya tidaklah seperti diriku. Diriku yang jika tertawa sangat
lepas, tidak melihat tempat dan waktu. Aku sangat payah. Tidak seperti wanita
itu.
Aku
tidak ingin mendapati aku akan galau atau sedih setelah mengetahui hubungan
mereka. Karena sebentar lagi aku akan mendapat ulangan harian. Dan jika aku galau,
itu akan mempengaruhi kerja otakku yang setelah semalaman aku isi dengan
rumus-rumus eksak berganti dengan bayang-bayang dirimu dan wanita itu. Jujur
saja, aku tidak munafik. Aku cemburu. Ya, rasa itu ada ketika aku melihat
kebersamaan dirimu dengan nya. Apalagi aku sempat menemukan sebuah-dua buah
jepretan kamera antara dirimu dengan wanita itu. Terlihat senyuman yang sangat
manis. Penuh dengan aura cinta. Jika saja saat itu aku tidak bisa mengendalikan
emosi ku, mungkin laptop ini sudah hancur aku banting karena saking cemburunya.
Mereka bukanlah pasangan kekasih, tetapi mengapa dari mata mereka seperti
bertaut satu sama lain? Mengapa mereka terlihat begitu bahagia? Tidakkah mereka
sadar bahwa aku disini memendam rasa cemburu yang sangat dalam?
Ah,
cinta itu memang milik dua insan manusia, dan tidak ada tempat bagi orang ketiga.
Aku pun juga berpendapatan yang sama. Tapi apakah hal ini selalu dan harus terjadi
padaku? Haruskah aku yanag menjadi orang ketiga diantara kalian?
Aku
tidak bisa memungkiri perasaan sayangku yang semakin hari semakin bertambah,
dan meluap. Dan aku yakin perasaan ini akan segera tumpah.
Sudahlah,
jika memang kau memang ditakdirkan untuk wanita itu, aku harus bisa membuat mu
bahagia dengan melepaskanmu. Tapi, tidak bisakah kita kembali seperti dulu? Menjadi
teman karib? Ya, sekedar teman. Itu cukup bagiku bila kau tidak bisa di
dekapku. Ah, tapi bagaimana jika perasaan itu tumbuh kembali. Aku sangat
bingung, semua ini sangat rumit.
No comments:
Post a Comment