'Indri, kamu itu pengecut banget! Kamu cuma berani ngomongin mereka dibelakang saja! Apa sih susahnya bilang sama mereka kenapa kamu ngemusuhin mereka! jangan jadi loser dong Ndri!'
'KEVIN!! Aku gak suka kalo kamu bentak-bentak aku kayak gitu! Kamu dari dulu cuma bisa nyalahin aku aja! Ngatain aku egois lah, keras kepala lahah. Semua yang jelek-jelek kamu kasih ke aku! Sahabat macem apa kamu Vin??'
Aku pun berlari meninggalkan Kevin yang dengan bahagia nya mengumpatku dan menyalahkanku. Si Clara juga ikut-ikutan ngebela Kevin! Mereka berdua itu sahabat macam apa sih? Bisanya cuma nyalahin aku aja. Ngatain aku egois, emosian. Emang nya mereka gak pernah emosi, gak pernah egois? SUMPAH! Aku benci banget sama mereka. Aku gak peduli udah temenan sama mereka dari TK. Buat apa aku temenan sama sahabat yang cuma bisa menjerumuskan aku?
Memang saat ini aku sedang ada sebuah konflik kecil dengan Dwi dan Stella. Hanya karena aku memosting sebuah status di Facebook yang kata mereka status itu ditujukan pada mereka. Padahal aku hanya mengutip sebuah kata-kata dari novel.
Dan saat aku menceritakan ini ke Clara dan Kevin, mereka dengan semangat membara mengatai bahwa aku yang salah, dan aku harus meminta maaf pada mereka. Apa maksud mereka? Aku harus mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat? Ini gila!
Aku benci mereka yang memihak Dwi dan Stella yang notabene baru mereka kenal beberapa bulan yang lalu. Aku benci Clara dan Kevin! Aku benci sahabat ku! Mereka penipu!!
Hingga suatu hari, tepat seminggu aku bermusuhan dengan Clara dan Kevin, aku menyadari sikap mereka yang pada saat itu membentakku.
Ada sebuah acara televisi yang membuat aku tersadar akan apa arti sahabat sebenarnya.
Masih teringat jelas apa yang saat itu aku dengar dari televisi: Sahabat, sejahat apapun mereka, mereka cuma pingin ngelakuin yang terbaik untuk kita. Walaupun dengan cara yang terkadang menyakitkan perasaan kita. Tapi percayalah, sahabat sejati tidak pernah menjerumuskan kita.
Pada hari itu, aku langsung mencari Clara dan Kevin saat bel istirahat di kantin. Dan aku menemukan mereka sedang menikmati bakso yang baru saja dipesan. Disana juga ada Dwi dan Stella.
Ya! Tekad ku sudah bulat! Harus sekarang. Tegasku dalam hati.
Aku pun langsung menghampiri mereka.
'Dwi, Stella, maafin aku karena status facebook ku ya. Status itu tidak aku tujukkan padamu. Sungguh, aku tak berbohong. Clara, Kevin, aku tau kalian memang sahabatku, kalian gak pernah menjerumuskan aku, maafin aku Kevin, Clara' Kataku dengan sungguh-sungguh pada saat itu.
Mereka berempat hanya menatapku dengan penuh tanda tanya.
Aku yang terkenal gengsi memulai kata maaf, untuk pertama kalinya meminta maaf.
Mereka berempat hanya memandangku dengan tatapan heran. Lalu mereka tertawa bersama. Senyum ku pun mengembang. Aku sudah tahu jawabannya.
Dan aku tau, sejahat apapun sahabat, dia hanya mengharapkan yang terbaik untuk sahabatnya. That is true.
No comments:
Post a Comment