Romy
bukanlah Romy yang dulu. Dia telah berubah. Entah ini hanya perasaan ku saja
atau memang ini yang sesungguhnya. Romy bukanlah pria yang selalu berada di
sisiku, yang selalu mengatai aku ‘bodoh’, yang terkadang mengajari aku
bagaimana cara yang benar untuk melihat rasi bintang, bagaimana cara melihat
bintang dengan benar, bahkan dia selalu mengacak-acak rambut ku jika aku
terlalu lama menangkap apa yang dia maksud. Ah, i miss that moment so,Rom.
Sudah
sekian lama aku tidak pernah bercanda, bertukar pendapat dan bersama dengan
Romy. Dia seakan menghilang dari kehidupanku. Dia tidak pernah bertegur sapa
denganku, tidak pernah memulai pembicaraan jika bukan aku yang memulainya,
tidak pernah mengirimiku pesan singkat seperti yang biasa dia lakukan
terdahulu.
Tepatnya
kemarin, saat pembinaan astronomi. Saat aku ingin keluar kelas, aku berpapasan
dengan Romy, ia baru saja datang. Dia terlambat. Tidak seperti Romy yang
biasanya. Saat itu terpaksa melemparkan senyumku untuknya, agar aku tak dikira
sombong. Tapi tak kusangka, senyumanku hanya dianggap angin lalu olehnya. Yang aku
rasakan saat itu hanya satu; malu. Aku sangat benci dirinya yang sekarang.
Sangat dingin dan menjengkelkan.
Aku
tidak tau apalagi maksudnya. Setelah tidka menghiraukan senyumanku tadi,
sekarang ia mengambil tempat duduk di depanku. Ya,tepat didepanku. Aku yang
pada saat itu sudah sangat emosi akan sikapnya, tidak memerdulikannya lagi. Aku
langsung berpindah tempat duduk di paling depan dengan beralasan tidak dapat
berkonsentrasi. Aku tidak peduli akan tatapan mata Romy yang mengikuti gerak
gerik tubuhku yang menjauhi kehadirannya, yang dianggap tidak mengharapkan
kehadirannya pada saat itu. Aku tertawa bahagia karena aku berhasil menjauh
darinya. Tapi apakah itu apa yang sesungguh nya yang aku rasakan? Apakah aku
bahagia ketika aku jauh darinya? Sepertinya tidak. Saat itu aku benar-benar
telah merasa menyakiti perasaanya. Ah tapi siapa peduli. Jika aku peduli
padanya, akankah dia memerdulikanku? Aku yakin tidak.
Aku pun
mengikuti pembinaan astronomi itu dengan perasaan yang sangat tenang. Sangat
tenang? Ya, sangat tenang karena aku tidak harus melihat sikap cuek bebek Romy
yang membuatku uring-uringan itu. Sungguh, aku merindukan kamu Rom. Kamu yang
biasanya ada disebelahku, bersandar dibahuku, selalu denganku. Ada apa denganmu
Rom? Mengapa kamu menjauh?
No comments:
Post a Comment