Wednesday, April 24, 2013

David, Sebuah Cinta Terpendam

'Kamu yang salah Dav! Kamu yang duluan nyuekin aku kemarin dikelas!'
'Kamu kali Nda! Kemarin waktu aku minjem buku bahasa inggris mu, kamu gak sempet ngomong apa-apa ke aku!
'Ih kamu itu ngeselin banget sih Dav!'
Ya,beginilah hubunganku dengan David akhir-akhir ini, salah satu sahabat terbaikku, kedua setelah Putra.
Aku kenal David 3 bulan yang lalu, saat kami bertemu di acara sweet Seventeen sahabatku, Dinda.
3 bulan yang lalu, hubungan kami sangat dekat. Bahkan banyak yang mengatai kami bahwa kami telah berpacaran. 'Jangan ngaco deh kalian' . Selalu aku berkata kepada orang-orang yang menggosipkan kami.
Memang, aku sebenarnya tidak ada rasa dengan David. Ya, sebelum kejadian beberapa minggu lalu, saat kami bertemu secara tidak sengaja di Aula sekolah. Saat itu aku sedang membolos, karena aku sangat benci pelajaran Fisika. Membuat kepalaku menjadi benang kusut saja.
Kebetulan pada saat itu dia ditugaskan oleh wali kelasnya untuk mengambil sebuah kursi di Aula.
'Eh david, ngapain kamu Dav?'
'Ini nih, ngambil kursi, disuruh sama wali kelas ku. Kamu ngapain disini? Bukannya dikelas kamu lagi belajar Fisika?'
Ya,wajar saja jika David tahu. Karena kelas nya dan kelasku bersebrangan.
'Aku lagi mengistirahatkan otak sejenak. Fisika cuman buat kepala ku pusing'
Dia pun berjalan mendekati aku yang saat itu duduk lesehan di lantai Aula yang terbilang mengkilap karena setiap harinya di bersihkan. Dia duduk disebelah ku.
Entah mengapa aku merasakan detak jantungku menjadi lebih cepat. Apa aku terkena serangan jantung? Ah,  tidak mungkin!
'Kamu tuh, kalo gak suka sama fisika, kenapa masuk kelas IPA sih? Karena gengsi ya?'
'Engga kok Dav, aku cuma lagi gak pingin ikutan fisika aja, cerewet amat sih!'. Aku jawab pertanyaannya dengan ketus. Karena aku tak senang ada orang yang terlalu mengurusi urusanku.
'Duh, galaka banget sih kamu, Dinda jeleeeekk!'. Tangannya seperti memukul kepalaku, tapi tidak terasa sakit. Lalu dia mengacak-acak poniku yang terjuntai kebawah.
Sangat romantis.
Aku pun menggembungkan pipiku tanda kesal. Tapi bukannya merasa bersalah, ia malah tertawa melihat wajahku yang katanya seperti balon itu.
Entah mengapa, saat itu aku baru menyadari satu hal, aku menaruh hati padanya.
Tapi sepertinya ini terlalu cepat. Bagaimana jika dia tidak menaruh rasa padaku?
Ah, sepertinya, mencintai orang yang ada di sebelah kita tanpa diketahui, merupakan suatu tantangan. Tapi apakah perasaan ini akan bertahan lama, jika hanya dipendam didalam hati? Ah, sepertinya jatuh cinta itu memang harus diungkapkan. Bukan dipendam seperti ini. Betul kan, David?

No comments:

Post a Comment