Tadi pagi, sewaktu pelajaran
olahraga, aku mendapati gebetanku sedang bersenda gurau dengan gadis yang dulu
sempat berada di titik special di hatinya. Dea. Ya, gadis itu adalah kekasih
Bara yang baru saja berpisah secara baik-baik sebulan yang lalu. Semenjak Bara
tidak menjalin kasih dengan Dea lagi, dia sering bersama ku, sekedar bercerita,
bercanda atau membuat tugas. Karena memang aku dan Bara sesama kelas IPA
walaupun beda kelas. Kami sangat akrab. Tapi Bara hanya menganggapku sebatas ‘TEMAN’.
Tidak lebih. Berbeda denganku yang saat ini telah menaruh hati padanya. Sebut
saja perasaan ini, jatuh cinta diam-diam. Jatuh cinta diam-diam itu memang
menyakitkan. Kita tidak bisa protes saat dia bersama siapa dan dengan siapa. Dia
tidak tau bahwa kita mencintainya kan? Lalu
jika diam-diam kita ngambek kalau dia bersama gadis lain, apakah dia tau apa
alasan kita ngambek sama dia? Tidak. Dia bukan pacar kita, dia hanya orang yang
kita cintai, secara diam-diam. Seperti pagi tadi, kelas ku dan kelasnya
olahraga bersama di lapangan sekolah. Saat itu kami sedang beristirahat sambil
menunggu pengabsenan. Saat itu sudut mataku mencari sosok Bara. Jika aku tau
akhirnya akan menyakitkan, seharusnya aku tidak akan mencari sosok Bara
tersebut. Tepat saat sudut mataku menangkap sosoknya, aku juga menangkap
seorang gadis berperawakan hitam manis, dengan rambut panjangnya yang digerai
sebahu, membawa tas dan helm di tangan kirinya. Gadis itu baru memasuki sekolah
dan Bara menahan langkahnya menuju ke kelas. Mereka berjalan beriringan, lalu
berdiam diri di samping ring basket untuk berbicara. Mungkin berbicara sambil
berjalan sangat sulit. Saat itu kulihat Bara sedang menodong Dea untuk meminta
seribu atau duaribu rupiah. Kulihat mereka tertawa bahagia, seakan putusnya
hubungan mereka bukan suatu halangan bagi mereka untuk menjalin hubungan baik
kembali. Kulihat pergelangan tangan Dea digenggam oleh Bara, tanda ia memaksa
Dea untuk memberikannya uang.
Kudengar teman-teman sekelas Bara
mulai menyorakinya dengan kata ‘ciee’ yang menggema di lapangan. Sedangkan
teman-teman ku hanya berkata, ‘Bara, si Katrin panas dalam nih! Hatinya panas!
Hahaha...’ Saat itu aku sengaja tertawa berpura-pura untuk tidak menghiraukan
Dea dengan Bara. Aku berpura-pura untuk tertawa dengan lepas agar teman-temanku
tidak mengira aku cemburu akan kedekatan Dea dengan Bara tadi. Betapa
menyedihkannya diriku ini. Aku tidak menyadari bahwa Bara sempat menangkap mata
ku saat aku menatap Dea dan Bara tertawa tadi.
Sepulang sekolah, aku berpapasan
dengan Bara. Aku ingin menyapanya, tapi kuurangkan niatku itu. Rasa perih yang
ia torehkan secara tidak sengaja itu masih membekas di hatiku. Ya, cemburu. Jelas
aku cemburu. Hal itu terjadi begitu saja didepan mataku. Sangat cepat dan
terekam begitu saja. Aku bahkan masih bisa mereplay kejadian itu berkali-kali
didalam otakku. Dan itu semakin membuat api cemburu semakin membesar dihatiku
ini. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Bara begitu saja, karena dia tidak
tau bagaimana perasaan ku padanya. Aku tidak berhak untuk marah, bahkan untuk
memarahinya. Ingat, dia hanya teman. Tidak lebih. Entah sejak kapan perasaan
ini tumbuh begitu saja. Padahal, sewaktu Dea menjadikan Bara sebagai someone special diulang tahunnya saja aku tidak memiliki sedikit rasa cemburu.
Wajar saja karena pada saat itu mereka masih memiliki status sebagai sepasang
kekasih. Bahkan saat itu aku masih sempat merestui hubungan mereka sampai
kakek-nenek. Bahkan dulu aku sempat mendoakan agar hubungan mereka tidak putus.
Tapi entah mengapa saat ini aku ingin menarik semua doa yang aku ucapkan kepada
mereka terdahulu.
Aku tidak tau kapan rasa sayang
ini mulai muncul. Aku tidak sadar kapan
aku mulai khawatir ketika sepulang futsal dia tidak langsung pulang kerumah,
aku takut jika ia mulai menjauh dariku. Aku sadar bahwa aku mulai menyayangi
nya, bukan sebagai teman, melainkan lebih dari itu. Tapi aku sama sekali tidak
berniat untuk mengungkapkan perasaan ku ini. Aku sangat takut jika nantinya
perasaan ini hanyalah perasaan yang dianggap angin lalu, hanya bertepuk sebelah
tangan. Aku tidak ingin Bara menjauh nantinya. Lebih baik aku dan dia cukup
sebagai teman. Tidak masalah jika ia tidak mencintaiku kembali, asalkan aku
bisa bersama nya setiap waktu. Menatap senyum manisnya, bersenda gurau
dengannya, bersama dengannya. Mungkin suatu saat perasaan ini akan hilang
dengan sendirinya karena tidak terbalaskan. Ku harap begitu. Karenan terkadang
akupun terasa sakit sendiri jika aku melihatnya ia bertingkah mesra dengan
gadis lain, terutama Dea. Ah, aku jadi semakin bingung. Aku harus mengungkapkan
perasaan ini dan menerima apapun jawabannya, sekalipun dia menjauh atau aku
harus tetap memendam rasa ini agar aku tetap bisa berada disampingnya hanya
sebagai teman. Ah aku bingung....
No comments:
Post a Comment