Thursday, April 25, 2013

Katakan atau Tidak?


Tadi pagi, sewaktu pelajaran olahraga, aku mendapati gebetanku sedang bersenda gurau dengan gadis yang dulu sempat berada di titik special di hatinya. Dea. Ya, gadis itu adalah kekasih Bara yang baru saja berpisah secara baik-baik sebulan yang lalu. Semenjak Bara tidak menjalin kasih dengan Dea lagi, dia sering bersama ku, sekedar bercerita, bercanda atau membuat tugas. Karena memang aku dan Bara sesama kelas IPA walaupun beda kelas. Kami sangat akrab. Tapi Bara hanya menganggapku sebatas ‘TEMAN’. Tidak lebih. Berbeda denganku yang saat ini telah menaruh hati padanya. Sebut saja perasaan ini, jatuh cinta diam-diam. Jatuh cinta diam-diam itu memang menyakitkan. Kita tidak bisa protes saat dia bersama siapa dan dengan siapa. Dia tidak tau bahwa kita  mencintainya kan? Lalu jika diam-diam kita ngambek kalau dia bersama gadis lain, apakah dia tau apa alasan kita ngambek sama dia? Tidak. Dia bukan pacar kita, dia hanya orang yang kita cintai, secara diam-diam. Seperti pagi tadi, kelas ku dan kelasnya olahraga bersama di lapangan sekolah. Saat itu kami sedang beristirahat sambil menunggu pengabsenan. Saat itu sudut mataku mencari sosok Bara. Jika aku tau akhirnya akan menyakitkan, seharusnya aku tidak akan mencari sosok Bara tersebut. Tepat saat sudut mataku menangkap sosoknya, aku juga menangkap seorang gadis berperawakan hitam manis, dengan rambut panjangnya yang digerai sebahu, membawa tas dan helm di tangan kirinya. Gadis itu baru memasuki sekolah dan Bara menahan langkahnya menuju ke kelas. Mereka berjalan beriringan, lalu berdiam diri di samping ring basket untuk berbicara. Mungkin berbicara sambil berjalan sangat sulit. Saat itu kulihat Bara sedang menodong Dea untuk meminta seribu atau duaribu rupiah. Kulihat mereka tertawa bahagia, seakan putusnya hubungan mereka bukan suatu halangan bagi mereka untuk menjalin hubungan baik kembali. Kulihat pergelangan tangan Dea digenggam oleh Bara, tanda ia memaksa Dea untuk memberikannya uang.
Kudengar teman-teman sekelas Bara mulai menyorakinya dengan kata ‘ciee’ yang menggema di lapangan. Sedangkan teman-teman ku hanya berkata, ‘Bara, si Katrin panas dalam nih! Hatinya panas! Hahaha...’ Saat itu aku sengaja tertawa berpura-pura untuk tidak menghiraukan Dea dengan Bara. Aku berpura-pura untuk tertawa dengan lepas agar teman-temanku tidak mengira aku cemburu akan kedekatan Dea dengan Bara tadi. Betapa menyedihkannya diriku ini. Aku tidak menyadari bahwa Bara sempat menangkap mata ku saat aku menatap Dea dan Bara tertawa tadi.
Sepulang sekolah, aku berpapasan dengan Bara. Aku ingin menyapanya, tapi kuurangkan niatku itu. Rasa perih yang ia torehkan secara tidak sengaja itu masih membekas di hatiku. Ya, cemburu. Jelas aku cemburu. Hal itu terjadi begitu saja didepan mataku. Sangat cepat dan terekam begitu saja. Aku bahkan masih bisa mereplay kejadian itu berkali-kali didalam otakku. Dan itu semakin membuat api cemburu semakin membesar dihatiku ini. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Bara begitu saja, karena dia tidak tau bagaimana perasaan ku padanya. Aku tidak berhak untuk marah, bahkan untuk memarahinya. Ingat, dia hanya teman. Tidak lebih. Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh begitu saja. Padahal, sewaktu Dea menjadikan Bara sebagai someone special diulang tahunnya saja  aku tidak memiliki sedikit rasa cemburu. Wajar saja karena pada saat itu mereka masih memiliki status sebagai sepasang kekasih. Bahkan saat itu aku masih sempat merestui hubungan mereka sampai kakek-nenek. Bahkan dulu aku sempat mendoakan agar hubungan mereka tidak putus. Tapi entah mengapa saat ini aku ingin menarik semua doa yang aku ucapkan kepada mereka terdahulu.
Aku tidak tau kapan rasa sayang ini  mulai muncul. Aku tidak sadar kapan aku mulai khawatir ketika sepulang futsal dia tidak langsung pulang kerumah, aku takut jika ia mulai menjauh dariku. Aku sadar bahwa aku mulai menyayangi nya, bukan sebagai teman, melainkan lebih dari itu. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk mengungkapkan perasaan ku ini. Aku sangat takut jika nantinya perasaan ini hanyalah perasaan yang dianggap angin lalu, hanya bertepuk sebelah tangan. Aku tidak ingin Bara menjauh nantinya. Lebih baik aku dan dia cukup sebagai teman. Tidak masalah jika ia tidak mencintaiku kembali, asalkan aku bisa bersama nya setiap waktu. Menatap senyum manisnya, bersenda gurau dengannya, bersama dengannya. Mungkin suatu saat perasaan ini akan hilang dengan sendirinya karena tidak terbalaskan. Ku harap begitu. Karenan terkadang akupun terasa sakit sendiri jika aku melihatnya ia bertingkah mesra dengan gadis lain, terutama Dea. Ah, aku jadi semakin bingung. Aku harus mengungkapkan perasaan ini dan menerima apapun jawabannya, sekalipun dia menjauh atau aku harus tetap memendam rasa ini agar aku tetap bisa berada disampingnya hanya sebagai teman. Ah aku bingung....

No comments:

Post a Comment