Monday, April 22, 2013

Hanya Tipuan Mata

"Heh bodoh! Kamu itu salah mengartikkan perhatian dia Kesha! Dia itu gak ada rasa sama kamu. Kamu cuma teman di matanya! Wake up, dear! Stop dreaming!"
Kata-kata itu meluncur saja dari mulut sahabatku, Dewa, yang mungkin sudah bosan mendengar keluh kesah ku mengenai lelaki yang akhir-akhir sering bersamaku, Romy.
Ya, setelah ribuan kata terucap, setelah empat belas hari belakangan ini dia menghilang, tak mengabariku, aku jadi uring-uringan sendiri. Hingga, kemarin, akhirnya aku memutuskan untuk bercerita kepada sahabat terdekatku, Dewa.
Dan ya, aku memang dikatai terlalu cepat menaruh hati. Aku terlalu cepat utntuk menyayangi orang yang berbaik hati padaku. Sungguh, aku tak sempat berpikiran kesana.
Ribuan kata nasihat meluncur begitu saja dari mulut Dewa. Dia tak memikirkan perasaan ku yang terkadang tersindir dengan kata-katanya. Itulah sahabat, mereka selalu jujur.
Ya mungkin ku akui, aku tak tahu kapan pastinya, aku telah jatuh hati pada Romy.
Semenjak 2 minggu dia menghilang tak ada kabar, aku selalu memikirkan dia, di setiap hariku. Aku sudah seperti orang gila yang ingin meneriakkan namanya setiap aku rindu padanya.
Romy, masih teringat jelas dalam ingatanku, beberapa minggu yang lalau sebelum dia menghilang. Ia masih sempat duduk bersebelahan denganku. Dan selalu dengan gayanya yang khas, mengacak-acakkan rambutku. Hingga aku mengembungkan pipiku tanda kesal, yang langsung mengundang gelak tawa darinya. Tawa nya begitu renyah, manis. Ia masih sempat menukul kepalaku tanda jengkel denganku saat ku coret bukunya dengan tanda tanganku. Ia masih sempat menggodaku dengan ribuan gurauan nya. Aku bersumpah bahwa aku sangat merindukkannya. Hingga pada akhirnya, kalau tidak salah, Senin lalu, saat aku bertatap muka dengannya, aku melempar senyum jailku pada nya. Tapi, kenapa dia malah seperti tak menghiraukan senyuman ku? Pikrianku saat itu masih mencoba untuk berpikir bahwa dia tidak melihatku.
Tapi mungkin, pikiran negatif itu muncul dan menjadi kenyataan. Saat aku mengikut pelajaran tambahan astronomi, dia tidka lagi duduk disebelahku. Padahal sangat jelas terlihat, saat itu baru terisi oleh 3 orang. Aku, dia dan anak kelas lain. entah mengapa, dia mengambil tempat duduk 2 baris di depanku. Aku ingin menangis. Tapi ku tahan, tidak luc kan, jika aku menangis hanya karena dia memilih tempat duduk di depan? Aku masih mencoba berpikir positif. Tapi ternyata pikiran positifku telah terkalahkan oleh kenyataan negatif.
Hari demi hari, hubungan kami semakin renggang. Aku tak sempat bertegur sapa dengannya. Rasa trauma masih membekas dibenakku. 'Bagaimana jika senyuman ku hanya dianggap angin lalu olehnya? Bagaimana jika dia tidak menghiraukan senyumanku lagi? Ah perih rasanya'. Itulah alasanku mengapa aku enggan melempar senyum kepadanya. Hingga sampai saat ini, jika aku bertemu dengannya, aku hanya memasang tampang cemberut, judes dan jutek. Semoga kamu tau, semua itu hanya untuk menutupi rasa rinduku padamu, Romy..

3 comments:

  1. senyuman kepada semua orang, hanya menutupi rasa sakit yang ada. ternyata kishi serapuh ini :'*

    ReplyDelete
  2. tolong jangan buka aib dong genia :''''))))

    ReplyDelete