Friday, May 10, 2013

Cukup dengan Mu


                Apakah bahagia itu seperti ini? Tersenyum sendiri ketika mengingat hal-hal yang baru saja terjadi terus berputar dikepala ku. Aku sudah seperti orang gila. Selalu tersenyum sendiri bila mengingat hal-hal itu terulang kembali dimemori kepalaku. Romy... Ya, laki-laki itu yang bisa membuatku seperti, bahkan layak disebut orang gila ini. Dahulu, aku dengannya, tidak  se canggung dan se kaku seperti robot. Tapi sekarang, kami seperti dua manusia yang baru 5 menit lalu berkenalan. Aku sangat berterima kasih kepada hujan yang menyatukan kekakuan kami selama hampir sebulan ini. Hujan lah yang menyatukan hubungan kamu yang merenggang ini.
                Pagi tadi, saat aku bertemu dengannya di kantin sekolah, dia memulai melemparkan senyum termanisnya kepada ku. Aku mati kutu. Setelah sekian lama aku merindukan senyuman itu, aku akhirnya dapat melihat senyuman itu lagi. AH, aku sangat merindukannya. Entah mengapa Romy tumben melemparkan senyum itu padaku. Aku hanya terdiam kaku melihat mu, tentunya dengan senyumanmu. Ah...
                Ketika sore hari disekolah saat kita mengikuti pelajaran tambahan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kita bersenda gurau bersama. Kemasukan setan apa sih kamu, Rom? Haha... Ketika aku terdiam sendiri, kau mengajakku berbicara, mengajak ku bercanda. Aku sangat merindukan momen-momen indah seperti ini. Tapi satu yang masih aku rindukan, ketika kau duduk disebelah ku dan membuat hal-hal yang terlihat sepele menjadi lebih istimewa. Dinginnya udara menjadi terasa hangat jika kau disampingku.
                Dan betapa anehnya, aku meninggalkan buku catatan ku di kelas dan kamu yang membawa nya pulang kerumahmu! Aku yang kebingungan mencari buku itu dikejutkan dengan suara dering dari telepon genggamku. Dan ternyata itu Romy..
                “Halo Rom, kenapa malam-malam nelpon aku?”
                “Ini... Buku catatan mu ketinggalan tadi dikelas. Terus aku yang bawa pulang. Kamu dimana sekarang? Aku bawain kerumah ya...”
                “Aku masih beli makanan nih Rom.. Aku aja deh yang kerumahmu ya, nanti malah ngerepotin kamu..”
                “Ya, boleh saja sih Karra.. Aku tunggu dirumah ya..”
                “Ok Rom..”
                Aku pun merasakan Tuhan sengaja membuat kebetulan yang seperti ini. Ah Tuhan... Terima kasih banyak atas segala bantuanMu..
                Aku pun langsung meluncur dengan kecepatan tinggi menuju kerumah Romy. Sesampainya disana, Romy sedang asik menikmati bintang-bintang yang bertaburan di langit. Walaupun Romy sedang asik menikmati bintang-bintang itu, Romy tetap menyadari kehadiran ku.
                “Cepet banget sampainya, ngebut ya?”
                “hehe.. Tau aja kamu Rom..”
                “Nih bukunya..” Sambil menyodorkan buku itu kepadaku.
                Pada saat itu, aku melihat senyuman Romy yang begitu khas. Tanpa aku sadari, semenjak aku datang, ia sudah tersenyum sendiri seperti itu. Ada apa ini Tuhan? Kenapa jantungku malah berdetak lebih cepat?
                “Rom.. Aku pulang duluan ya.. Udah malem nih..”
                “Oh iya deh Karra, hati-hati ya...”
                Aku pun langsung berbalik arah dan menuju ke rumah. Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum layaknya orang gila.
                Ternyata bahagia semudah itu untuk didapatkan. Cukup berada didekatmu, melihat senyummu, dan berbicara denganmu, itu sudah cukup membuatku bahagia seperti ini. Ah, andai saja kau milikku Rom.. Andai saja kau kekasihku, akan selalu kujaga dirimu....

No comments:

Post a Comment