Apakah
bahagia itu seperti ini? Tersenyum sendiri ketika mengingat hal-hal yang baru
saja terjadi terus berputar dikepala ku. Aku sudah seperti orang gila. Selalu
tersenyum sendiri bila mengingat hal-hal itu terulang kembali dimemori
kepalaku. Romy... Ya, laki-laki itu yang bisa membuatku seperti, bahkan layak
disebut orang gila ini. Dahulu, aku dengannya, tidak se canggung dan se kaku seperti robot. Tapi
sekarang, kami seperti dua manusia yang baru 5 menit lalu berkenalan. Aku
sangat berterima kasih kepada hujan yang menyatukan kekakuan kami selama hampir
sebulan ini. Hujan lah yang menyatukan hubungan kamu yang merenggang ini.
Pagi
tadi, saat aku bertemu dengannya di kantin sekolah, dia memulai melemparkan
senyum termanisnya kepada ku. Aku mati kutu. Setelah sekian lama aku merindukan
senyuman itu, aku akhirnya dapat melihat senyuman itu lagi. AH, aku sangat
merindukannya. Entah mengapa Romy tumben melemparkan senyum itu padaku. Aku hanya
terdiam kaku melihat mu, tentunya dengan senyumanmu. Ah...
Ketika sore
hari disekolah saat kita mengikuti pelajaran tambahan, untuk pertama kalinya
setelah sekian lama, kita bersenda gurau bersama. Kemasukan setan apa sih kamu,
Rom? Haha... Ketika aku terdiam sendiri, kau mengajakku berbicara, mengajak ku
bercanda. Aku sangat merindukan momen-momen indah seperti ini. Tapi satu yang
masih aku rindukan, ketika kau duduk disebelah ku dan membuat hal-hal yang
terlihat sepele menjadi lebih istimewa. Dinginnya udara menjadi terasa hangat
jika kau disampingku.
Dan
betapa anehnya, aku meninggalkan buku catatan ku di kelas dan kamu yang membawa
nya pulang kerumahmu! Aku yang kebingungan mencari buku itu dikejutkan dengan
suara dering dari telepon genggamku. Dan ternyata itu Romy..
“Halo
Rom, kenapa malam-malam nelpon aku?”
“Ini...
Buku catatan mu ketinggalan tadi dikelas. Terus aku yang bawa pulang. Kamu
dimana sekarang? Aku bawain kerumah ya...”
“Aku
masih beli makanan nih Rom.. Aku aja deh yang kerumahmu ya, nanti malah
ngerepotin kamu..”
“Ya,
boleh saja sih Karra.. Aku tunggu dirumah ya..”
“Ok
Rom..”
Aku pun
merasakan Tuhan sengaja membuat kebetulan yang seperti ini. Ah Tuhan... Terima
kasih banyak atas segala bantuanMu..
Aku pun
langsung meluncur dengan kecepatan tinggi menuju kerumah Romy. Sesampainya disana,
Romy sedang asik menikmati bintang-bintang yang bertaburan di langit. Walaupun
Romy sedang asik menikmati bintang-bintang itu, Romy tetap menyadari kehadiran
ku.
“Cepet
banget sampainya, ngebut ya?”
“hehe..
Tau aja kamu Rom..”
“Nih
bukunya..” Sambil menyodorkan buku itu kepadaku.
Pada
saat itu, aku melihat senyuman Romy yang begitu khas. Tanpa aku sadari,
semenjak aku datang, ia sudah tersenyum sendiri seperti itu. Ada apa ini Tuhan?
Kenapa jantungku malah berdetak lebih cepat?
“Rom..
Aku pulang duluan ya.. Udah malem nih..”
“Oh iya
deh Karra, hati-hati ya...”
Aku pun
langsung berbalik arah dan menuju ke rumah. Dalam perjalanan pulang, aku
tersenyum-senyum layaknya orang gila.
Ternyata
bahagia semudah itu untuk didapatkan. Cukup berada didekatmu, melihat senyummu,
dan berbicara denganmu, itu sudah cukup membuatku bahagia seperti ini. Ah,
andai saja kau milikku Rom.. Andai saja kau kekasihku, akan selalu kujaga
dirimu....
No comments:
Post a Comment