Wednesday, May 29, 2013

Jika Kau Lupa akan Kita, Tanya Aku


                Semua telah berbeda. Tak sama seperti terdahulu. Kita, itu adalah sebuah kalimat yang menggambarkan aku dan dia. Kita sangat manis, sangat hangat, ya, itu dulu. Sebelum hari ini. Apakah sangat mudah untuk melupakn sebuah kenangan bagi dia? Semudah itu diamenghapus semua kenangan kita yang ada sekitar 90 hari itu? Jika dia semudah itu melupakannya, aku juga pasti bisa kan untuk melupakan mu semudah dia melupakanku? Tapi pada kenyataannya, mengapa aku sesulit ini untuk melupakan mu? Mungkin sewajarnya, sangat sulit untuk melupakan kenangan ini. Apakah perlu aku jabarkan satu persatu apa saja yang telah kita lalui? Mungkin jika aku jabarkan satu persatu, aku akan meneteskan air mata, karena aku yakin, aku pasti akan merindukan nya.
                Hari itu, adalah hari terakhir kita. Kenangan manis kita berakhir tanpa sebab yang jelas. Aku sendiri tidak tahu, apa yang menjadi dasar merenggangnya hubungan kita. Aku berpikir ribuan kali, menerka-nerka apalah aku melakukan kesalahan padamu. Tidak. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Kau yang mengatai aku tidak seperti terdahulu. Apakah kau tidak sadar bahwa kau yang seperti itu? Ah, jadi seperti sinetron. Kau  menuduh aku, aku menuduh kau. Lucu. Mengapa tidak aku cinta kau, kau cinta aku saja? Hahaha. Mimpi yang mungkin tidak akan terwujudkan. Kehadiran ku saja tidak pernah kau gubris. Apalagi berharap kau mencintaiku? Semua telah berubah 180 derajat. Kita tak pernah lagi bertegur sapa jika bertemu. Jika bukan aku yang memulai, kau takkan akan memulai. Kesannya, aku sebagai wanita yang sangat aktif, dan kau pasif. Terlihat seakan aku yang lebih menginginkanmu daripada kau menginginkan ku. Kau tidak pernah lagi berada disisiku, menghiburku dikala aku mendapat nilai jelek, tidak ada lagi tangan mu yang terkadang menggelitiki pinggangku,bahkan terkadang mengacak-acakkan rambutku dan mengatai aku bodoh. Mungkin itu terlihat sepele dimatamu, tapi dimata orang yang melihat kita, mereka pasti sangat iri. Bandingkan saja dengan sepasang kekasih. Tidak selalu mereka seperti kita, yang tertawa bahagia setiap bertemu. Tapi KITA? Kita memang bukan sepasang kekasih, tetapi tingkah laku kita yang menunjukan kita lebih dari ‘teman’. Aku sering mendengar teman-temanku berseru heboh ketika aku menamerkan kehangatan kita kepada mereka. Dan lihat, mereka iri pada kita. Satu lagi yang tak pernah aku lupakan. Kau yang memberi aku malam minggu pertama.Dimasa sekolah menengah atas, aku tidak pernah tahu apa itu malam minggu. Malam minggu selalu aku habis kan dengan ber hibernasi dirumah. Dan kau lah, orang satu-satu nya yang pernah mengajakku merasakan apa itu malam minggu. Hanya satu jam, bahkan tidak lebih, aku telah merasakan apa itu malam minggu. Aku tidak butuh bermalam minggu berjam-jam,bahkan hingga tengah malam. Aku tidak butuh bermalam minggu direstoran megah dengan makanan bintang lima, aku tidak butuh berfoya-foya. Hanya cukup membeli makanan sederhana dan 2 gelas es the, itu sudah cukup. Ditambah lagi, bersama mu. Aku tak peduli bahwa itu hanya satu jam. Tapi satu jam itu sangat bermakna. Belum tentu juga orang yang bermalam minggu berjam-jam akan memaknai malam minggu mereka.
                Dan semua bagaikan hilang begitu saja, tak berbekas. Tidak ada lagi kehangatan antara kau dan aku. Semua telah berlalu. TIdak akan mungkin semua itu terulang kembali. Aku sangat bersyukur karena dapat menikmati masa-masa seindah itu. Aku bersyukur karena aku menikmati hari demi hari yang aku lalui bersamamu. Kini, kita bagaikan dua orang asing yang tak pernah mengenal. Meninggalkan segala kenangan manis kita terdahulu. Ah, tapi aku tidak begitu, itu hanya bagimu saja. Aku masih sering mengingat-ingat kembali kenangan kita dulu. KArena hal itu sangat manis untuk dilupakan. AKu sungguh tak sanggupuntuk melupakan dan menganggapnya tidak pernah terjadi. BIarkan kenangan itu terhapus begiotu saja di benakmu, tapi jika kau ingin mengetahui apa yang pernah terjadi tedahulu, datanglah padaku, aku tidak pernah melupakan kenangan kita dulu. Kenangan kita dulu, dan kamu. Aku tidak pernah melupakan nya.

Monday, May 20, 2013

Gula yang Sangat Manis seperti Sianida


Sekolah pagi hari ini masih sangat sepi. Terlihat tukang kebun disekolah saja yang sudah amat sibuk pada pagi hari ini. Memang tak biasanya aku datang ke sekolah sepagi ini. Jika teman-temanku melihat kehadiran ku sepagi ini, pasti mereka akan sangat kaget bahkan mungkin ada yang langsung pingsan melihatku. Wajar saja aku berkata begitu, biasanya aku datang ke sekolah tepat saat bel masuk berbunyi. Atau paling pagi 5 menit sebelum bel berbunyi. Itupun aku baru menginjakkan kaki disekolah. Jika dihitung perjalanan dari gerbang ke sekolah ke kelas, 5 menit itu tidak ada apa-apanya. Lihat sekarang, di pagi ini, aku sudah berada disekolah 1 jam sebelum bel masuk berbunyi. Betapa rajinnya aku pagi ini. Selain karena hari ini adalah hari pertama ujian nasional, hari ini, pagi ini aku juga ingin belajar matematika sekali lagi sebelum ujian nasional dimulai. Aku melangkahkan kaki ku ke kantin sekolah yang masih sangat sepi. Berbagai macam makanan kecil masih bertumpuk-tumpuk karena belum terjamah oleh ratusan siswa siswi disini yang pada siang hari bagaikan macan kelaparan. Aku memutuskan duduk di sebuah bangku di pojokkan yang menhadap ke lapangan sekolah. Aku sengaja mengambil tempat duduk disana agar aku bisa melihat jikalau temanku datang. Aku sangat benci kesendirian seperti ini. Sangat sepi. Aku butuh teman bicara.
Apakah mungkin karena ini pertama kali nya aku datang pagi ke sekolah, Tuhan mendengar doa ku dan langsung mengabulkan nya. Di hadapanku kini, ada seseorang yang biasanya selalu ku lihat dari kejauhan, tetapi kali ini ia ada dihadapanku. Hanya enam puluh centimeter mungkin jarak yang tercipta antara aku dan dia. Laki-laki yang selama ini selalu aku lihat senyuman nya dari kejauhan. Orang yang selama ini aku perjuangkan, laki-laki yang tetap ada di benakku meskipun kehadiranku diabaikan. Dia lah yang akhir-akhir ini berhasil membuat otak ku dipenuhi oleh diri nya sendiri. Laki-laki yang dulu sangat dekat dengan ku, tetapi menghilang secara mendadak tanpa ada ucapan selamat tinggal atau semacamnya. DIA. Intinya dia yang merusak sistem kerja tubuhku karena setiap malam memikirkan dirinya. Semua sistem imun ditubuhku sempat drop karena nya. Dan saat ini, detik ini, ia hadir lagi tepat dimana aku sedang membutuhkan teman bicara. Mengapa harus dia? Dahulu, saat aku mulai menyayangi mu, kau pergi tanpa meninggalkan sepatah dua patah kata padaku. Saat ini, ketika aku hamper berhasil untuk menghapus semua memori otakku tentang dirimu, kau hadir kembali. Tidakkah kau memikirkan aku yang sangat amat tersiksa dengan kehadiran mu yang seperti angin putting beliung ini? Datang selalu tak terduga dan berhasil mengobrak-abrik isi hatiku. Lalu pergi begitu saja meninggalkan luka yang sangat perih. Aku benci, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku menyukai kehadiranmu saat ini. Aku hanya mampu melemparkan senyum kecutku saja. Tapi mengapa kau meresponnya dengan sangat berlebihan? Kau bisa membalas sapaanku tanpa harus mengacak-acakkan rambutku seperti ini. Hal yang mengundang ribuan memori tentang mu muncul kembali di otakku. Ah, memang benar bahwa cinta itu selalu memaafkan. Aku menurunkan sedikit emosi yang sempat muncul bersamaan dengan kehadiranmu tadi.
Dia menanyakan mengapa aku datang sangat pagi pada hari ini. Aku jelas mengatakan bahwa aku memang berniat masuk amat pagi saat ujian nasional. Dan aku berterus terang bahwa aku sangat kesulitan menjawab soal limit ini. Aku langsung saja mengalihkan pembicaraan agar aku tidak terlihat grogi. Rupanya dia membantu ku menjawab soal limit yang aku tidak mengerti tadi. Bahkan ia sempat-sempatnya menjelaskan bagaimana hasil itu ia dapatkan. Mengapa aku bisa lupa bahwa kau sangat pintar dalam matematika ya? Mungkin ini efek dari mengurangnya sistem kekebalan tubuhku. Secara tidak langsung, aku pun menanyakan semua soal-soal yang kemarin aku tidak mengerti. Dan dengan sabarnya kau menjelaskan semua padaku. Aku paham betul semua yang kau jelaskan. Padahal kemarin malam, soal-soal limit trigonometri, limit tak terhingga dan segala macamnya sangat sulit tercerna di dalam otakku. Tapi kini, soal itu sangat mudah, lebih mudah dibandingkan menghitung satu ditambah satu. Kehadiran mu cukup menghangatkan ku, otakku, dan tubuhku. Perlahan, semua akan kembali seperti dulu. Ah, laki-laki ini memang yang tak pernah bisa kulupakan.
Waktu pun terus berlalu, 15 menit lagi pun ujian nasional akan dimulai. Aku sudah sangat siap dengan semua materi yang kemarin malam aku pelajari dan yang baru saja aku pelajari. Aku dan dia pun segera meninggalkan kantin karena sebentar lagi ujian akan dimulai. Tapi seandainya aku tidak meninggalkan kantin bersamaan dengan dia, mungkin aku tidak akan melihat kejadian yang cukup mengenaskan bagi hati ku ini. Saat kami akan berpisah karena memang kami berbeda ruangan, aku melihat seorang gadis yang sangat amat aku kenal, dia angkatan di bawah kami. Adik kelas. Aku melihat dari sudut mataku, laki-laki itu menyambut kehadiran gadis itu dengan senyuman yang mengembang dari bibir nya. Laki-laki itu sempat menoleh kearahku sambil berjalan berdampingan dengan gadis itu. Aku sempat melihat mulutnya mengucapkan sebuah kalimat dengan volume suara yang sangat kecil, seperti berbisik. Mungkin artinya, ‘Ini pacar baru ku, nanti aku kenalin ke kamu, sahabat ku’
Ternyata aku hanya sahabat? Haha.. Aku pun hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan mereka. Aku tidak menangis. Tidak bisa menangis. Aku berjalan menuju ruanganku dengan pandangan kosong. Memang aku tidak menangis, tapi siapa yang tahu isi hatiku? Aku ibaratkan telah terbang diangkasa, lalu jatuh terhempas begitu saja. Mengenaskan. Sedih sekali aku ini. Ibaratkan sebuah gula yang terasa sangat manis di lidahku, tetapi sangat mematikan bagaikan sianida di tenggorokanku.

Terlambat Mencintai


                Menyukai seseorang itu lumrah. Saling menyukai itu wajar. Tapi jika misalkan, kita menyukai seseorang, lalu teman kita juga menyukai nya dan ia berusaha merebut orang yang kita cintai untuk mencintai nya, apakah itu wajar?

                Rara dan Mira sudah bersahabat sejak mereka masih duduk ditaman kanak-kanak. Rara sangat mirip seperti laki-laki. Sedangkan Mira sangat lembut. Mereka bagaikan dua manusia yang bertolak belakang. Tetapi persahabatan tidak mengenal perbedaan. Sejak kecil mereka selalu bersama. Hingga sampai menginjak SMA.
                Rara menaruh hati pada Kevin, laki-laki pendiam, jago eksak dan seorang ice-breaker. Rara, Kevin dan Mira sangat dekat, karena mereka pernah satu kelas saat SMP dulu. Sejak kelas satu SMA, Mira lah yang menjadi tempat Rara menyimpan rahasianya tentang Kevin. Dimana Rara selalu heboh jika melihat Kevin melewati kelasnya, saat Kevin tersenyum kepadanya. Semua ia curahkan kesenangan dan kegembiraan nya itu kepada Mira. Rara juga selalu bercerita tentang berbagai penolakan Kevin. Misalkan saja saat Rara mengajak Kevin melihat-lihat buku di toko buku dekat sekolah, Kevin selalu beralasan ada bimbel yang berarti menolak ajakan Rara secara halus.
                Kevin selalu terlihat mempesona di depan mata Rara. Kevin selalu memberikan rasa nyaman bagi Rara. Hal itu selalu Rara nikmati tiap detiknya. Tangan Kevin yang besar yang sering mengacak-acak kan rambut Rara. Mengatai Rara bahwa rambut Rara sama halusnya dengan bulu shitzu kesayangannya. Dengan begitu Rara akan mengembungkan pipi nya tanda kesal dan selalu mengundang gelak tawa dari Kevin. Kevin sering menggoda Rara, dan hal itu selalu membuat muka Rara bersemu merah. Kevin tidak tahu bahwa Rara menyayangi nya, mencintainya. Kevin tidak peka. Itu yang membuat Rara sedikit kesal. Rara sangat ingin mengungkapkan perasaannya. Tapi Rara ingat, bahwa dia adalah wanita. Sedikit aneh jika Rara mengutarakan perasaanya. Hingga perasaan itu hanya bisa terpendam di dalam hati Rara.
                Hingga saat Prom Night, atau pelepasan siswa kelas XII, Rara ingin mengutarakan perasaannya. Ia sudah tidak peduli dengan aturan bahwa ia adalah wanita. Saat itu, Rara, Mira dan Kevin sedang menikmati hidangan yang disajikan. Mereka bertiga sedang tertawa terbahak-bahak di sebuah meja yang ada dipojok. Meja itu berbentuk persegi.  Terdapat 4 kursi disana. Rara berhadapan dengan Kevin, dan Mira disebelah Kevin. Saat bersenda gurau, Kevin sering kali mengacak-acak kan rambut Mira sambil mengatai rambut Mira mirip dengan Shitzu seperti dirumahnya. Rara cemburu, geram. Rara yang melihat itu merasakan hal yang aneh. Tapi Rara tidak ingin berburuk sangka. Tatapan mata Kevin saat menatap Mira sangat beda. Susah untuk dijelaskan. Rara semakin mencium tanda-tanda keanehan. Tapi sekali lagi, Rara tidak ingin berburuk sangka. Tapi memikirkan tangan Kevin yang biasanya mengacak-acakan kepalanya itun beralih ke kepala sahabatnya, sangat membuat hati nya panas. Terbakar api cemburu.
                Rara tidak ingin menunggu lama lagi, saat ia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, Kevin memotongnya terlebih dahulu. Rara terdiam sesaat. Ia melihat Mira menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan, tebak Rara dalam hati. Hingga akhirnya, Kevin mengatakan kalimat itu dengan santainya, tanpa beban. Tanpa memikirkan hati Rara yang hancur berkeping-keping.
“Ra, aku mau ngasih tau kamu. Aku udah jadian sama Mira dari 6 bulan yang lalu. Aku sengaja ngasih tahu kamu malam ini, buat bikin kamu kaget. Hehe..”
                Rara terdiam. Ia menatap Mira, lalu menatap Kevin. Ia menatap Mira dengan tatapan penuh benci, ia menatap Kevin dengan tatapan nanar.
“Oh, udah 6 bulan ya? Selamat ya, Mira, Kevin. Langgeng terus ya.. Eh, aku mau ke toilet dulu yah..”
                Kevin menatap kepergian Rara dengan pandangan aneh. Lalu ia bertanya kepada Mira.
“Rara udah suka sama kamu semenjak kita kelas satu SMA, Vin. Aku yang salah udah ngerebut kamu dari dia. Mungkin sekarang dia benci banget sama aku..”
                Mira mulai merasa bersalah. Disatu sisi ia ingin mempertahankan persahabatannya dengan Rara, tapi disatu sisi ia sangat mencintai pria ini, pria yang juga dicintai oleh sahabatnya.
                Di toilet, Rara menyesali ketakutannya untuk mengutarakanj perasaanya. Sekarang, semuanya telah terlambat. Kevin dan Mira tidak mungkin dipisahkan. Rara merasa diri nya bodoh, mengapa ia tidak menyatakannya sedari dulu, jika sedari dulu ia utarakan, mungkin Kevin tidak pernah memegang kepala Mira di depan mata nya tadi.
                Rara memutuskan meninggalkan acara Prom Night itu, ia ingin pulang kerumah. Saat sesampainya diluar, hujan deras menghambat langkah nya untuk pulang.
“Hujan, aku selalu benci hujan” Rara pun berjongkok menekuk lutut, menangis sesenggukan. Hujan meredam suara tangisnya. Semua telah terlambat.
                Utarakan lah perasaan mu kepada orang yang kau cintai secepatnya. Lupakanlah derajat mu sebagai wanita, waktu bisa mengubah segalanya. Waktu bisa merebut apa yang ingin kita miliki. Sahabat bisa mengambil apa yang kita inginkan jika kita tidak mengenal siapa dia. Ingat, sebelum semua terlambat. Terlambat...

Menunggu Hujan


                Menunggu itu memang selalu membosankan. Setuju? YA, aku sangat setuju dengan kalimat itu. Menunggu adalah hal yang sangat aku benci. Menunggu itu tak kenal waktu, bisa saja satu menit, satu jam, satu minggu, satu tahun, bahkan bertahun-tahun! Aku tidak akan menunggu bila saja aku tidak mengharapkan kehadiranmu.

                Hari ini adalah malam minggu pertama bagi ku, remaja yang baru menginjak usia 17 tahun. Malam minggu sebelum-sebelumnya, aku selalu menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan dirumah, menonton televisi, bermain game online, bahkan terkadang bermain basket di halaman belakang rumahku. Kali ini adalah malam minggu pertama ku, bukan bersama kekasihku, tetapi bersama dengan orang yang selama ini aku cintai secara diam-diam. Dia berjanji menjemputku di halte dekat rumahku, yang berjarak sekitar 1km. Aku menyuruh nya menjemput disana agar tidak ketahuan oleh orang tuaku.
                Aku berdandan ala kadarnya, baju t-shirt dan celana jins dan sneakers berwarna merah hitam yang senada dengan pakaian yang aku kenakan. Ya, aku memang selalu santai, cuek dengan penampilan. Rambutku aku ikat kuncir kuda ala kadarnya. Aku memakai jam G-shock kesayanganku dan tas ransel Domo kesayanganku. Aku pun beralasan ingin membeli buku kepada orang tua ku. Jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 6 sore waktu setempat. Aku berjalan keluar dari kompleks rumahku. Tiba-tiba hujan turun. Pertama hanya rintik-rintik, lalu semakin deras dan semakin deras. Memang akhir-akhir ini sering terjadi hujan yang tidak terduga. Bahkan ramalan cuaca pun terkadang tidak tepat. Aku langsung berlari layaknya lomba lari marathon. Aku merasakan derai hujan semakin deras. Langit menumpahkan semua isinya. Sial, sepatu sneakers kesayanganku hari ini malah kotor. Setelah 15 menit berlari, akhirnya aku sampai di halte. Sepi. Hanya ada aku seorang. Mungkin kebanyakan orang hanya ingin berdiam diri dirumah saat hujan turun. Begitu pun aku. Jika saja Dia tidak mengajakku malam mingguan, aku pasti akan tidur dirumah, mengambil selimut dan mendengarkan musik. Hah...
                Sudah hampir satu jam aku menunggu, menghitung ratusan kendaraan yang berlalu lalang di bawah hujan. Tapi Dia tak kunjung datang. Badanku menggigil, kedinginan. Aku hanya berharap ia segera datang. Aku sudah sangat lapar, lelah untuk berdiri. Aku melihat jam tanganku untuk kesekian kali. Detik demi detik terus berlalu. Hujan tidak kunjung reda. Mengapa menunggu itu terasa sangat membosankan? Menunggu dibawah hujan sendirian, sungguh miris. Aku menghubungi telefon genggam mu, tapi tidak tersambung. Ah, aku benci! Aku pun memutuskan menembus hujan dan berlari kecil menuju tempat kita menikmati malam minggu ini.
                Sesampainya disana, restoran kecil itu terlihat sepi. Hanya ada satu-dua orang pengunjung yang sedang menikmati makanannya. Hujan semakin deras saja diluar. Aku pun memutuskan duduk di sebuah meja di pojok di sebelah jendela. Aku memesan segelas teh hangat dan mi goreng yang terkenal enak di restoran ini. Aku terus menunggu hingga jam di tanganku menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aku pun tetap menunggu sambil menikmati hidangan yang ada didepanku ini. Tapi entah mengapa masakan direstoran ini jadi terasa aneh, hambar. Hujan tak kunjung henti, aku tak kunjung henti menantimu. Sungguh, aku sangat benci menanti hal yang tak kunjung datang seperti ini. Aku sudah amat bosan menanti. Hingga aku memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki seperti saat tadi aku datang ke restoran ini. Aku benci hujan yang seperti ini. Aku benci menunggu.
                Sesampainya dirumah, rumahku telah sepi. Kedua orang tua ku telah tidur rupanya. Aku memutuskan untuk langsung ke kamarku. Aku menuju ke kamar mandi untuk mandi sekaligus berganti baju. Baju ku sudah sangat basah. Selesai mandi, aku mendapati telepon genggamku bergetar beberapa kali. Ternyata ada 3 pesan singkat yang masuk, semua nya dari Dia.

“Maaf, hari ini aku ada acara mendadak. Aku tidak bisa menghubungimu. Telepon ku rusak. Maafkan aku. Maaf aku membuatmu menunggu. Maaf aku tidak bisa memberitahu mu lebih awal. Dari: Dia”

       Aku berjanji bahwa aku tidak akan mau menunggu lagi jika selalu berakhir seperti ini. Palsu.

Friday, May 10, 2013

Cukup dengan Mu


                Apakah bahagia itu seperti ini? Tersenyum sendiri ketika mengingat hal-hal yang baru saja terjadi terus berputar dikepala ku. Aku sudah seperti orang gila. Selalu tersenyum sendiri bila mengingat hal-hal itu terulang kembali dimemori kepalaku. Romy... Ya, laki-laki itu yang bisa membuatku seperti, bahkan layak disebut orang gila ini. Dahulu, aku dengannya, tidak  se canggung dan se kaku seperti robot. Tapi sekarang, kami seperti dua manusia yang baru 5 menit lalu berkenalan. Aku sangat berterima kasih kepada hujan yang menyatukan kekakuan kami selama hampir sebulan ini. Hujan lah yang menyatukan hubungan kamu yang merenggang ini.
                Pagi tadi, saat aku bertemu dengannya di kantin sekolah, dia memulai melemparkan senyum termanisnya kepada ku. Aku mati kutu. Setelah sekian lama aku merindukan senyuman itu, aku akhirnya dapat melihat senyuman itu lagi. AH, aku sangat merindukannya. Entah mengapa Romy tumben melemparkan senyum itu padaku. Aku hanya terdiam kaku melihat mu, tentunya dengan senyumanmu. Ah...
                Ketika sore hari disekolah saat kita mengikuti pelajaran tambahan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kita bersenda gurau bersama. Kemasukan setan apa sih kamu, Rom? Haha... Ketika aku terdiam sendiri, kau mengajakku berbicara, mengajak ku bercanda. Aku sangat merindukan momen-momen indah seperti ini. Tapi satu yang masih aku rindukan, ketika kau duduk disebelah ku dan membuat hal-hal yang terlihat sepele menjadi lebih istimewa. Dinginnya udara menjadi terasa hangat jika kau disampingku.
                Dan betapa anehnya, aku meninggalkan buku catatan ku di kelas dan kamu yang membawa nya pulang kerumahmu! Aku yang kebingungan mencari buku itu dikejutkan dengan suara dering dari telepon genggamku. Dan ternyata itu Romy..
                “Halo Rom, kenapa malam-malam nelpon aku?”
                “Ini... Buku catatan mu ketinggalan tadi dikelas. Terus aku yang bawa pulang. Kamu dimana sekarang? Aku bawain kerumah ya...”
                “Aku masih beli makanan nih Rom.. Aku aja deh yang kerumahmu ya, nanti malah ngerepotin kamu..”
                “Ya, boleh saja sih Karra.. Aku tunggu dirumah ya..”
                “Ok Rom..”
                Aku pun merasakan Tuhan sengaja membuat kebetulan yang seperti ini. Ah Tuhan... Terima kasih banyak atas segala bantuanMu..
                Aku pun langsung meluncur dengan kecepatan tinggi menuju kerumah Romy. Sesampainya disana, Romy sedang asik menikmati bintang-bintang yang bertaburan di langit. Walaupun Romy sedang asik menikmati bintang-bintang itu, Romy tetap menyadari kehadiran ku.
                “Cepet banget sampainya, ngebut ya?”
                “hehe.. Tau aja kamu Rom..”
                “Nih bukunya..” Sambil menyodorkan buku itu kepadaku.
                Pada saat itu, aku melihat senyuman Romy yang begitu khas. Tanpa aku sadari, semenjak aku datang, ia sudah tersenyum sendiri seperti itu. Ada apa ini Tuhan? Kenapa jantungku malah berdetak lebih cepat?
                “Rom.. Aku pulang duluan ya.. Udah malem nih..”
                “Oh iya deh Karra, hati-hati ya...”
                Aku pun langsung berbalik arah dan menuju ke rumah. Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum layaknya orang gila.
                Ternyata bahagia semudah itu untuk didapatkan. Cukup berada didekatmu, melihat senyummu, dan berbicara denganmu, itu sudah cukup membuatku bahagia seperti ini. Ah, andai saja kau milikku Rom.. Andai saja kau kekasihku, akan selalu kujaga dirimu....

Wednesday, May 8, 2013

Senandung Hujan


                Tepat sebulan sudah hubungan kita merenggang seperti ini. Tak pernah bertegur sapa layaknya tak saling kenal. Tak saling melempar senyum. Orang asing...
                Hujan.. Aku selalu percaya hujan memiliki kesan tersendiri bagi setiap orang. Tepat sore tadi, hujan lah yang menyatukan kekakuan hubungan kita. Walau tak sepenuhnya mencair, setidaknya tidak serenggang dan sekaku kemarin. Sebenarnya aku heran, sedari pagi hingga siang hari tadi, tidak ada tanda-tanda bahwa langit akan menumpahkan isi nya. Bahkan aku tidak sempat melihat adanya awan-awan hitam yang menggelayut di langit siang itu. Entah darimana datangnya, saat kita duduk bersebelahan memandang langit, hujan turun dengan derasnya. Aku dan dia saling memandang, mata kami bertemu, kami terdiam untuk beberapa saat. Mata itu, mata yang hangat. Mata yang dulu selalu membuat ku meleleh. Senyuman itu, senyuman yang selalu aku beri sebutan ‘ice breaker’. Ah, walau hampir sebulan aku tidak berkomunikasi dengannya, dia tidak banyak berubah. Dia masih seperti yang dulu... Laki-laki yang hangat. Laki-laki yang bisa membuatku tersenyum setiap saat.  Kini, setelah satu bulan aku tidak merasakan hangat dirinya, kini aku kembali merasakannya. Tepat dihari ini, di hari satu bulan kami kehilangan komunikasi. Aku membuka percakapan dengannya. Aku merasakan kecanggungan dan kekakuan di nada bicara kami. Kami layak nya dua insan yang baru saja berkenalan 5 menit yang lalu.
                Aku sangat ingin mengetahui alasan mengapa ia menjauhiku terdahulu. Tapi pertanyaan itu tak kunjung ku lontarkan padanya. Ada sedikit rasa takut saat aku menanyakannya. Aku takut dengan jawaban yang akan ia berikan. Jadi aku memilih untuk diam dan menikmati dinginnya hujan bersama dengannya. Aku mulai bercanda dengannya walau terkesan membosankan dan canggung. Mata kami sering bertemu. Aku merasakan mata kami ingin mengatakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu.
                Ah, aku sangat merindukanmu. Sangat. Apakah hanya hari ini saja kita seperti ini? Apakah esok kita akan tetap seperti hari ini? Kembali bersenda gurau, bercakap-cakap, bergosip dan melakukan hal aneh bersama. Akankah?
                Aku memikirkan berbagai macam kemungkinan. Aku terdiam menatapi butiran-butiran hujan yang mulai membasahi tanah ini. Kau pun terdiam. Kita ada dibawah hujan, terdiam dalam diam, hanya ada suara rintik hujan. Bisakah hujan lebih mencairkan suasana ini? Aku benar-benar merasa canggung, kikuk, grogi, dan segala macam perasaan saat kita baru pertama berkenalan dengan orang baru. Tapi aku tetap menghargai betapa berharganya hari ini. Akan selalu aku ingat di memori otakku ini.
                Sungguh, aku sangat berterima kasih dengan datangnya hujan hari ini. Entah berterimakasih untuk hal apa, aku hanya ingin berterima kasih. Memang benar kan, hujan memiliki senandung berbeda-beda di setiap telinga yang mendengarnya. Hujan juga membuat kenangan kita lebih terasa. Ah hujan.. Aku menyukai senandung hujan yang saat ini Ia senandungkan....

Wednesday, May 1, 2013

Bahagia dan juga Rapuh itu Satu Paket


                Aku memang gampang jatuh cinta. Ya, tapi hanya sekedar cinta monyet belaka. Padahal umurku sudah hampir menginjak 17 tahun, cukup dewasa. Tapi terkadang aku tidak benar-benar mencintai seseorang. Mungkin sudah banyakn kakak kelas ku yang dulu sempat aku sukai. Tak lebih dari sekedar ngefans. Dan sekarang, entah mengapa, padahal aku dengannya hanya berteman, tapi sudah cukup banyak memori yang aku buat dengannya. Ya, dia Bryan. Teman seperjuanganku yang bisa dibilang masuk Top 5 Wanted Boy’s disekolah ini. Bisa dibilang aku beruntung karena aku  bisa dekat dengan Bryan. Aku tidak terlalu senang dengan laki-laki yang dianggap terkenal disekolah ku. Karena sudah pasti, mereka sombong, dan mata keranjang. Oh iya satu lagi, playboy! Jabatan itu selalu mengandrungi setiap laki-laki yang dianggap Prince di sekolahku itu. Tapi berbeda dengan Bryan. Bryan sangat berbeda dari laki-laki yang terkenal sebelumnya. Ya, walaupun memang ia dekat dengan banyak wanita disekolah ini. Dari kakak kelas, angkatanku, dan adik kelas. Entah apa yang menarik dari Bryan, padahal menurutku dia biasa saja. Aku lupa kapan tepatnya kami jadi akrab seperti ini.
Bryan.. Ya, dia sempat digosipkan menyukai adik kelas. Ada pula yang mengatakan Bryan sedang mengincar ketua PMR disekolahku yang merupakan kakak kelas. Aku tidak peduli dengan itu semua. Ah, buat apa aku membicarakan Bryan dengan seribu selirnya? Mending deh aku flashback tentang kebersamaan ku sama Bryan dulu. Walaupun teman, banyak orang yang mengatai kami telah jadian. Aku langsung saja menyangkal hal itu. Bryan pun sepertinya tidak senang jika teman-temannya mengatai bahwa ia adalah kekasihku. Baiklah, lupakan saja hal tidak penting itu.
Saat itu, sore hari disekolah. Saat aku sedang mengikuti extra basket, Bryan datang bersama teman-temannya menuju ke lapangan indoor untuk bermain bulutangkis. Mata kami sempat beradu, tapi langsung ku alihkan tatapan mataku. Aku pun  kembali konsentrasi untuk bermain basket. Sepulang basket, aku lupa bahwa aku ada bimbel. Aku lupa menghubungi supirku untuk menjemputku. Aku sangat takut akan berdiam diri disekolah sampai malam karena supirku tidak menjemputku. Tiba-tiba terdengar suara motor yang sangat khas dari dalam sekolah. Dan pemilik motor itu hanya seorang disekolahku. Bryan.
                Ia menawariku tumpangan menuju bimbel. Karena kebetulan ia juga mengikuti bimbel ditempat yang sama tetapi beda kelas. Sesampainya di tempat bimbel, kami menuju kelas masing-masing. Tapi aku heran dengan Bryan yang tidak masuk kelas melainkan mengikuti ku masuk ke kelasku. Bryan pun masuk ke kelas ku dan mengambil tempat duduk di sebelahku. Pikiranku saat itu sudah sangat bercabang. Mungkin Bryan kesambet jin atau salah makan, karena tiba-tiba ia duduk disebelahku. Karena memang tidak tempat lagi, mungkin hanya kebetulan saja. Hmm..
                Detik demi detik berlalu, waktu demi waktu berlalu, aku dan Bryan menghabiskan 2 jam ditempat les itu dengan duduk berdampingan. Aku tidak tahu saat itu bahwa ada penyakit yang menyerangku, entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa mungkin arteri jantungku rusak? Atau ada penyakit berbahaya lainnya?? Langsung ku tepi semua pikrian burukku itu. Kau pasti sudah tau aku terkena penyakit apa pada saaat itu. Jatuh cinta.
                Semakin hari, Bryan semakin sering ikut dikelasku, dan akhirnya ia memutuskan pindah ke kelasku. Selama bimbel, ia selalu bersikap manja layaknya sepasang kekasih. Setiap pasang mata yang melihat kami hanya tersenyum penuh arti yang tidak perlu diucapkan oleh kata-kata. Kami seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia. Terkadang ia tertidur di bahuku, terkadang ia menggengam tanganku dengan alasan tangannya dingin, terkadang ia meminjam alat tulisku, ah, semua hanya tentangnya. Aku pun tahu apa yang ia sukai, mulai dari makanan, minuman ringan dan segala macam. Terlalu banyak waktu yang kita habiskan bersama. Tapi tidak ada ikatan antara kita, bukan kekasih. Ingat. Bukan kekasih.
                Tapi aku senang, cukup seperti ini pun aku bahagia, aku tidak terikat dengannya. Aku dan Bryan sama-sama bebas melakukan apapun. Hanya saja, jika dia mulai ada disebelahku, aku dan Bryan mulai terlihat berbeda.
                Terlalu banyak waktu dan kenangan yang kita habiskan bersama dan kita ukir. Memang aku tidak mengharapkan lebih darimu, seperti menjadi kekasihmu. Karena aku tahu, aku bukanlah tipemu. Tapi siapakah yang tau isi hati ini? Bahwa terkadang aku merasakan sedikit perih ketika melihat mu bersama gadis lain? Siapa yang bisa melarang hati ini untuk tidak jatuh cinta? Siapa juga yang tahu bahwa suatu saat kau bisa mencintaiku? Isi hati tidak ada yang pernah mengetahui nya. Mungkin saja wajah kita gembira, tetapi hati kita rapuh. Seperti aku saat ini........

Separah itukah Sebuah Kata Maaf?


                Sebegitu sulitkah sebuah kata ‘aku telah memaafkanmu’ terucap dari bibirmu? Apakah karena kau memang bukan orang yang pemaaf? Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Tahukah kau bahwa aku butuh waktu berhari-hari hanya untuk menuliskan sebuah pesan singkat yang sangat singkat, ‘maafkan aku jika aku sempat menyakiti hatimu atau ada sikapku yang tak karuan. Maafkan aku.’ Tahukah kau bahwa aku butuh keberanian tinggi untuk menuliskan sebuah kalimat itu saja? Tahukah kau, aku berkali-kali menghirup dan menghembuskan nafas hanya untuk mengetikkan kalimat itu? Aku berharap kamu akan memberi ku sedikit kata aku telah memaafkanmu,tapi tidak kusangka. Tidak ada jawaban darimu. Tidakkah kau memikirkan diriku yang berjam-jam memandangi alat komunikasi ku ini? Berjam-jam pula aku menunggu balasan darimu. Aku selalu mencoba berfikir positif, mungkin saja kau tidak memiliki pulsa untuk membalas, baterai handphone mu habis, handphone mu rusak dan berbagai ribuan persepsi aku coba untuk menenangkan hatiku yang tidak bisa menunggu lama ini. Yah, dan akhirnya, setelah 5 jam menunggu, tetap nihil; tidak ada balasan. Seketika aku langsung putus asa. Dan aku yakin, kau tidak ingin membalas pesan singkatku itu. Betapa menyedihkannya diriku, sangat miris. Menanti hal yang tak pasti, yang tidak tahu kapan datangnya.
                Apakah aku masih salah? Bayangkan saja, aku tidak tahu siapa yang salah diantara kita berdua, entah aku atau kau. Tapi coba pikirkan betapa bodohnya aku yang meminta maaf terlebih dahulu tanpa tahu siapa yang salah. Hahahaha, tawaku meledak sekeras-kerasnya. Ibarat ada 2 buronan polisi, yang satu tersangka dan yang satu hanya teman tersangka, tetapi teman tersangka itu menyerahkan diri kepada polisi. Coba kau pikirkan sedikit saja tentangku, mengapa aku menjadi seperti teman tersangka itu? Apa perlu aku beri jawaban langsung tanpa harus memberi waktu pada otakmu yang seperti otak udang itu untuk berfikir? Itu semua karena aku tak ingin kehilangan dirimu. Hanya itu saja. Sangat simple tapi terlihat bodoh. Parno.
                Aku tahu kau pasti memilki mulut yang bisa kau gunakan untuk bicara. Setidaknya kau bisa memberitahu apa yang menjadi alasan dari merenggangnya hubungan kita ini. Apakah kau tidak bosan dengan pertanyaan yang aku lontarkan padamu tiap saat? Tidakkah kau berkeinginan sedikit pun untuk menjawab pertanyaan yang sepele itu? Apakah memang semua laki-laki itu pengecut? Aku rasa tidak. Aku tahu siapa kamu, kamu adalah seorang pemberani, bukan pengecut.
                Apa mungkin karena kau sudah bosan terus berada di sisiku sementara hubungan kita hanya begini saja? Atau mungkin kau telah menemukan dambaan hati baru yang mungkin lebih bersinar dan menggairahkan dariku? Atau ada alasan lain? Bisakah kau buat aku untuk tidak terus berburuk sangka padamu terus? Bisakah kau buat aku untuk berhenti memikirkan berbagai kemungkinan yang kebenarannya belum terbukti ini? Sungguh jujur saja, aku sudah sangat bosan hidup didunia sinetron ini yang penuh dengan perasaan gundah gulana, galau, resah dan berbagai macam rasa membosankan lainnya. Aku sangat ingin merasakan kehangatan dirimu, bukan seperti saat ini. Dirimu yang sangat dingin bagaikan es dikutub utara.
                Se laknat hamba-Nya, Tuhan saja masih bisa memberi hamba-Nya kesempatan untuk berubah dan memaafkannya. Tidak bisakah kau berkelakuan seperti itu? Sebesar itukah rasa bencimu kepadaku sehingga kau tidak ingin memaafkanku? AH..