Tuesday, April 30, 2013

Aku, Kamu dan Dia. Complicated!


                Keadaan ini semakin memburuk saja. Hubungan ku dengannya tak kunjung mencair. Tetap kaku, canggung bahkan seperti orang asing. Sekedar sapa atau senyuman tak lagi ada diantara kita. Bahkan saat aku dan dia berpapasan, aku dan dia benar-benar seperti orang yang tidak saling mengenal. Sungguh menyiksa perasaan ku. Pesan singkatku tak pernah lagi dibalas olehnya. Panggilan telepon ku selalu diabaikan olehnya. Tapi yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah, kehadiran ku di depannya yang mungkin tak pernah ia inginkan. Kehadiran ku sama sekali tidak diharapkan. Kenapa tidak kau bunuh saja aku?
                Ya, setelah aku ketahui gosip yang beredar dari mulut ke mulut,aku tahu dia sedang menyukai seorang gadis, yang mungkin bisa dibilang sangat manis, cantik dan berbeda jauh dariku. Aku lupa siapa nama gadis itu. Yang ku ketahui dia tidak satu angkatan denganku. Mungkin adik kelas atau kakak kelas. Ya, mungkin saja adik kelas. AH aku tak tau pasti. Hanya sekedar omongan dari mulut ke mulut yang belum terbukti. Tapi entah mengapa aku sangat penasaran dengan gadis itu. Setelah aku sempat menjadi stalking timeline yang sangat naif, aku tau siapa gadis itu. Tidak sia-sia aku korbankan mataku untuk berjam-jam diam di depan laptop dan terus mengklik mouse yang mungkin jika ia bisa berkata ia akan berkata bahwa ia bosan. Bukan gadis, tetapi wanita. Bukan wanita yang telah beristri, bukan juga wanita girang. Dia adalah wanita baik-baik. Aku mengenalnya disekolah. Ia sangat terkenal. Mungkin karena keramahannya, kebaikannya, atau apalah. Ia sangat berbeda jauh dengan aku yang serampangan dan terlihat cuek dengan tubuhku ini. Berbeda dengan wanita itu. Yang sudah diberi kecerdasan, kepintaran, kemanisan, PERFECT. Seketika itu juga aku langsung memikirkan aku dan dia. Apakah mungkin ia sempat menaruh rasa pada wanita serampangan seperti diriku ini? Yang selama ku tau, gadis-gadis yang dulu sempat disukainya tidaklah seperti diriku. Diriku yang jika tertawa sangat lepas, tidak melihat tempat dan waktu. Aku sangat payah. Tidak seperti wanita itu.
                Aku tidak ingin mendapati aku akan galau atau sedih setelah mengetahui hubungan mereka. Karena sebentar lagi aku akan mendapat ulangan harian. Dan jika aku galau, itu akan mempengaruhi kerja otakku yang setelah semalaman aku isi dengan rumus-rumus eksak berganti dengan bayang-bayang dirimu dan wanita itu. Jujur saja, aku tidak munafik. Aku cemburu. Ya, rasa itu ada ketika aku melihat kebersamaan dirimu dengan nya. Apalagi aku sempat menemukan sebuah-dua buah jepretan kamera antara dirimu dengan wanita itu. Terlihat senyuman yang sangat manis. Penuh dengan aura cinta. Jika saja saat itu aku tidak bisa mengendalikan emosi ku, mungkin laptop ini sudah hancur aku banting karena saking cemburunya. Mereka bukanlah pasangan kekasih, tetapi mengapa dari mata mereka seperti bertaut satu sama lain? Mengapa mereka terlihat begitu bahagia? Tidakkah mereka sadar bahwa aku disini memendam rasa cemburu yang sangat dalam?
                Ah, cinta itu memang milik dua insan manusia, dan tidak ada tempat bagi orang ketiga. Aku pun juga berpendapatan yang sama. Tapi apakah hal ini selalu dan harus terjadi padaku? Haruskah aku yanag menjadi orang ketiga diantara kalian?
                Aku tidak bisa memungkiri perasaan sayangku yang semakin hari semakin bertambah, dan meluap. Dan aku yakin perasaan ini akan segera tumpah.
                Sudahlah, jika memang kau memang ditakdirkan untuk wanita itu, aku harus bisa membuat mu bahagia dengan melepaskanmu. Tapi, tidak bisakah kita kembali seperti dulu? Menjadi teman karib? Ya, sekedar teman. Itu cukup bagiku bila kau tidak bisa di dekapku. Ah, tapi bagaimana jika perasaan itu tumbuh kembali. Aku sangat bingung, semua ini sangat rumit.

Saturday, April 27, 2013

Just Camera


                HAH! Pagi ini Kesha sangat tidak ingin masuk kesekolah. Bukan karena apa, tapi hari ini adalah hari pasca-UAS disekolahnya. Sejak tadi pagi, Kesha dan kelima teman-temannya hanya berdiam diri dikelas. Menonton film drama korea yang diputar di laptop teman Kesha. Kesha sudah mati bosan sejak ia memasuki kelas. Ia tak berniat sama sekali untuk melihat ke lapangan dan menonton cowok-cowok yang bermain futsal disana. Kesha tidak suka menjadi satu dari puluhan cewek gila yang meneriakkan orang bermain futsal. Hanya membuang-buang tenaga dan tidak ada artinya. Jadinya sekarang dia hanya seperti orang gila di kelas.
                Kesha pun tidak ingin dia hanya menonton film drama yang akhirnya happy ending itu selama 4 jam kedepan. Kesha pun mengajak teman-temannya beraksi di depan kamera papa nya yang berhasil ia pinjam tanpa ijin tadi pagi. Berbagai macam gaya ia ungkapkan di depan kamera. Maklum saja, Kesha adalah salah satu photoholic. Ribuan pose dirinya memenuhi laptop kesayangannya.
                Mereka akhirnya bosan karena tidak ada hal yang bisa dilakukan. Mereka pun memilih untuk duduk lesehan di depan kelas. Benar-benar tidak ada pekerjaan yang bisa mereka lakukan selain menghitung berapa orang yang melewati kelas mereka. Jam pun terus berjalan, dan akhirnya sebentar lagi adalah jam pulang. Kelas bertambah ramai karena teman-teman cowok kelas Kesha sudah kembali ke kelas karena mereka telah selesai bermain futsal. Saat Kesha sedang asik bermain bersama teman-temannya, tiba-tiba salah seorang teman Kesha memanggil seseorang yang sedang melewati kelas Kesha dan membawa kamera. Teman Kesha itu, Sintya, yang tak kalah narsis dari Kesha pun meminta seseorang itu tadi untuk mengambil foto mereka yang sedang bermain. Kesha pun sangat kaget bahwa laki-laki itu ROMY. Orang yang saat ini paling tidak ingin ditemuinya. Kesha pun tersenyum dengan terpaksa saat beberapa kali bunyi ‘klik’ terdengar dari kamera Romy. Sintya yang ingin mencoba memegang kamera Romy pun langsung mengambil alih menjadi tukang foto. Dan betapa sialnya Kesha, saat Romy mencari tempat untuk mengambil posisi berfoto, Romy berdiri di sebelah Kesha, karena kebetulan hanya tersisa satu tempat disitu saja. Kesha pun tidak mampu tersenyum. Hanya memasang wajah datar. Bagaimana tidak, orang yang saat ini paling anti ditemuinya malah berdiri disebelah nya dan berfoto bersama. Sial. Tapi Kesha tidak dapat memungkiri perasaan itu. Perasaan saat Romy berada disebelahnya, disampingnya. Tapi saat ini, Romy tidak sehangat dulu, ia begitu dingin, sedikit ada kesan ‘keterpaksaan’ saat ia berdiri disebelah Kesha. Perubahan sikap Romy yang begitu signifikan membuat Kesha bingung sendiri. Entah ada kesalahan apa atau perbuatan Kesha yang bagaimana yang membuat Romy seperti itu. Kesha hanya ingin Romy mengatakan apa yang menyebabkan ia seperti itu. Bukankah sungguh menyakitkan jika seseorang yang sudah terbiasa dengan kita tiba-tiba menjauh dan menjadi dingin?

I miss the old You.


                Romy bukanlah Romy yang dulu. Dia telah berubah. Entah ini hanya perasaan ku saja atau memang ini yang sesungguhnya. Romy bukanlah pria yang selalu berada di sisiku, yang selalu mengatai aku ‘bodoh’, yang terkadang mengajari aku bagaimana cara yang benar untuk melihat rasi bintang, bagaimana cara melihat bintang dengan benar, bahkan dia selalu mengacak-acak rambut ku jika aku terlalu lama menangkap apa yang dia maksud. Ah, i miss that moment so,Rom.
                Sudah sekian lama aku tidak pernah bercanda, bertukar pendapat dan bersama dengan Romy. Dia seakan menghilang dari kehidupanku. Dia tidak pernah bertegur sapa denganku, tidak pernah memulai pembicaraan jika bukan aku yang memulainya, tidak pernah mengirimiku pesan singkat seperti yang biasa dia lakukan terdahulu.
                Tepatnya kemarin, saat pembinaan astronomi. Saat aku ingin keluar kelas, aku berpapasan dengan Romy, ia baru saja datang. Dia terlambat. Tidak seperti Romy yang biasanya. Saat itu terpaksa melemparkan senyumku untuknya, agar aku tak dikira sombong. Tapi tak kusangka, senyumanku hanya dianggap angin lalu olehnya. Yang aku rasakan saat itu hanya satu; malu. Aku sangat benci dirinya yang sekarang. Sangat dingin dan menjengkelkan.
                Aku tidak tau apalagi maksudnya. Setelah tidka menghiraukan senyumanku tadi, sekarang ia mengambil tempat duduk di depanku. Ya,tepat didepanku. Aku yang pada saat itu sudah sangat emosi akan sikapnya, tidak memerdulikannya lagi. Aku langsung berpindah tempat duduk di paling depan dengan beralasan tidak dapat berkonsentrasi. Aku tidak peduli akan tatapan mata Romy yang mengikuti gerak gerik tubuhku yang menjauhi kehadirannya, yang dianggap tidak mengharapkan kehadirannya pada saat itu. Aku tertawa bahagia karena aku berhasil menjauh darinya. Tapi apakah itu apa yang sesungguh nya yang aku rasakan? Apakah aku bahagia ketika aku jauh darinya? Sepertinya tidak. Saat itu aku benar-benar telah merasa menyakiti perasaanya. Ah tapi siapa peduli. Jika aku peduli padanya, akankah dia memerdulikanku? Aku yakin tidak.
                Aku pun mengikuti pembinaan astronomi itu dengan perasaan yang sangat tenang. Sangat tenang? Ya, sangat tenang karena aku tidak harus melihat sikap cuek bebek Romy yang membuatku uring-uringan itu. Sungguh, aku merindukan kamu Rom. Kamu yang biasanya ada disebelahku, bersandar dibahuku, selalu denganku. Ada apa denganmu Rom? Mengapa kamu menjauh?

Thursday, April 25, 2013

Need your comment :)

You can comment my post :) If you have to visit my blog, you can write a comment, or maybe request a love word :D
I'm waiting for your comment :)

Katakan atau Tidak?


Tadi pagi, sewaktu pelajaran olahraga, aku mendapati gebetanku sedang bersenda gurau dengan gadis yang dulu sempat berada di titik special di hatinya. Dea. Ya, gadis itu adalah kekasih Bara yang baru saja berpisah secara baik-baik sebulan yang lalu. Semenjak Bara tidak menjalin kasih dengan Dea lagi, dia sering bersama ku, sekedar bercerita, bercanda atau membuat tugas. Karena memang aku dan Bara sesama kelas IPA walaupun beda kelas. Kami sangat akrab. Tapi Bara hanya menganggapku sebatas ‘TEMAN’. Tidak lebih. Berbeda denganku yang saat ini telah menaruh hati padanya. Sebut saja perasaan ini, jatuh cinta diam-diam. Jatuh cinta diam-diam itu memang menyakitkan. Kita tidak bisa protes saat dia bersama siapa dan dengan siapa. Dia tidak tau bahwa kita  mencintainya kan? Lalu jika diam-diam kita ngambek kalau dia bersama gadis lain, apakah dia tau apa alasan kita ngambek sama dia? Tidak. Dia bukan pacar kita, dia hanya orang yang kita cintai, secara diam-diam. Seperti pagi tadi, kelas ku dan kelasnya olahraga bersama di lapangan sekolah. Saat itu kami sedang beristirahat sambil menunggu pengabsenan. Saat itu sudut mataku mencari sosok Bara. Jika aku tau akhirnya akan menyakitkan, seharusnya aku tidak akan mencari sosok Bara tersebut. Tepat saat sudut mataku menangkap sosoknya, aku juga menangkap seorang gadis berperawakan hitam manis, dengan rambut panjangnya yang digerai sebahu, membawa tas dan helm di tangan kirinya. Gadis itu baru memasuki sekolah dan Bara menahan langkahnya menuju ke kelas. Mereka berjalan beriringan, lalu berdiam diri di samping ring basket untuk berbicara. Mungkin berbicara sambil berjalan sangat sulit. Saat itu kulihat Bara sedang menodong Dea untuk meminta seribu atau duaribu rupiah. Kulihat mereka tertawa bahagia, seakan putusnya hubungan mereka bukan suatu halangan bagi mereka untuk menjalin hubungan baik kembali. Kulihat pergelangan tangan Dea digenggam oleh Bara, tanda ia memaksa Dea untuk memberikannya uang.
Kudengar teman-teman sekelas Bara mulai menyorakinya dengan kata ‘ciee’ yang menggema di lapangan. Sedangkan teman-teman ku hanya berkata, ‘Bara, si Katrin panas dalam nih! Hatinya panas! Hahaha...’ Saat itu aku sengaja tertawa berpura-pura untuk tidak menghiraukan Dea dengan Bara. Aku berpura-pura untuk tertawa dengan lepas agar teman-temanku tidak mengira aku cemburu akan kedekatan Dea dengan Bara tadi. Betapa menyedihkannya diriku ini. Aku tidak menyadari bahwa Bara sempat menangkap mata ku saat aku menatap Dea dan Bara tertawa tadi.
Sepulang sekolah, aku berpapasan dengan Bara. Aku ingin menyapanya, tapi kuurangkan niatku itu. Rasa perih yang ia torehkan secara tidak sengaja itu masih membekas di hatiku. Ya, cemburu. Jelas aku cemburu. Hal itu terjadi begitu saja didepan mataku. Sangat cepat dan terekam begitu saja. Aku bahkan masih bisa mereplay kejadian itu berkali-kali didalam otakku. Dan itu semakin membuat api cemburu semakin membesar dihatiku ini. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Bara begitu saja, karena dia tidak tau bagaimana perasaan ku padanya. Aku tidak berhak untuk marah, bahkan untuk memarahinya. Ingat, dia hanya teman. Tidak lebih. Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh begitu saja. Padahal, sewaktu Dea menjadikan Bara sebagai someone special diulang tahunnya saja  aku tidak memiliki sedikit rasa cemburu. Wajar saja karena pada saat itu mereka masih memiliki status sebagai sepasang kekasih. Bahkan saat itu aku masih sempat merestui hubungan mereka sampai kakek-nenek. Bahkan dulu aku sempat mendoakan agar hubungan mereka tidak putus. Tapi entah mengapa saat ini aku ingin menarik semua doa yang aku ucapkan kepada mereka terdahulu.
Aku tidak tau kapan rasa sayang ini  mulai muncul. Aku tidak sadar kapan aku mulai khawatir ketika sepulang futsal dia tidak langsung pulang kerumah, aku takut jika ia mulai menjauh dariku. Aku sadar bahwa aku mulai menyayangi nya, bukan sebagai teman, melainkan lebih dari itu. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk mengungkapkan perasaan ku ini. Aku sangat takut jika nantinya perasaan ini hanyalah perasaan yang dianggap angin lalu, hanya bertepuk sebelah tangan. Aku tidak ingin Bara menjauh nantinya. Lebih baik aku dan dia cukup sebagai teman. Tidak masalah jika ia tidak mencintaiku kembali, asalkan aku bisa bersama nya setiap waktu. Menatap senyum manisnya, bersenda gurau dengannya, bersama dengannya. Mungkin suatu saat perasaan ini akan hilang dengan sendirinya karena tidak terbalaskan. Ku harap begitu. Karenan terkadang akupun terasa sakit sendiri jika aku melihatnya ia bertingkah mesra dengan gadis lain, terutama Dea. Ah, aku jadi semakin bingung. Aku harus mengungkapkan perasaan ini dan menerima apapun jawabannya, sekalipun dia menjauh atau aku harus tetap memendam rasa ini agar aku tetap bisa berada disampingnya hanya sebagai teman. Ah aku bingung....

Wednesday, April 24, 2013

Sahabat Terjahat-ku

Aku bukanlah gadis yang lemah lembut. Yang akan diam saja jika ada orang yang membentakku. Sekalipun dia adalah Sahabatku sendiri.
'Indri, kamu itu pengecut banget! Kamu cuma berani ngomongin mereka dibelakang saja! Apa sih susahnya bilang sama mereka kenapa kamu ngemusuhin mereka! jangan jadi loser dong Ndri!'
'KEVIN!! Aku gak suka kalo kamu bentak-bentak aku kayak gitu! Kamu dari dulu cuma bisa nyalahin aku aja! Ngatain aku egois lah, keras kepala lahah. Semua yang jelek-jelek kamu kasih ke aku! Sahabat macem apa kamu Vin??'
Aku pun berlari meninggalkan Kevin yang dengan bahagia nya mengumpatku dan menyalahkanku. Si Clara juga ikut-ikutan ngebela Kevin! Mereka berdua itu sahabat macam apa sih? Bisanya cuma nyalahin aku aja. Ngatain aku egois, emosian. Emang nya mereka gak pernah emosi, gak pernah egois? SUMPAH! Aku benci banget sama mereka. Aku gak peduli udah temenan sama mereka dari TK. Buat apa aku temenan sama sahabat yang cuma bisa menjerumuskan aku?
Memang saat ini aku sedang ada sebuah konflik kecil dengan Dwi dan Stella. Hanya karena aku memosting sebuah status di Facebook yang kata mereka status itu ditujukan pada mereka. Padahal aku hanya mengutip sebuah kata-kata dari novel. 
Dan saat aku menceritakan ini ke Clara dan Kevin, mereka dengan semangat membara mengatai bahwa aku yang salah, dan aku harus meminta maaf pada mereka. Apa maksud mereka? Aku harus mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat? Ini gila!
Aku benci mereka yang memihak Dwi dan Stella yang  notabene baru mereka kenal beberapa bulan yang lalu. Aku benci Clara dan Kevin! Aku benci sahabat ku! Mereka penipu!!

Hingga suatu hari, tepat seminggu aku bermusuhan dengan Clara dan Kevin, aku menyadari sikap mereka yang pada saat itu membentakku.
Ada sebuah acara televisi yang membuat aku tersadar akan apa arti sahabat sebenarnya.
Masih teringat jelas apa yang saat itu aku dengar dari televisi: Sahabat, sejahat apapun mereka, mereka cuma pingin ngelakuin yang terbaik untuk kita. Walaupun dengan cara yang terkadang menyakitkan perasaan kita. Tapi percayalah, sahabat sejati tidak pernah menjerumuskan kita.
Pada hari itu, aku langsung mencari Clara dan Kevin saat bel istirahat di kantin. Dan aku menemukan mereka sedang menikmati bakso yang baru saja dipesan. Disana juga ada Dwi dan Stella.
Ya! Tekad ku sudah bulat! Harus sekarang. Tegasku dalam hati.
Aku pun langsung menghampiri mereka.
'Dwi, Stella, maafin aku karena status facebook ku ya. Status itu tidak aku tujukkan padamu. Sungguh, aku tak berbohong. Clara, Kevin, aku tau kalian memang sahabatku, kalian gak pernah menjerumuskan aku, maafin aku Kevin, Clara' Kataku dengan sungguh-sungguh pada saat itu.
Mereka berempat hanya menatapku dengan penuh tanda tanya.
Aku yang terkenal gengsi memulai kata maaf, untuk pertama kalinya meminta maaf.
Mereka berempat hanya memandangku dengan tatapan heran. Lalu mereka tertawa bersama. Senyum ku pun mengembang. Aku sudah tahu jawabannya.
Dan aku tau, sejahat apapun sahabat, dia hanya mengharapkan yang terbaik untuk sahabatnya. That is true.

David, Sebuah Cinta Terpendam

'Kamu yang salah Dav! Kamu yang duluan nyuekin aku kemarin dikelas!'
'Kamu kali Nda! Kemarin waktu aku minjem buku bahasa inggris mu, kamu gak sempet ngomong apa-apa ke aku!
'Ih kamu itu ngeselin banget sih Dav!'
Ya,beginilah hubunganku dengan David akhir-akhir ini, salah satu sahabat terbaikku, kedua setelah Putra.
Aku kenal David 3 bulan yang lalu, saat kami bertemu di acara sweet Seventeen sahabatku, Dinda.
3 bulan yang lalu, hubungan kami sangat dekat. Bahkan banyak yang mengatai kami bahwa kami telah berpacaran. 'Jangan ngaco deh kalian' . Selalu aku berkata kepada orang-orang yang menggosipkan kami.
Memang, aku sebenarnya tidak ada rasa dengan David. Ya, sebelum kejadian beberapa minggu lalu, saat kami bertemu secara tidak sengaja di Aula sekolah. Saat itu aku sedang membolos, karena aku sangat benci pelajaran Fisika. Membuat kepalaku menjadi benang kusut saja.
Kebetulan pada saat itu dia ditugaskan oleh wali kelasnya untuk mengambil sebuah kursi di Aula.
'Eh david, ngapain kamu Dav?'
'Ini nih, ngambil kursi, disuruh sama wali kelas ku. Kamu ngapain disini? Bukannya dikelas kamu lagi belajar Fisika?'
Ya,wajar saja jika David tahu. Karena kelas nya dan kelasku bersebrangan.
'Aku lagi mengistirahatkan otak sejenak. Fisika cuman buat kepala ku pusing'
Dia pun berjalan mendekati aku yang saat itu duduk lesehan di lantai Aula yang terbilang mengkilap karena setiap harinya di bersihkan. Dia duduk disebelah ku.
Entah mengapa aku merasakan detak jantungku menjadi lebih cepat. Apa aku terkena serangan jantung? Ah,  tidak mungkin!
'Kamu tuh, kalo gak suka sama fisika, kenapa masuk kelas IPA sih? Karena gengsi ya?'
'Engga kok Dav, aku cuma lagi gak pingin ikutan fisika aja, cerewet amat sih!'. Aku jawab pertanyaannya dengan ketus. Karena aku tak senang ada orang yang terlalu mengurusi urusanku.
'Duh, galaka banget sih kamu, Dinda jeleeeekk!'. Tangannya seperti memukul kepalaku, tapi tidak terasa sakit. Lalu dia mengacak-acak poniku yang terjuntai kebawah.
Sangat romantis.
Aku pun menggembungkan pipiku tanda kesal. Tapi bukannya merasa bersalah, ia malah tertawa melihat wajahku yang katanya seperti balon itu.
Entah mengapa, saat itu aku baru menyadari satu hal, aku menaruh hati padanya.
Tapi sepertinya ini terlalu cepat. Bagaimana jika dia tidak menaruh rasa padaku?
Ah, sepertinya, mencintai orang yang ada di sebelah kita tanpa diketahui, merupakan suatu tantangan. Tapi apakah perasaan ini akan bertahan lama, jika hanya dipendam didalam hati? Ah, sepertinya jatuh cinta itu memang harus diungkapkan. Bukan dipendam seperti ini. Betul kan, David?

Monday, April 22, 2013

Sebuah Pesan Singkat

"Kamu gimana kabar? Baik? kayaknya engga deh. Itu buktinya kamu selalu mengumpat sama dia.
Kamu ada masalah apa? Cerita dong ke aku, siapa tahu aku bisa bantu.''
Hahh... Kata-kata itu tak sempat ku ketikkan smartphone ku yang sedari tadi hanya ada di genggaman tanganku. Sejak kapan sih aku jadi pengecut seperti ini?
Bahkan hanya untuk mengirimkan sebuah pesan singkat tanpa harus bertatap muka dengan orang yang kukirimi pesan saja tidak berani.
'Kalau aku SMS patsti gak bakal dibales. Duh'
Hanya itu yang selalu ku ucapkan saat aku ingin mengiriminya sebuah pesan singkat. Sehingga aku pun tak pernah mengiriminya pesan.
Hingga suatu hari, smartphone ku berbunyi, aku pun dengan enggan meraih telepon genggamku itu. Saat kulihat layar handphone ku, aku terbelalak. Diam membisu.
Dika? Kernapa dia tumben ngeSMS aku ya? Tanyaku dalam hati, karena selama ini, aku sangat takut untuk mengiriminya pesan singkat karena takut tidak dia balas. Tapi ternyata, hari ini, malah dia yang mengirimi aku pesan.
'Kenapa dika? Tumben sms nih..' Entah mengapa aku sempat mengetikkan kata 'Tumben sms nih' , awalnya aku tak tau maksud kalimat itu. Tapi belakangan aku tau, bahwa kalimat itu berarti 'Kamu kemana aja sih? Gak tau ya kalo aku kangen kamu!' . Hati tidak pernah salah dalam bertindak.
'gak kenapa sih, cuma pengen aja gitu ngirimin kamu SMS, boleh kan? Hehe..'
'Aku kangen kamu Dika.. Tapi kidding. Hihi..'
Yes! Aku bisa SMS an sama dia lagi. Aku selalu menikmati masa-masa dimana aku tersenyum sendiri ketika membaca pesan darinya. Hah, kenapa aku ini?
Ternyata aku sangat merindukannya, sangat teramat! 
Walaupun hanya sebuah pesan singkat yang terkesan sepele, tapi itu sangat berarti untukku.
Pesan singkat itu sangat berarti untukku. Aku pun memasukkan SMS nya di salah satu save message ku.
Entah mengapa, aku jadi senaif ini. Semua hanya satu, gara-gara: cinta.

Hanya Tipuan Mata

"Heh bodoh! Kamu itu salah mengartikkan perhatian dia Kesha! Dia itu gak ada rasa sama kamu. Kamu cuma teman di matanya! Wake up, dear! Stop dreaming!"
Kata-kata itu meluncur saja dari mulut sahabatku, Dewa, yang mungkin sudah bosan mendengar keluh kesah ku mengenai lelaki yang akhir-akhir sering bersamaku, Romy.
Ya, setelah ribuan kata terucap, setelah empat belas hari belakangan ini dia menghilang, tak mengabariku, aku jadi uring-uringan sendiri. Hingga, kemarin, akhirnya aku memutuskan untuk bercerita kepada sahabat terdekatku, Dewa.
Dan ya, aku memang dikatai terlalu cepat menaruh hati. Aku terlalu cepat utntuk menyayangi orang yang berbaik hati padaku. Sungguh, aku tak sempat berpikiran kesana.
Ribuan kata nasihat meluncur begitu saja dari mulut Dewa. Dia tak memikirkan perasaan ku yang terkadang tersindir dengan kata-katanya. Itulah sahabat, mereka selalu jujur.
Ya mungkin ku akui, aku tak tahu kapan pastinya, aku telah jatuh hati pada Romy.
Semenjak 2 minggu dia menghilang tak ada kabar, aku selalu memikirkan dia, di setiap hariku. Aku sudah seperti orang gila yang ingin meneriakkan namanya setiap aku rindu padanya.
Romy, masih teringat jelas dalam ingatanku, beberapa minggu yang lalau sebelum dia menghilang. Ia masih sempat duduk bersebelahan denganku. Dan selalu dengan gayanya yang khas, mengacak-acakkan rambutku. Hingga aku mengembungkan pipiku tanda kesal, yang langsung mengundang gelak tawa darinya. Tawa nya begitu renyah, manis. Ia masih sempat menukul kepalaku tanda jengkel denganku saat ku coret bukunya dengan tanda tanganku. Ia masih sempat menggodaku dengan ribuan gurauan nya. Aku bersumpah bahwa aku sangat merindukkannya. Hingga pada akhirnya, kalau tidak salah, Senin lalu, saat aku bertatap muka dengannya, aku melempar senyum jailku pada nya. Tapi, kenapa dia malah seperti tak menghiraukan senyuman ku? Pikrianku saat itu masih mencoba untuk berpikir bahwa dia tidak melihatku.
Tapi mungkin, pikiran negatif itu muncul dan menjadi kenyataan. Saat aku mengikut pelajaran tambahan astronomi, dia tidka lagi duduk disebelahku. Padahal sangat jelas terlihat, saat itu baru terisi oleh 3 orang. Aku, dia dan anak kelas lain. entah mengapa, dia mengambil tempat duduk 2 baris di depanku. Aku ingin menangis. Tapi ku tahan, tidak luc kan, jika aku menangis hanya karena dia memilih tempat duduk di depan? Aku masih mencoba berpikir positif. Tapi ternyata pikiran positifku telah terkalahkan oleh kenyataan negatif.
Hari demi hari, hubungan kami semakin renggang. Aku tak sempat bertegur sapa dengannya. Rasa trauma masih membekas dibenakku. 'Bagaimana jika senyuman ku hanya dianggap angin lalu olehnya? Bagaimana jika dia tidak menghiraukan senyumanku lagi? Ah perih rasanya'. Itulah alasanku mengapa aku enggan melempar senyum kepadanya. Hingga sampai saat ini, jika aku bertemu dengannya, aku hanya memasang tampang cemberut, judes dan jutek. Semoga kamu tau, semua itu hanya untuk menutupi rasa rinduku padamu, Romy..

Saturday, April 20, 2013

Cinta Bersambung..

Bagaikan asap yang menguap lalu diterbangkan angin, hilang tak bersisa..
Sebenarnya, perasaan kita ini, tersimpan di lubuk hati terdalam, tidak terungkap dan hanya terpendam dimakan waktu. Hah.. kenapa cinta itu separah ini sih?
Kisah cinta kita yang dulu, bisa dibilang, masih bersambung. Kenapa? Kita terpisah hanya karena jarak dan waktu pertemuan yang sangat singkat. Bagaimana jika seandainya, saat itu, kita tidak terpisah oleh jarak, mungkin hingga saat ini kita masih bersama, ya kan?
Haha, terkadang, menangis pun tidak bisa mengembalikan kisah kita yang dulu. Dan saat ini, semua telah berubah.
Kau dengan nya, dan Aku bersama dengan nya. Kita memiliki kekasih yang berbeda. Tapi kenapa, hati kita selalu memiliki kontak untuk bertaut kembali?? Untuk kembali menjalin kasih.
Aku sangat ingin, Ingin sekali aku mengulang kisah kita, oke, bukan mengulang. 'melanjutkan' kisah kita yang dulu.
Tapi apa daya, hatimu tidaklah lagi untukku, tapi untuknya. Dan aku, telah memiliki seorang kekasih yang sangat mencintaiku.
Tapi taukau kau, dicintai selalu lebih indah daripada mencintai.
aku rasa kau pun tau itu. Selama kau dengannya, apakah dia pernah tidak menyakitimu? Menurut pengelihatanku, sepertinya, dia selalu menyakitimu. Selalu membohongimu.
Sedangkan aku, walaupun kita terpisahkan oleh jarak, pernahkah waktu itu aku membohongimu? Bunuh aku jika aku pernah membohongimu saat itu.
Ah, tapi sudahlah...
Jika memang kau dan aku adalah kita, kita pasti akan bersama kembali. Mungkin Tuhan menginginkan kita sangat teramat saling merindu, agar bisa disatukan kembali.
Mungkin Tuhan memisahkan kita, dan menyatukkan kita dengan orang lain, agar kita bisa merasakan perbedaan saat kita bersama.
Tapi aku yakin dan aku percaya, Tuhan selalu punya jalan terbaik bagi setiap kisah cinta hamba nya.
Dan aku yakin, kita masih memiliki rasa, rasa yang mungkin saat ini sedang tertutupi oleh rasa cinta dari orang yang kita miliki sekarang. Tapi, setelah orang yang kita sayang itu pergi meninggalkan kita, kita pasti akan bersatu. Aku yakin. Sangat teramat yakin.

tidak Jelas

Kita ini apa ya?
Pacar? Bukan. Selingkuhan? Bukan. Gebetan? Bukan. Teman? Apakah kita teman??
Hubungan kita, sangat tidak jelas.
Kemana-mana kita selalu berdua, bahkan banyak orang yang mengatai kita bahwa kita berpacarn. Saat itu aku berkata kepadamu, "Hey, Rom, mereka nge gosipin kita tuh, kita dibilang pacarn. Duh, apaan sih mereka tuh.." Aku berharapnya lebih Rom... Kataku dalam hati. "Biarin aja kali Sha, mereka itu ngefans kali sama kita."
Ya, selalu begitu jika aku mulai membuka pembicaraan tentang hubungan kami.
Aku dan Romy, hanya sebatas teman sejak aku mulai mengenalnya. Dia pendiam, tak banyak bicara, tak banyak berontak. Dia berbeda dari laki-laki yang sebelumnya ku temui. Dia tidak merokok, tidak menyentuh minuman keras. Dia adalah teman laki-laki terdekatku, ya, lumayan dekat.. Kami bertemu 3 kali seminggu selama 3jam tiap harinya. Aku dengannya, selalu mengikuti pelajaran tambahan setiap pulang sekolah. Kami sama-sama menyukai astronomi, karena menurut kita, Astronomi itu mengasyikkan.
setiap pelajaran tambahan itu, dia selalu berada didekatku, layaknya seorang kekasih. Aku terkadang heran, kenapa ia tidak duduk di depan? bersama teman-temannya. Ah, tapi pertanyaan itu selalu kuurungkan, karena aku takut dia merasa terganggu dengan keberadaan dirinya disampingku.
Sore itu, saat aku sedang serius mengikuti pelajaran tambahan Astronomi, dia menyederkan kepalanya di bahuku. "Kesha, aku pinjem bahu kamu dong, aku capek nih, bentar aja, gak lama kok.". Aku hanya diam saja, menatap wajah polosnya yang mulai terlelap.
Apa kah semua ini? Adakah seorang teman yang bersikap mesra layaknya kekasih seperti ini? Ah, lupakn! Dan aku tetap fokus ke Astronomi. Ya, pandanganku fokus, tidak dengan pikiranku. Aku memikirkan hubungan ku dengan Romy. Yang penuh dengan tanda tanya..

Bukan Ikut Campur

Sebenarnya, emosi ku udah di ubun-ubun. Rasa keingintahuanku sudah sampai titik akhirnya.
Pingin banget nanyain hal ini ke kamu, "kamu kenapa sih sama dia?" , tapi kata-kata itu terus tak berucap. Hanya berdiam diujung bibir, tak sempat dilepaskan.
Twitter, facebook dan personal message BlackBerry kalian- kau dan dia, membuat rasa keingin tahuanku semakin memuncak. Kalian berbalas pesan, tetapi tidak dengan suasana harmonis. Dengan sedikit rasa emosi.
Entah mengapa, aku yang terlihat emosi melihat kau di injak-injak olehnya!
Tidak bisa kah kau sedikit berontak? Atau minimal meyeruakkan kata "Stop talking bit*ch!"
Aku tak tau ada masalah apa yang membuat kalian konflik. Aku ingin bertanya, tapi aku takut dikatakan ikut campur. Aku peduli, tapi aku tak tau bagaimana mengatakan padamu bahwa aku peduli?
Cemburu...
YA, rasa itu ada, bahkan saat ada pertengkaran sepewrti ini, aku masih sempat saja memiliki rasa cemburu. Bodoh.
Perasaan tidak mungkin salah, hanya tidak tepat.
Dan kini, aku hanya bisa berdiam diri, melihat kalian berseteru dengan panasnya.
Aku bagaikan penguntit yang terus stalking semua social media milik kalian.
Aku hanya ingi tau, masalah apa yang kalian ributkan. Tidak bermaksud ikut campur. Hanya ingin tahu....