Tuesday, December 17, 2013

Rejected, Ignored and Refused

Kembali terulang untuk yang kesekian kali nya. Sebuah penolakan,pengabaian, dan pengecualian yang ditujukan hanya kepadaku. Rasanya seperti kau menyisihkan aku layaknya orang yang terjangkit penyakit menular.

Penolakan. Disaat aku ingin memperbaiki hubungan kita, disaat aku ingin sekali berada disisimu, kau menolak ku. Tahukah kau bahwa penolakan halus mu telah sukses membuat sistem kerja otot ku menjadi lemas? Raut wajah ceria ku sirna seketika. Yang ada diwajahku saat ini adalah wajah masam yang mungkin terlihat lebih buruk dari tumpukan sampah yang berserakan. Disaat aku ingin bersamamu, belum saja aku mengucapkan sepatah kata untuk berada disampingmu, kau telah terlebih dulu menolakku. Haha. Andai saj aku tidak memiliki urat malu, mungkin aku tidak akan peduli dengan adanya harga diri dan gengsi tinggi seorang wanita.

Pengabaian. Terabaikan. Semua orang sangat tidak ingin terabaikan. Seolah-olah kau tidak terlihat. Ya, tapi mengapa selalu aku yang terabaikan, huh? Dikala aku sedang kesulitan, tidak pernah kau menaruh perhatian padaku. Walaupun hanya setitik perhatian, aku pasti sangat menghargai nya. Apakah aku memang tidak terlihat layaknya hantu? Aku tidak sekalipun mengurangi perhatian ku kepadamu. Ya, perlu kalian ketahui. Mungkin inilah efek cinta yang tak terbalas.

Pengecualian. Sebagai orang yang selalu kau "kecuali" kan, aku sudah cukup banyak terluka. Kau selalu membalas pesan singkat orang lain dengan panjang lebar. Tapi tidak denganku. Ya, kecuali aku. Kau selalu memperlakukan wanita lain dengan baik layaknya mereka seorang putri. Tapi kau memperlakukan aku layaknya aku pembokat mu. Kecuali aku. Semua hal baik tidak akan pernah kau lakukan padaku. Selama aku masih pengecualian mu.

Terima kasih untuk segala luka yang kau beri. Dan seharusnya kau mengucapkan "terima kasih kembali"  karena aku masih tetap menyukai dan peduli padamu. Seharusnya kau sadar karena aku sudah terlalu jelas menyukaimu. Bodoh.

Bandung, 18 December 2013.
7:30 AM.

Tuesday, December 10, 2013

Regret at 11 December '13

Hari ini aku mendapat dua pelajaran penting. Di tanggal yang manis ini, 11 Desember 2013. Aku mendapat pelajaran bahwa kita harus berani mengutarakan apa yang kita inginkan, dan percaya lah, bahwa Tuhan selalu mengabulkan apa yang kita inginkan disaat kita mempercayai nya.

Satu minggu sebelum acara gila ini, aku selalu berdoa dan meminta kepada Tuhan. "Tuhan, pasangkan aku dengan nya di permainan gila itu. Sekali saja. Aku ingin merasakan kehangatan berada didekatnya. Sekali saja. Biarkan aku dan dia bersama memperjuangkan kelas kita" . Ya, itu yang selalu aku minta kepada Tuhan sebelum aku tidur.

Dan hari itu tiba. Permainan gila yang ku maksud adalah Pinata Party Girl and Boy. Dimana sang pria mengarahkan sang wanita agar bisa memukul pinata yang digantung. Aku yakin teman-teman ku tidak ada yang ingin mengikuti permainan gila ini. Aku sangat ingin mengajukan diri. Tapi aku tidak mempunyai keberanian. Hingga akhirnya, temannku dipilih secara paksa. Dan lelaki yang di pilih adalah DIA. Ya, dia. Dia yang sangat akubinginkan untuk menjadi pasanganku di pinata party. Lelaki yang selalu aku sebut nama nya di setiap doa malamku. Dan tahukah kau bahwa Tuhan selalu mengabulkan apa yang kita inginkan? Ya, Dia bertanya kepada aku dan teman-temanku yang saat itu sedangvmemberi dukungan. "Hey, tidak adakah gadis lain yang bisa menemaniku memenangkan pinata party ini?" . Dia bertanya kepada semua yang ada disana saat itu. Aku sangat ingin bersuara, "Ya,aku mau. Ayo kita lakukan". Tapi betapa pecundang nya aku. Aku tidak berani bersuara. Hingga akhirnya mereka lah yang memainkan pinata party itu. Aku sedikit iri kepada temanku. Seharusnya aku lah yang berada disana bersama Dia.

Aku pergi meninggalkan acara yang sebelumnya menarik menjadi membosankan saat mereka berdua bermain. Aku sangat kesal. Mengapa aku sebegitu pengecutnya. Mengapa aku tidak berani menggapai apa yang aku inginkan. Tuhan telah memberi ku kesempatan. Hanya saja aku yang bodoh karena tidak bisa memanfaatkanya dengan baik. Menyesal? Untuk apa menyesal! Semua telah terlambat. Aku merutuk pada diriku.

Teman-teman ku tidak ada yang tahu bahwa aku sangat ingin bermain pinata party dengan Dia. Sungguh. Aku hanya bisa memendam rasa kesal ini sendiri. Seharusnya saja aku berani mengatakan bahwa, "YES. I WANT. I WANT DO IT WITH YOU". Aku pasti tidak akan merasa dongkol seperti ini. Bukan tanpa alasan. Aku hanya takut akan penolakan dari Dia. Bagaimana jika Dia mengundurkan diri saat aku menawarkan diri? Itu akan membuat aku malu dan merasa aku telah ditolak.

Sudahlah. Semua telah berlalu. Tidak akan terulang kembali. Aku berjanji kepada diriku sendiri, aku harus berani. Dan aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberi ku kesempatan. Tapi maafkan aku karena aku tidak memanfaatkan nya dengan baik. Terima kasih dan maaf Tuhan.

Sunday, September 29, 2013

Weird Friendship

                Sungguh menyedihkan jika kita hanya bisa mendukung seseorang dari kejauhan. Dan orang yang kita dukung itu tidak pernah tahu bahwa kita yang selalu mendukungnya. Aku lah orang menyedihkan itu.
                Ulang tahun sekolah di tahun terakhir ku di masa putih abu. Masih teringat jelas, di setiap lomba yang dia ikuti, aku adalah orang pertama yang stand-by sebelum teman-temanku datang. Aku adalah orang pertama yang berdiri dari kejauhan untuk memberikan nya semangat. Saat itu ia sempat melihatku, tapi ia tidak menghiraukan aku. Dan betapa menyakitkan, setelah selesai mengikuti lomba, ia tidak datang kepadaku, tetapi kepadaku ex orang yang dulu sempat dekat dengannya, tapi bukan pacar. Mirisnya lagi, gadis itu adalah teman ku. Aku hanya bisa tersenyum pahit. Di lain waktu, dia juga mengikuri suatu lomba. Lomba cerdas cermat kimia. Dan saat itu aku juga adalah orang pertama yang menonton nya. Ketika ia tidak bisa menjawab soal, akulah orang pertama yang khawatir. Saat ia menggaruk-garuk kepala jika tidak mendapat jawaban, akulah orang pertama yang bingung memikirkan apa jawabannya. Tapi selalu terulang kembali, dia tidak pernah sekalipun melihat gerak-gerikku. Sekali dua kali, aku pernah beradu pandangan mata dengannya. Saat itu aku sedang menatapnya, mungkin ia merasa ada orang yang terus menatapnya, sehingga ia menoleh padaku, dan pandangan mata kami beradu. Aku langsung mengalihkan pandangan mataku. Sangat pengecut.
                Nyaman. Itu hal yang aku rasakan saat berada disampingmu. Ya, kami memang teman, walaupun tidak terlalu dekat. Terkadang aku bersenda gurau dengannya, berdiskusi bersama. Sore itu, aku sedang kesusahan memperbaiki dan mengecat ulang pigura Presiden yang rusak. Dia datang, dan langsung mengambil kuas dan membantuku. Dia hanya sempat menggodaku sekali.
“Bodoh, hal kecil begini saja kau tidak mampu melakukan nya. Dasar..” .
Tapi aku tau dia tidak serius. Karena setelah berkata begitu, dia mencoretkan cat ke lenganku. Kami tertawa sebentar, lalu bekerja dalam sunyi. Bukan kesunyian yang membosankan. Tapi kesunyian yang benar-benar… Bermakna. Entah mengapa, aku ataupun dia, terkadang agak canggung dalam berbicara. Jika aku, wajar saja. Karena aku memiliki suatu perasaan khusus dengannya. Tapi dia? Entahlah.. Kami mengecat dalam diam, terkadang hanya ada celetukan dari nya atau pun aku yang sangat sederhana. Nyaman adalah saat dimana kita tidak saling berbicara panjang lebar tentang sesuatu, tapi berbicara from heart to heart. Nyaman adalah bukan dimana kita bersebelahan, saling memandang, slaing bergandengan tangan, tetapi kau dan aku bersebelahan, saling menikmati kebersamaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dan nyaman iitu bukanlah bersama dalam waktu yang lama, tetapi tidak ada hal yang bermakna, melainkan, walaupun hanya 15 menit, tapi 15 menit itu sangatlah berkesan. It’s mean of comfort.
Terkadang, bahkan sering, aku merasa sedikit jealous. Bukan tanpa alasan, karena setiap perlakuanmu pada gadis itulah yang secara spontan membuat bara api yang ada di dalam tubuhku menyala. Saat berada di dekatmu, jantungku tidak sedang jumplalitan, bahkan deg-deg an. Biasa saja. Tapi ketika kau menggodaku, disanalah detak jantungku langsung berdetak lebih cepat dari biasa nya. Seperti pada suatu pagi, kau selalu berada di dekatnya, bagaimana aku tidak panas? Langsung saja aku menyanyikan sebuah lagu yang liriknya berisi sebuah kata ‘cemburu’ . Tapi tak tahu kenapa, dia bisa merasakan bahwa lagu itu ditujukkan untuknya. Aneh tapi nyata. Dan kejadian ini sering terjadi. Dan jika sudah seperti itu, tak lama kemudian, dia segera mencari masalah denganku, membuat ku kesal, dan menggodaku. Aneh kan? Bahkan pernah sekali waktu, dia menjambakku. Aku tidak tahu dia bercanda atau serius, karena setelah itu aku memberikan sebuah kenangan manis di pipi nya berupa cap tangan ku. Dia tidak marah, dia hanya tertawa dengan lebarnya.
Tapi tidak selalu dan setiap hari kami seperti itu. Berlaku seperti orang yang amat lebay itu. Adakalanya aku dan dia bagaikan orang asing,. TIdak pernah berbicara. Ya, tepat setelah ulang tahun sekolah berakhir. Aku dan dia tidak pernah lagi salimg bercanda, bahkan saling menjahili satu sama lain. Aku dengannya seperti tidak saling kenal.

Entah apa akhir dari hubungan kita yang aneh ini. Tetap teman, menjadi orang asing atau bahkan saling mencintai? Entah… Aku bukan peramal yang bisa meramalkan akhir dari suatu hubungan seseorang. Aku hanya bisa menerka-nerka apa yang mungkin terjadi esok hari. Hati kevcilku sedikit berharap untuk bisa bersamamu, cukup sebagai teman biasa. Tidak lebih. Atau mungkin aku selalu menjadi supporter setia tanpa kau ketahui? Whats ending of our story?

Sunday, June 2, 2013

Takkan Terulang Kembali

                Sungguh, ini kesekian kalinya aku mengeluhkan keadaan ku yang semakin hari semakin miris, hubungan kita yang tidak kunjung membaik, dan hubungan kita yang semakin hari semakin merenggang. Semakin tidak ada sepatah kata yang terucap antara kita jika kita bertemu. Jangankan untuk berkata ‘hai’, jika kita bertemu, kita hanya saling membuang muka. Kau yang memulai membuang muka ketika mata kita bertemu. Aku hanya berlaku sebagai cermin. Apa yang kau lakukan padaku, aku balikkan kembali. Bukan hanya sekali dua kali mata kita bertemu dan terdiam untuk beberapa saat. Dan bukan hanya sekali dua kali kita saling membuang muka. Aku sangat tak menyangka bahwa kita akan menjadi asing separah ini. Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Karena aku tidak pernah terpikirkan ini akan terjadi, ini semua karena dahulu kita sangat lah manis. Aku hanya tidak habis pikir, semua nya hanya berlalu begitu saja. Seolah-olah semua itu tidak pernah terjadi.
                Hingga detik ini, aku sendiri tidak tahu apa akar dari permasalahan kita. Apa penyebab dari merenggang nya hubungan manis kita terdahulu. Aku pun tidak tahu, apa yang membuatmu begitu mudah untuk menyingkirkan aku dari otak mu. Apakah hari-hari yang pernah kita lalui dulu hanya bagian dari permainan mu saja? Apa memang ini tujuanmu? Menyakiti aku setelah kau memberi aku harapan? Apa memang kau senang melihat seorang gadis terluka karena mu? Jika memang itu tujuan mu, selamat, kau telah berhasil membuat ku menjadi gadis yang sangat rapuh saat ini.
                Sudah terlampau sering kau mengabaikan kehadiranku. Hari itu, aku sangat ingat, Sabtu terakhir di bulan April. Saat kau melintas dihadapanku dan terus berlalu tanpa menyadari kehadiranku di hadapanmu. Apakah kau tahu, bagaimana rasanya diabaikan seperti itu? Sungguh, aku benar-benar merasakan seluruh kerja tubuhku terhenti. Aku hanya menatap punggungmu yang berlalu dengan tatapan nanar. Menangis? Tidak. Aku tidak menangis. Air mata ini telah habis. Aku hanya menatap langkah mu dengan tatapan kosong. Ada secercah harapan agar kau menoleh kebelakang dan menyadari kehadiranku. Tapi inilah kehidupan nyata, tidak selalu  terjadi sesuai keinginan. Dan kau tetap berlalu tanpa peduli akan hadirnya aku.
                Baru-baru ini, kita sempat bertemu. Aku yakin pada saat itu kau melihat kehadiran diriku. Bagaimana tidak, saat itu sedang bubaran sekolah. Karena sangat ramai sesak, kita berjalan bersebelahan. Awalnya aku tidak menyadari kehadiran dirimu. Tapi aku berbeda denganmu. Ingat itu. Aku langsung mengalih kan pandanganku, dan memandang siapa sosok yang berdiri disebelahku. Dan itu kamu. Dan saat itu pula kamu menoleh kesebelah. Mata kita bertemu. Aku tidak tahu mengapa otot-otot di sekitar mulutku ini sering bekerja sendiri. Senyuman tipis mengembang begitu saja di wajahku. Dan waktu itu, aku berpikir bahwa mungkin kerja otot mu sudah rusak. Apakah kau tidak pernah belajar tata krama? Apa nilai budi pekertimu jelek? Tidak adakah orang yang mengajarimu untuk membalas senyuman orang? Tak tahukah kau betapa malunya aku? Aku dengan senang hati melemparkan sebuah senyuman manis, tetapi selalu saja. Selalu saja kau menganggapku tak ada. Seolah-olah aku hanya angin lewat. Apa aku harus berubah jadi monster agar aku terlihat olehmu?

                Tidak ingatkah kau akan sapaan pagi-siang-malam kita di percakapan manis kita di pesan singkat maupun di jejaring sosial? Aku masih menyimpan percakapan kita terdahulu. Memang benar kata orang-orang. Jika kita rindu akan seseorang, membaca kembali percakapan kita terdahulu akan mengobati rasa rindu kita. Dan itu benar. Itulah yang sering aku lakukan belakangan ini. Ya, memang tidak dapat dipungkiri, kita memang sangat mesra, dulu. Berbagai macam kalimat ber majas hiperbola sering kau tuliskan untukku. Dan aku menyukainya. Perdebatan kecil diantara kita menjadi bumbu yang membuat kebersamaan kita lebih bermakna. Kata-kata ‘bodoh’, ‘woy’, dan segala macamnya sering kau lontarkan kepadaku. Ah, aku sungguh merindukan ‘kita’ yang sangat manis seperti dulu. Mungkin hal-hal manis seperti itu tidak akan pernah terulang kembali. Mungkin karena posisiku yang dulu telah tergantikan oleh gadis lain. Yang mungkin lebih asik untuk diajak berdebat kecil denganmu. Ya, aku selalu tersingkirkan seperti sediakala. Mau apa lagi, aku bukan siapa-siapa. Tidak berhak melarang apa yang ingin kau lakukan. Jika kau bisa, aku pasti bisa juga kan? Seharusnya seperti itu. Tapi ingat, ini kenyataan. Aku masih belum bisa…

Wednesday, May 29, 2013

Jika Kau Lupa akan Kita, Tanya Aku


                Semua telah berbeda. Tak sama seperti terdahulu. Kita, itu adalah sebuah kalimat yang menggambarkan aku dan dia. Kita sangat manis, sangat hangat, ya, itu dulu. Sebelum hari ini. Apakah sangat mudah untuk melupakn sebuah kenangan bagi dia? Semudah itu diamenghapus semua kenangan kita yang ada sekitar 90 hari itu? Jika dia semudah itu melupakannya, aku juga pasti bisa kan untuk melupakan mu semudah dia melupakanku? Tapi pada kenyataannya, mengapa aku sesulit ini untuk melupakan mu? Mungkin sewajarnya, sangat sulit untuk melupakan kenangan ini. Apakah perlu aku jabarkan satu persatu apa saja yang telah kita lalui? Mungkin jika aku jabarkan satu persatu, aku akan meneteskan air mata, karena aku yakin, aku pasti akan merindukan nya.
                Hari itu, adalah hari terakhir kita. Kenangan manis kita berakhir tanpa sebab yang jelas. Aku sendiri tidak tahu, apa yang menjadi dasar merenggangnya hubungan kita. Aku berpikir ribuan kali, menerka-nerka apalah aku melakukan kesalahan padamu. Tidak. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Kau yang mengatai aku tidak seperti terdahulu. Apakah kau tidak sadar bahwa kau yang seperti itu? Ah, jadi seperti sinetron. Kau  menuduh aku, aku menuduh kau. Lucu. Mengapa tidak aku cinta kau, kau cinta aku saja? Hahaha. Mimpi yang mungkin tidak akan terwujudkan. Kehadiran ku saja tidak pernah kau gubris. Apalagi berharap kau mencintaiku? Semua telah berubah 180 derajat. Kita tak pernah lagi bertegur sapa jika bertemu. Jika bukan aku yang memulai, kau takkan akan memulai. Kesannya, aku sebagai wanita yang sangat aktif, dan kau pasif. Terlihat seakan aku yang lebih menginginkanmu daripada kau menginginkan ku. Kau tidak pernah lagi berada disisiku, menghiburku dikala aku mendapat nilai jelek, tidak ada lagi tangan mu yang terkadang menggelitiki pinggangku,bahkan terkadang mengacak-acakkan rambutku dan mengatai aku bodoh. Mungkin itu terlihat sepele dimatamu, tapi dimata orang yang melihat kita, mereka pasti sangat iri. Bandingkan saja dengan sepasang kekasih. Tidak selalu mereka seperti kita, yang tertawa bahagia setiap bertemu. Tapi KITA? Kita memang bukan sepasang kekasih, tetapi tingkah laku kita yang menunjukan kita lebih dari ‘teman’. Aku sering mendengar teman-temanku berseru heboh ketika aku menamerkan kehangatan kita kepada mereka. Dan lihat, mereka iri pada kita. Satu lagi yang tak pernah aku lupakan. Kau yang memberi aku malam minggu pertama.Dimasa sekolah menengah atas, aku tidak pernah tahu apa itu malam minggu. Malam minggu selalu aku habis kan dengan ber hibernasi dirumah. Dan kau lah, orang satu-satu nya yang pernah mengajakku merasakan apa itu malam minggu. Hanya satu jam, bahkan tidak lebih, aku telah merasakan apa itu malam minggu. Aku tidak butuh bermalam minggu berjam-jam,bahkan hingga tengah malam. Aku tidak butuh bermalam minggu direstoran megah dengan makanan bintang lima, aku tidak butuh berfoya-foya. Hanya cukup membeli makanan sederhana dan 2 gelas es the, itu sudah cukup. Ditambah lagi, bersama mu. Aku tak peduli bahwa itu hanya satu jam. Tapi satu jam itu sangat bermakna. Belum tentu juga orang yang bermalam minggu berjam-jam akan memaknai malam minggu mereka.
                Dan semua bagaikan hilang begitu saja, tak berbekas. Tidak ada lagi kehangatan antara kau dan aku. Semua telah berlalu. TIdak akan mungkin semua itu terulang kembali. Aku sangat bersyukur karena dapat menikmati masa-masa seindah itu. Aku bersyukur karena aku menikmati hari demi hari yang aku lalui bersamamu. Kini, kita bagaikan dua orang asing yang tak pernah mengenal. Meninggalkan segala kenangan manis kita terdahulu. Ah, tapi aku tidak begitu, itu hanya bagimu saja. Aku masih sering mengingat-ingat kembali kenangan kita dulu. KArena hal itu sangat manis untuk dilupakan. AKu sungguh tak sanggupuntuk melupakan dan menganggapnya tidak pernah terjadi. BIarkan kenangan itu terhapus begiotu saja di benakmu, tapi jika kau ingin mengetahui apa yang pernah terjadi tedahulu, datanglah padaku, aku tidak pernah melupakan kenangan kita dulu. Kenangan kita dulu, dan kamu. Aku tidak pernah melupakan nya.

Monday, May 20, 2013

Gula yang Sangat Manis seperti Sianida


Sekolah pagi hari ini masih sangat sepi. Terlihat tukang kebun disekolah saja yang sudah amat sibuk pada pagi hari ini. Memang tak biasanya aku datang ke sekolah sepagi ini. Jika teman-temanku melihat kehadiran ku sepagi ini, pasti mereka akan sangat kaget bahkan mungkin ada yang langsung pingsan melihatku. Wajar saja aku berkata begitu, biasanya aku datang ke sekolah tepat saat bel masuk berbunyi. Atau paling pagi 5 menit sebelum bel berbunyi. Itupun aku baru menginjakkan kaki disekolah. Jika dihitung perjalanan dari gerbang ke sekolah ke kelas, 5 menit itu tidak ada apa-apanya. Lihat sekarang, di pagi ini, aku sudah berada disekolah 1 jam sebelum bel masuk berbunyi. Betapa rajinnya aku pagi ini. Selain karena hari ini adalah hari pertama ujian nasional, hari ini, pagi ini aku juga ingin belajar matematika sekali lagi sebelum ujian nasional dimulai. Aku melangkahkan kaki ku ke kantin sekolah yang masih sangat sepi. Berbagai macam makanan kecil masih bertumpuk-tumpuk karena belum terjamah oleh ratusan siswa siswi disini yang pada siang hari bagaikan macan kelaparan. Aku memutuskan duduk di sebuah bangku di pojokkan yang menhadap ke lapangan sekolah. Aku sengaja mengambil tempat duduk disana agar aku bisa melihat jikalau temanku datang. Aku sangat benci kesendirian seperti ini. Sangat sepi. Aku butuh teman bicara.
Apakah mungkin karena ini pertama kali nya aku datang pagi ke sekolah, Tuhan mendengar doa ku dan langsung mengabulkan nya. Di hadapanku kini, ada seseorang yang biasanya selalu ku lihat dari kejauhan, tetapi kali ini ia ada dihadapanku. Hanya enam puluh centimeter mungkin jarak yang tercipta antara aku dan dia. Laki-laki yang selama ini selalu aku lihat senyuman nya dari kejauhan. Orang yang selama ini aku perjuangkan, laki-laki yang tetap ada di benakku meskipun kehadiranku diabaikan. Dia lah yang akhir-akhir ini berhasil membuat otak ku dipenuhi oleh diri nya sendiri. Laki-laki yang dulu sangat dekat dengan ku, tetapi menghilang secara mendadak tanpa ada ucapan selamat tinggal atau semacamnya. DIA. Intinya dia yang merusak sistem kerja tubuhku karena setiap malam memikirkan dirinya. Semua sistem imun ditubuhku sempat drop karena nya. Dan saat ini, detik ini, ia hadir lagi tepat dimana aku sedang membutuhkan teman bicara. Mengapa harus dia? Dahulu, saat aku mulai menyayangi mu, kau pergi tanpa meninggalkan sepatah dua patah kata padaku. Saat ini, ketika aku hamper berhasil untuk menghapus semua memori otakku tentang dirimu, kau hadir kembali. Tidakkah kau memikirkan aku yang sangat amat tersiksa dengan kehadiran mu yang seperti angin putting beliung ini? Datang selalu tak terduga dan berhasil mengobrak-abrik isi hatiku. Lalu pergi begitu saja meninggalkan luka yang sangat perih. Aku benci, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku menyukai kehadiranmu saat ini. Aku hanya mampu melemparkan senyum kecutku saja. Tapi mengapa kau meresponnya dengan sangat berlebihan? Kau bisa membalas sapaanku tanpa harus mengacak-acakkan rambutku seperti ini. Hal yang mengundang ribuan memori tentang mu muncul kembali di otakku. Ah, memang benar bahwa cinta itu selalu memaafkan. Aku menurunkan sedikit emosi yang sempat muncul bersamaan dengan kehadiranmu tadi.
Dia menanyakan mengapa aku datang sangat pagi pada hari ini. Aku jelas mengatakan bahwa aku memang berniat masuk amat pagi saat ujian nasional. Dan aku berterus terang bahwa aku sangat kesulitan menjawab soal limit ini. Aku langsung saja mengalihkan pembicaraan agar aku tidak terlihat grogi. Rupanya dia membantu ku menjawab soal limit yang aku tidak mengerti tadi. Bahkan ia sempat-sempatnya menjelaskan bagaimana hasil itu ia dapatkan. Mengapa aku bisa lupa bahwa kau sangat pintar dalam matematika ya? Mungkin ini efek dari mengurangnya sistem kekebalan tubuhku. Secara tidak langsung, aku pun menanyakan semua soal-soal yang kemarin aku tidak mengerti. Dan dengan sabarnya kau menjelaskan semua padaku. Aku paham betul semua yang kau jelaskan. Padahal kemarin malam, soal-soal limit trigonometri, limit tak terhingga dan segala macamnya sangat sulit tercerna di dalam otakku. Tapi kini, soal itu sangat mudah, lebih mudah dibandingkan menghitung satu ditambah satu. Kehadiran mu cukup menghangatkan ku, otakku, dan tubuhku. Perlahan, semua akan kembali seperti dulu. Ah, laki-laki ini memang yang tak pernah bisa kulupakan.
Waktu pun terus berlalu, 15 menit lagi pun ujian nasional akan dimulai. Aku sudah sangat siap dengan semua materi yang kemarin malam aku pelajari dan yang baru saja aku pelajari. Aku dan dia pun segera meninggalkan kantin karena sebentar lagi ujian akan dimulai. Tapi seandainya aku tidak meninggalkan kantin bersamaan dengan dia, mungkin aku tidak akan melihat kejadian yang cukup mengenaskan bagi hati ku ini. Saat kami akan berpisah karena memang kami berbeda ruangan, aku melihat seorang gadis yang sangat amat aku kenal, dia angkatan di bawah kami. Adik kelas. Aku melihat dari sudut mataku, laki-laki itu menyambut kehadiran gadis itu dengan senyuman yang mengembang dari bibir nya. Laki-laki itu sempat menoleh kearahku sambil berjalan berdampingan dengan gadis itu. Aku sempat melihat mulutnya mengucapkan sebuah kalimat dengan volume suara yang sangat kecil, seperti berbisik. Mungkin artinya, ‘Ini pacar baru ku, nanti aku kenalin ke kamu, sahabat ku’
Ternyata aku hanya sahabat? Haha.. Aku pun hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan mereka. Aku tidak menangis. Tidak bisa menangis. Aku berjalan menuju ruanganku dengan pandangan kosong. Memang aku tidak menangis, tapi siapa yang tahu isi hatiku? Aku ibaratkan telah terbang diangkasa, lalu jatuh terhempas begitu saja. Mengenaskan. Sedih sekali aku ini. Ibaratkan sebuah gula yang terasa sangat manis di lidahku, tetapi sangat mematikan bagaikan sianida di tenggorokanku.

Terlambat Mencintai


                Menyukai seseorang itu lumrah. Saling menyukai itu wajar. Tapi jika misalkan, kita menyukai seseorang, lalu teman kita juga menyukai nya dan ia berusaha merebut orang yang kita cintai untuk mencintai nya, apakah itu wajar?

                Rara dan Mira sudah bersahabat sejak mereka masih duduk ditaman kanak-kanak. Rara sangat mirip seperti laki-laki. Sedangkan Mira sangat lembut. Mereka bagaikan dua manusia yang bertolak belakang. Tetapi persahabatan tidak mengenal perbedaan. Sejak kecil mereka selalu bersama. Hingga sampai menginjak SMA.
                Rara menaruh hati pada Kevin, laki-laki pendiam, jago eksak dan seorang ice-breaker. Rara, Kevin dan Mira sangat dekat, karena mereka pernah satu kelas saat SMP dulu. Sejak kelas satu SMA, Mira lah yang menjadi tempat Rara menyimpan rahasianya tentang Kevin. Dimana Rara selalu heboh jika melihat Kevin melewati kelasnya, saat Kevin tersenyum kepadanya. Semua ia curahkan kesenangan dan kegembiraan nya itu kepada Mira. Rara juga selalu bercerita tentang berbagai penolakan Kevin. Misalkan saja saat Rara mengajak Kevin melihat-lihat buku di toko buku dekat sekolah, Kevin selalu beralasan ada bimbel yang berarti menolak ajakan Rara secara halus.
                Kevin selalu terlihat mempesona di depan mata Rara. Kevin selalu memberikan rasa nyaman bagi Rara. Hal itu selalu Rara nikmati tiap detiknya. Tangan Kevin yang besar yang sering mengacak-acak kan rambut Rara. Mengatai Rara bahwa rambut Rara sama halusnya dengan bulu shitzu kesayangannya. Dengan begitu Rara akan mengembungkan pipi nya tanda kesal dan selalu mengundang gelak tawa dari Kevin. Kevin sering menggoda Rara, dan hal itu selalu membuat muka Rara bersemu merah. Kevin tidak tahu bahwa Rara menyayangi nya, mencintainya. Kevin tidak peka. Itu yang membuat Rara sedikit kesal. Rara sangat ingin mengungkapkan perasaannya. Tapi Rara ingat, bahwa dia adalah wanita. Sedikit aneh jika Rara mengutarakan perasaanya. Hingga perasaan itu hanya bisa terpendam di dalam hati Rara.
                Hingga saat Prom Night, atau pelepasan siswa kelas XII, Rara ingin mengutarakan perasaannya. Ia sudah tidak peduli dengan aturan bahwa ia adalah wanita. Saat itu, Rara, Mira dan Kevin sedang menikmati hidangan yang disajikan. Mereka bertiga sedang tertawa terbahak-bahak di sebuah meja yang ada dipojok. Meja itu berbentuk persegi.  Terdapat 4 kursi disana. Rara berhadapan dengan Kevin, dan Mira disebelah Kevin. Saat bersenda gurau, Kevin sering kali mengacak-acak kan rambut Mira sambil mengatai rambut Mira mirip dengan Shitzu seperti dirumahnya. Rara cemburu, geram. Rara yang melihat itu merasakan hal yang aneh. Tapi Rara tidak ingin berburuk sangka. Tatapan mata Kevin saat menatap Mira sangat beda. Susah untuk dijelaskan. Rara semakin mencium tanda-tanda keanehan. Tapi sekali lagi, Rara tidak ingin berburuk sangka. Tapi memikirkan tangan Kevin yang biasanya mengacak-acakan kepalanya itun beralih ke kepala sahabatnya, sangat membuat hati nya panas. Terbakar api cemburu.
                Rara tidak ingin menunggu lama lagi, saat ia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, Kevin memotongnya terlebih dahulu. Rara terdiam sesaat. Ia melihat Mira menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan, tebak Rara dalam hati. Hingga akhirnya, Kevin mengatakan kalimat itu dengan santainya, tanpa beban. Tanpa memikirkan hati Rara yang hancur berkeping-keping.
“Ra, aku mau ngasih tau kamu. Aku udah jadian sama Mira dari 6 bulan yang lalu. Aku sengaja ngasih tahu kamu malam ini, buat bikin kamu kaget. Hehe..”
                Rara terdiam. Ia menatap Mira, lalu menatap Kevin. Ia menatap Mira dengan tatapan penuh benci, ia menatap Kevin dengan tatapan nanar.
“Oh, udah 6 bulan ya? Selamat ya, Mira, Kevin. Langgeng terus ya.. Eh, aku mau ke toilet dulu yah..”
                Kevin menatap kepergian Rara dengan pandangan aneh. Lalu ia bertanya kepada Mira.
“Rara udah suka sama kamu semenjak kita kelas satu SMA, Vin. Aku yang salah udah ngerebut kamu dari dia. Mungkin sekarang dia benci banget sama aku..”
                Mira mulai merasa bersalah. Disatu sisi ia ingin mempertahankan persahabatannya dengan Rara, tapi disatu sisi ia sangat mencintai pria ini, pria yang juga dicintai oleh sahabatnya.
                Di toilet, Rara menyesali ketakutannya untuk mengutarakanj perasaanya. Sekarang, semuanya telah terlambat. Kevin dan Mira tidak mungkin dipisahkan. Rara merasa diri nya bodoh, mengapa ia tidak menyatakannya sedari dulu, jika sedari dulu ia utarakan, mungkin Kevin tidak pernah memegang kepala Mira di depan mata nya tadi.
                Rara memutuskan meninggalkan acara Prom Night itu, ia ingin pulang kerumah. Saat sesampainya diluar, hujan deras menghambat langkah nya untuk pulang.
“Hujan, aku selalu benci hujan” Rara pun berjongkok menekuk lutut, menangis sesenggukan. Hujan meredam suara tangisnya. Semua telah terlambat.
                Utarakan lah perasaan mu kepada orang yang kau cintai secepatnya. Lupakanlah derajat mu sebagai wanita, waktu bisa mengubah segalanya. Waktu bisa merebut apa yang ingin kita miliki. Sahabat bisa mengambil apa yang kita inginkan jika kita tidak mengenal siapa dia. Ingat, sebelum semua terlambat. Terlambat...

Menunggu Hujan


                Menunggu itu memang selalu membosankan. Setuju? YA, aku sangat setuju dengan kalimat itu. Menunggu adalah hal yang sangat aku benci. Menunggu itu tak kenal waktu, bisa saja satu menit, satu jam, satu minggu, satu tahun, bahkan bertahun-tahun! Aku tidak akan menunggu bila saja aku tidak mengharapkan kehadiranmu.

                Hari ini adalah malam minggu pertama bagi ku, remaja yang baru menginjak usia 17 tahun. Malam minggu sebelum-sebelumnya, aku selalu menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan dirumah, menonton televisi, bermain game online, bahkan terkadang bermain basket di halaman belakang rumahku. Kali ini adalah malam minggu pertama ku, bukan bersama kekasihku, tetapi bersama dengan orang yang selama ini aku cintai secara diam-diam. Dia berjanji menjemputku di halte dekat rumahku, yang berjarak sekitar 1km. Aku menyuruh nya menjemput disana agar tidak ketahuan oleh orang tuaku.
                Aku berdandan ala kadarnya, baju t-shirt dan celana jins dan sneakers berwarna merah hitam yang senada dengan pakaian yang aku kenakan. Ya, aku memang selalu santai, cuek dengan penampilan. Rambutku aku ikat kuncir kuda ala kadarnya. Aku memakai jam G-shock kesayanganku dan tas ransel Domo kesayanganku. Aku pun beralasan ingin membeli buku kepada orang tua ku. Jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 6 sore waktu setempat. Aku berjalan keluar dari kompleks rumahku. Tiba-tiba hujan turun. Pertama hanya rintik-rintik, lalu semakin deras dan semakin deras. Memang akhir-akhir ini sering terjadi hujan yang tidak terduga. Bahkan ramalan cuaca pun terkadang tidak tepat. Aku langsung berlari layaknya lomba lari marathon. Aku merasakan derai hujan semakin deras. Langit menumpahkan semua isinya. Sial, sepatu sneakers kesayanganku hari ini malah kotor. Setelah 15 menit berlari, akhirnya aku sampai di halte. Sepi. Hanya ada aku seorang. Mungkin kebanyakan orang hanya ingin berdiam diri dirumah saat hujan turun. Begitu pun aku. Jika saja Dia tidak mengajakku malam mingguan, aku pasti akan tidur dirumah, mengambil selimut dan mendengarkan musik. Hah...
                Sudah hampir satu jam aku menunggu, menghitung ratusan kendaraan yang berlalu lalang di bawah hujan. Tapi Dia tak kunjung datang. Badanku menggigil, kedinginan. Aku hanya berharap ia segera datang. Aku sudah sangat lapar, lelah untuk berdiri. Aku melihat jam tanganku untuk kesekian kali. Detik demi detik terus berlalu. Hujan tidak kunjung reda. Mengapa menunggu itu terasa sangat membosankan? Menunggu dibawah hujan sendirian, sungguh miris. Aku menghubungi telefon genggam mu, tapi tidak tersambung. Ah, aku benci! Aku pun memutuskan menembus hujan dan berlari kecil menuju tempat kita menikmati malam minggu ini.
                Sesampainya disana, restoran kecil itu terlihat sepi. Hanya ada satu-dua orang pengunjung yang sedang menikmati makanannya. Hujan semakin deras saja diluar. Aku pun memutuskan duduk di sebuah meja di pojok di sebelah jendela. Aku memesan segelas teh hangat dan mi goreng yang terkenal enak di restoran ini. Aku terus menunggu hingga jam di tanganku menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aku pun tetap menunggu sambil menikmati hidangan yang ada didepanku ini. Tapi entah mengapa masakan direstoran ini jadi terasa aneh, hambar. Hujan tak kunjung henti, aku tak kunjung henti menantimu. Sungguh, aku sangat benci menanti hal yang tak kunjung datang seperti ini. Aku sudah amat bosan menanti. Hingga aku memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki seperti saat tadi aku datang ke restoran ini. Aku benci hujan yang seperti ini. Aku benci menunggu.
                Sesampainya dirumah, rumahku telah sepi. Kedua orang tua ku telah tidur rupanya. Aku memutuskan untuk langsung ke kamarku. Aku menuju ke kamar mandi untuk mandi sekaligus berganti baju. Baju ku sudah sangat basah. Selesai mandi, aku mendapati telepon genggamku bergetar beberapa kali. Ternyata ada 3 pesan singkat yang masuk, semua nya dari Dia.

“Maaf, hari ini aku ada acara mendadak. Aku tidak bisa menghubungimu. Telepon ku rusak. Maafkan aku. Maaf aku membuatmu menunggu. Maaf aku tidak bisa memberitahu mu lebih awal. Dari: Dia”

       Aku berjanji bahwa aku tidak akan mau menunggu lagi jika selalu berakhir seperti ini. Palsu.

Friday, May 10, 2013

Cukup dengan Mu


                Apakah bahagia itu seperti ini? Tersenyum sendiri ketika mengingat hal-hal yang baru saja terjadi terus berputar dikepala ku. Aku sudah seperti orang gila. Selalu tersenyum sendiri bila mengingat hal-hal itu terulang kembali dimemori kepalaku. Romy... Ya, laki-laki itu yang bisa membuatku seperti, bahkan layak disebut orang gila ini. Dahulu, aku dengannya, tidak  se canggung dan se kaku seperti robot. Tapi sekarang, kami seperti dua manusia yang baru 5 menit lalu berkenalan. Aku sangat berterima kasih kepada hujan yang menyatukan kekakuan kami selama hampir sebulan ini. Hujan lah yang menyatukan hubungan kamu yang merenggang ini.
                Pagi tadi, saat aku bertemu dengannya di kantin sekolah, dia memulai melemparkan senyum termanisnya kepada ku. Aku mati kutu. Setelah sekian lama aku merindukan senyuman itu, aku akhirnya dapat melihat senyuman itu lagi. AH, aku sangat merindukannya. Entah mengapa Romy tumben melemparkan senyum itu padaku. Aku hanya terdiam kaku melihat mu, tentunya dengan senyumanmu. Ah...
                Ketika sore hari disekolah saat kita mengikuti pelajaran tambahan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kita bersenda gurau bersama. Kemasukan setan apa sih kamu, Rom? Haha... Ketika aku terdiam sendiri, kau mengajakku berbicara, mengajak ku bercanda. Aku sangat merindukan momen-momen indah seperti ini. Tapi satu yang masih aku rindukan, ketika kau duduk disebelah ku dan membuat hal-hal yang terlihat sepele menjadi lebih istimewa. Dinginnya udara menjadi terasa hangat jika kau disampingku.
                Dan betapa anehnya, aku meninggalkan buku catatan ku di kelas dan kamu yang membawa nya pulang kerumahmu! Aku yang kebingungan mencari buku itu dikejutkan dengan suara dering dari telepon genggamku. Dan ternyata itu Romy..
                “Halo Rom, kenapa malam-malam nelpon aku?”
                “Ini... Buku catatan mu ketinggalan tadi dikelas. Terus aku yang bawa pulang. Kamu dimana sekarang? Aku bawain kerumah ya...”
                “Aku masih beli makanan nih Rom.. Aku aja deh yang kerumahmu ya, nanti malah ngerepotin kamu..”
                “Ya, boleh saja sih Karra.. Aku tunggu dirumah ya..”
                “Ok Rom..”
                Aku pun merasakan Tuhan sengaja membuat kebetulan yang seperti ini. Ah Tuhan... Terima kasih banyak atas segala bantuanMu..
                Aku pun langsung meluncur dengan kecepatan tinggi menuju kerumah Romy. Sesampainya disana, Romy sedang asik menikmati bintang-bintang yang bertaburan di langit. Walaupun Romy sedang asik menikmati bintang-bintang itu, Romy tetap menyadari kehadiran ku.
                “Cepet banget sampainya, ngebut ya?”
                “hehe.. Tau aja kamu Rom..”
                “Nih bukunya..” Sambil menyodorkan buku itu kepadaku.
                Pada saat itu, aku melihat senyuman Romy yang begitu khas. Tanpa aku sadari, semenjak aku datang, ia sudah tersenyum sendiri seperti itu. Ada apa ini Tuhan? Kenapa jantungku malah berdetak lebih cepat?
                “Rom.. Aku pulang duluan ya.. Udah malem nih..”
                “Oh iya deh Karra, hati-hati ya...”
                Aku pun langsung berbalik arah dan menuju ke rumah. Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum layaknya orang gila.
                Ternyata bahagia semudah itu untuk didapatkan. Cukup berada didekatmu, melihat senyummu, dan berbicara denganmu, itu sudah cukup membuatku bahagia seperti ini. Ah, andai saja kau milikku Rom.. Andai saja kau kekasihku, akan selalu kujaga dirimu....

Wednesday, May 8, 2013

Senandung Hujan


                Tepat sebulan sudah hubungan kita merenggang seperti ini. Tak pernah bertegur sapa layaknya tak saling kenal. Tak saling melempar senyum. Orang asing...
                Hujan.. Aku selalu percaya hujan memiliki kesan tersendiri bagi setiap orang. Tepat sore tadi, hujan lah yang menyatukan kekakuan hubungan kita. Walau tak sepenuhnya mencair, setidaknya tidak serenggang dan sekaku kemarin. Sebenarnya aku heran, sedari pagi hingga siang hari tadi, tidak ada tanda-tanda bahwa langit akan menumpahkan isi nya. Bahkan aku tidak sempat melihat adanya awan-awan hitam yang menggelayut di langit siang itu. Entah darimana datangnya, saat kita duduk bersebelahan memandang langit, hujan turun dengan derasnya. Aku dan dia saling memandang, mata kami bertemu, kami terdiam untuk beberapa saat. Mata itu, mata yang hangat. Mata yang dulu selalu membuat ku meleleh. Senyuman itu, senyuman yang selalu aku beri sebutan ‘ice breaker’. Ah, walau hampir sebulan aku tidak berkomunikasi dengannya, dia tidak banyak berubah. Dia masih seperti yang dulu... Laki-laki yang hangat. Laki-laki yang bisa membuatku tersenyum setiap saat.  Kini, setelah satu bulan aku tidak merasakan hangat dirinya, kini aku kembali merasakannya. Tepat dihari ini, di hari satu bulan kami kehilangan komunikasi. Aku membuka percakapan dengannya. Aku merasakan kecanggungan dan kekakuan di nada bicara kami. Kami layak nya dua insan yang baru saja berkenalan 5 menit yang lalu.
                Aku sangat ingin mengetahui alasan mengapa ia menjauhiku terdahulu. Tapi pertanyaan itu tak kunjung ku lontarkan padanya. Ada sedikit rasa takut saat aku menanyakannya. Aku takut dengan jawaban yang akan ia berikan. Jadi aku memilih untuk diam dan menikmati dinginnya hujan bersama dengannya. Aku mulai bercanda dengannya walau terkesan membosankan dan canggung. Mata kami sering bertemu. Aku merasakan mata kami ingin mengatakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu.
                Ah, aku sangat merindukanmu. Sangat. Apakah hanya hari ini saja kita seperti ini? Apakah esok kita akan tetap seperti hari ini? Kembali bersenda gurau, bercakap-cakap, bergosip dan melakukan hal aneh bersama. Akankah?
                Aku memikirkan berbagai macam kemungkinan. Aku terdiam menatapi butiran-butiran hujan yang mulai membasahi tanah ini. Kau pun terdiam. Kita ada dibawah hujan, terdiam dalam diam, hanya ada suara rintik hujan. Bisakah hujan lebih mencairkan suasana ini? Aku benar-benar merasa canggung, kikuk, grogi, dan segala macam perasaan saat kita baru pertama berkenalan dengan orang baru. Tapi aku tetap menghargai betapa berharganya hari ini. Akan selalu aku ingat di memori otakku ini.
                Sungguh, aku sangat berterima kasih dengan datangnya hujan hari ini. Entah berterimakasih untuk hal apa, aku hanya ingin berterima kasih. Memang benar kan, hujan memiliki senandung berbeda-beda di setiap telinga yang mendengarnya. Hujan juga membuat kenangan kita lebih terasa. Ah hujan.. Aku menyukai senandung hujan yang saat ini Ia senandungkan....

Wednesday, May 1, 2013

Bahagia dan juga Rapuh itu Satu Paket


                Aku memang gampang jatuh cinta. Ya, tapi hanya sekedar cinta monyet belaka. Padahal umurku sudah hampir menginjak 17 tahun, cukup dewasa. Tapi terkadang aku tidak benar-benar mencintai seseorang. Mungkin sudah banyakn kakak kelas ku yang dulu sempat aku sukai. Tak lebih dari sekedar ngefans. Dan sekarang, entah mengapa, padahal aku dengannya hanya berteman, tapi sudah cukup banyak memori yang aku buat dengannya. Ya, dia Bryan. Teman seperjuanganku yang bisa dibilang masuk Top 5 Wanted Boy’s disekolah ini. Bisa dibilang aku beruntung karena aku  bisa dekat dengan Bryan. Aku tidak terlalu senang dengan laki-laki yang dianggap terkenal disekolah ku. Karena sudah pasti, mereka sombong, dan mata keranjang. Oh iya satu lagi, playboy! Jabatan itu selalu mengandrungi setiap laki-laki yang dianggap Prince di sekolahku itu. Tapi berbeda dengan Bryan. Bryan sangat berbeda dari laki-laki yang terkenal sebelumnya. Ya, walaupun memang ia dekat dengan banyak wanita disekolah ini. Dari kakak kelas, angkatanku, dan adik kelas. Entah apa yang menarik dari Bryan, padahal menurutku dia biasa saja. Aku lupa kapan tepatnya kami jadi akrab seperti ini.
Bryan.. Ya, dia sempat digosipkan menyukai adik kelas. Ada pula yang mengatakan Bryan sedang mengincar ketua PMR disekolahku yang merupakan kakak kelas. Aku tidak peduli dengan itu semua. Ah, buat apa aku membicarakan Bryan dengan seribu selirnya? Mending deh aku flashback tentang kebersamaan ku sama Bryan dulu. Walaupun teman, banyak orang yang mengatai kami telah jadian. Aku langsung saja menyangkal hal itu. Bryan pun sepertinya tidak senang jika teman-temannya mengatai bahwa ia adalah kekasihku. Baiklah, lupakan saja hal tidak penting itu.
Saat itu, sore hari disekolah. Saat aku sedang mengikuti extra basket, Bryan datang bersama teman-temannya menuju ke lapangan indoor untuk bermain bulutangkis. Mata kami sempat beradu, tapi langsung ku alihkan tatapan mataku. Aku pun  kembali konsentrasi untuk bermain basket. Sepulang basket, aku lupa bahwa aku ada bimbel. Aku lupa menghubungi supirku untuk menjemputku. Aku sangat takut akan berdiam diri disekolah sampai malam karena supirku tidak menjemputku. Tiba-tiba terdengar suara motor yang sangat khas dari dalam sekolah. Dan pemilik motor itu hanya seorang disekolahku. Bryan.
                Ia menawariku tumpangan menuju bimbel. Karena kebetulan ia juga mengikuti bimbel ditempat yang sama tetapi beda kelas. Sesampainya di tempat bimbel, kami menuju kelas masing-masing. Tapi aku heran dengan Bryan yang tidak masuk kelas melainkan mengikuti ku masuk ke kelasku. Bryan pun masuk ke kelas ku dan mengambil tempat duduk di sebelahku. Pikiranku saat itu sudah sangat bercabang. Mungkin Bryan kesambet jin atau salah makan, karena tiba-tiba ia duduk disebelahku. Karena memang tidak tempat lagi, mungkin hanya kebetulan saja. Hmm..
                Detik demi detik berlalu, waktu demi waktu berlalu, aku dan Bryan menghabiskan 2 jam ditempat les itu dengan duduk berdampingan. Aku tidak tahu saat itu bahwa ada penyakit yang menyerangku, entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa mungkin arteri jantungku rusak? Atau ada penyakit berbahaya lainnya?? Langsung ku tepi semua pikrian burukku itu. Kau pasti sudah tau aku terkena penyakit apa pada saaat itu. Jatuh cinta.
                Semakin hari, Bryan semakin sering ikut dikelasku, dan akhirnya ia memutuskan pindah ke kelasku. Selama bimbel, ia selalu bersikap manja layaknya sepasang kekasih. Setiap pasang mata yang melihat kami hanya tersenyum penuh arti yang tidak perlu diucapkan oleh kata-kata. Kami seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia. Terkadang ia tertidur di bahuku, terkadang ia menggengam tanganku dengan alasan tangannya dingin, terkadang ia meminjam alat tulisku, ah, semua hanya tentangnya. Aku pun tahu apa yang ia sukai, mulai dari makanan, minuman ringan dan segala macam. Terlalu banyak waktu yang kita habiskan bersama. Tapi tidak ada ikatan antara kita, bukan kekasih. Ingat. Bukan kekasih.
                Tapi aku senang, cukup seperti ini pun aku bahagia, aku tidak terikat dengannya. Aku dan Bryan sama-sama bebas melakukan apapun. Hanya saja, jika dia mulai ada disebelahku, aku dan Bryan mulai terlihat berbeda.
                Terlalu banyak waktu dan kenangan yang kita habiskan bersama dan kita ukir. Memang aku tidak mengharapkan lebih darimu, seperti menjadi kekasihmu. Karena aku tahu, aku bukanlah tipemu. Tapi siapakah yang tau isi hati ini? Bahwa terkadang aku merasakan sedikit perih ketika melihat mu bersama gadis lain? Siapa yang bisa melarang hati ini untuk tidak jatuh cinta? Siapa juga yang tahu bahwa suatu saat kau bisa mencintaiku? Isi hati tidak ada yang pernah mengetahui nya. Mungkin saja wajah kita gembira, tetapi hati kita rapuh. Seperti aku saat ini........

Separah itukah Sebuah Kata Maaf?


                Sebegitu sulitkah sebuah kata ‘aku telah memaafkanmu’ terucap dari bibirmu? Apakah karena kau memang bukan orang yang pemaaf? Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Tahukah kau bahwa aku butuh waktu berhari-hari hanya untuk menuliskan sebuah pesan singkat yang sangat singkat, ‘maafkan aku jika aku sempat menyakiti hatimu atau ada sikapku yang tak karuan. Maafkan aku.’ Tahukah kau bahwa aku butuh keberanian tinggi untuk menuliskan sebuah kalimat itu saja? Tahukah kau, aku berkali-kali menghirup dan menghembuskan nafas hanya untuk mengetikkan kalimat itu? Aku berharap kamu akan memberi ku sedikit kata aku telah memaafkanmu,tapi tidak kusangka. Tidak ada jawaban darimu. Tidakkah kau memikirkan diriku yang berjam-jam memandangi alat komunikasi ku ini? Berjam-jam pula aku menunggu balasan darimu. Aku selalu mencoba berfikir positif, mungkin saja kau tidak memiliki pulsa untuk membalas, baterai handphone mu habis, handphone mu rusak dan berbagai ribuan persepsi aku coba untuk menenangkan hatiku yang tidak bisa menunggu lama ini. Yah, dan akhirnya, setelah 5 jam menunggu, tetap nihil; tidak ada balasan. Seketika aku langsung putus asa. Dan aku yakin, kau tidak ingin membalas pesan singkatku itu. Betapa menyedihkannya diriku, sangat miris. Menanti hal yang tak pasti, yang tidak tahu kapan datangnya.
                Apakah aku masih salah? Bayangkan saja, aku tidak tahu siapa yang salah diantara kita berdua, entah aku atau kau. Tapi coba pikirkan betapa bodohnya aku yang meminta maaf terlebih dahulu tanpa tahu siapa yang salah. Hahahaha, tawaku meledak sekeras-kerasnya. Ibarat ada 2 buronan polisi, yang satu tersangka dan yang satu hanya teman tersangka, tetapi teman tersangka itu menyerahkan diri kepada polisi. Coba kau pikirkan sedikit saja tentangku, mengapa aku menjadi seperti teman tersangka itu? Apa perlu aku beri jawaban langsung tanpa harus memberi waktu pada otakmu yang seperti otak udang itu untuk berfikir? Itu semua karena aku tak ingin kehilangan dirimu. Hanya itu saja. Sangat simple tapi terlihat bodoh. Parno.
                Aku tahu kau pasti memilki mulut yang bisa kau gunakan untuk bicara. Setidaknya kau bisa memberitahu apa yang menjadi alasan dari merenggangnya hubungan kita ini. Apakah kau tidak bosan dengan pertanyaan yang aku lontarkan padamu tiap saat? Tidakkah kau berkeinginan sedikit pun untuk menjawab pertanyaan yang sepele itu? Apakah memang semua laki-laki itu pengecut? Aku rasa tidak. Aku tahu siapa kamu, kamu adalah seorang pemberani, bukan pengecut.
                Apa mungkin karena kau sudah bosan terus berada di sisiku sementara hubungan kita hanya begini saja? Atau mungkin kau telah menemukan dambaan hati baru yang mungkin lebih bersinar dan menggairahkan dariku? Atau ada alasan lain? Bisakah kau buat aku untuk tidak terus berburuk sangka padamu terus? Bisakah kau buat aku untuk berhenti memikirkan berbagai kemungkinan yang kebenarannya belum terbukti ini? Sungguh jujur saja, aku sudah sangat bosan hidup didunia sinetron ini yang penuh dengan perasaan gundah gulana, galau, resah dan berbagai macam rasa membosankan lainnya. Aku sangat ingin merasakan kehangatan dirimu, bukan seperti saat ini. Dirimu yang sangat dingin bagaikan es dikutub utara.
                Se laknat hamba-Nya, Tuhan saja masih bisa memberi hamba-Nya kesempatan untuk berubah dan memaafkannya. Tidak bisakah kau berkelakuan seperti itu? Sebesar itukah rasa bencimu kepadaku sehingga kau tidak ingin memaafkanku? AH..
                

Tuesday, April 30, 2013

Aku, Kamu dan Dia. Complicated!


                Keadaan ini semakin memburuk saja. Hubungan ku dengannya tak kunjung mencair. Tetap kaku, canggung bahkan seperti orang asing. Sekedar sapa atau senyuman tak lagi ada diantara kita. Bahkan saat aku dan dia berpapasan, aku dan dia benar-benar seperti orang yang tidak saling mengenal. Sungguh menyiksa perasaan ku. Pesan singkatku tak pernah lagi dibalas olehnya. Panggilan telepon ku selalu diabaikan olehnya. Tapi yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah, kehadiran ku di depannya yang mungkin tak pernah ia inginkan. Kehadiran ku sama sekali tidak diharapkan. Kenapa tidak kau bunuh saja aku?
                Ya, setelah aku ketahui gosip yang beredar dari mulut ke mulut,aku tahu dia sedang menyukai seorang gadis, yang mungkin bisa dibilang sangat manis, cantik dan berbeda jauh dariku. Aku lupa siapa nama gadis itu. Yang ku ketahui dia tidak satu angkatan denganku. Mungkin adik kelas atau kakak kelas. Ya, mungkin saja adik kelas. AH aku tak tau pasti. Hanya sekedar omongan dari mulut ke mulut yang belum terbukti. Tapi entah mengapa aku sangat penasaran dengan gadis itu. Setelah aku sempat menjadi stalking timeline yang sangat naif, aku tau siapa gadis itu. Tidak sia-sia aku korbankan mataku untuk berjam-jam diam di depan laptop dan terus mengklik mouse yang mungkin jika ia bisa berkata ia akan berkata bahwa ia bosan. Bukan gadis, tetapi wanita. Bukan wanita yang telah beristri, bukan juga wanita girang. Dia adalah wanita baik-baik. Aku mengenalnya disekolah. Ia sangat terkenal. Mungkin karena keramahannya, kebaikannya, atau apalah. Ia sangat berbeda jauh dengan aku yang serampangan dan terlihat cuek dengan tubuhku ini. Berbeda dengan wanita itu. Yang sudah diberi kecerdasan, kepintaran, kemanisan, PERFECT. Seketika itu juga aku langsung memikirkan aku dan dia. Apakah mungkin ia sempat menaruh rasa pada wanita serampangan seperti diriku ini? Yang selama ku tau, gadis-gadis yang dulu sempat disukainya tidaklah seperti diriku. Diriku yang jika tertawa sangat lepas, tidak melihat tempat dan waktu. Aku sangat payah. Tidak seperti wanita itu.
                Aku tidak ingin mendapati aku akan galau atau sedih setelah mengetahui hubungan mereka. Karena sebentar lagi aku akan mendapat ulangan harian. Dan jika aku galau, itu akan mempengaruhi kerja otakku yang setelah semalaman aku isi dengan rumus-rumus eksak berganti dengan bayang-bayang dirimu dan wanita itu. Jujur saja, aku tidak munafik. Aku cemburu. Ya, rasa itu ada ketika aku melihat kebersamaan dirimu dengan nya. Apalagi aku sempat menemukan sebuah-dua buah jepretan kamera antara dirimu dengan wanita itu. Terlihat senyuman yang sangat manis. Penuh dengan aura cinta. Jika saja saat itu aku tidak bisa mengendalikan emosi ku, mungkin laptop ini sudah hancur aku banting karena saking cemburunya. Mereka bukanlah pasangan kekasih, tetapi mengapa dari mata mereka seperti bertaut satu sama lain? Mengapa mereka terlihat begitu bahagia? Tidakkah mereka sadar bahwa aku disini memendam rasa cemburu yang sangat dalam?
                Ah, cinta itu memang milik dua insan manusia, dan tidak ada tempat bagi orang ketiga. Aku pun juga berpendapatan yang sama. Tapi apakah hal ini selalu dan harus terjadi padaku? Haruskah aku yanag menjadi orang ketiga diantara kalian?
                Aku tidak bisa memungkiri perasaan sayangku yang semakin hari semakin bertambah, dan meluap. Dan aku yakin perasaan ini akan segera tumpah.
                Sudahlah, jika memang kau memang ditakdirkan untuk wanita itu, aku harus bisa membuat mu bahagia dengan melepaskanmu. Tapi, tidak bisakah kita kembali seperti dulu? Menjadi teman karib? Ya, sekedar teman. Itu cukup bagiku bila kau tidak bisa di dekapku. Ah, tapi bagaimana jika perasaan itu tumbuh kembali. Aku sangat bingung, semua ini sangat rumit.

Saturday, April 27, 2013

Just Camera


                HAH! Pagi ini Kesha sangat tidak ingin masuk kesekolah. Bukan karena apa, tapi hari ini adalah hari pasca-UAS disekolahnya. Sejak tadi pagi, Kesha dan kelima teman-temannya hanya berdiam diri dikelas. Menonton film drama korea yang diputar di laptop teman Kesha. Kesha sudah mati bosan sejak ia memasuki kelas. Ia tak berniat sama sekali untuk melihat ke lapangan dan menonton cowok-cowok yang bermain futsal disana. Kesha tidak suka menjadi satu dari puluhan cewek gila yang meneriakkan orang bermain futsal. Hanya membuang-buang tenaga dan tidak ada artinya. Jadinya sekarang dia hanya seperti orang gila di kelas.
                Kesha pun tidak ingin dia hanya menonton film drama yang akhirnya happy ending itu selama 4 jam kedepan. Kesha pun mengajak teman-temannya beraksi di depan kamera papa nya yang berhasil ia pinjam tanpa ijin tadi pagi. Berbagai macam gaya ia ungkapkan di depan kamera. Maklum saja, Kesha adalah salah satu photoholic. Ribuan pose dirinya memenuhi laptop kesayangannya.
                Mereka akhirnya bosan karena tidak ada hal yang bisa dilakukan. Mereka pun memilih untuk duduk lesehan di depan kelas. Benar-benar tidak ada pekerjaan yang bisa mereka lakukan selain menghitung berapa orang yang melewati kelas mereka. Jam pun terus berjalan, dan akhirnya sebentar lagi adalah jam pulang. Kelas bertambah ramai karena teman-teman cowok kelas Kesha sudah kembali ke kelas karena mereka telah selesai bermain futsal. Saat Kesha sedang asik bermain bersama teman-temannya, tiba-tiba salah seorang teman Kesha memanggil seseorang yang sedang melewati kelas Kesha dan membawa kamera. Teman Kesha itu, Sintya, yang tak kalah narsis dari Kesha pun meminta seseorang itu tadi untuk mengambil foto mereka yang sedang bermain. Kesha pun sangat kaget bahwa laki-laki itu ROMY. Orang yang saat ini paling tidak ingin ditemuinya. Kesha pun tersenyum dengan terpaksa saat beberapa kali bunyi ‘klik’ terdengar dari kamera Romy. Sintya yang ingin mencoba memegang kamera Romy pun langsung mengambil alih menjadi tukang foto. Dan betapa sialnya Kesha, saat Romy mencari tempat untuk mengambil posisi berfoto, Romy berdiri di sebelah Kesha, karena kebetulan hanya tersisa satu tempat disitu saja. Kesha pun tidak mampu tersenyum. Hanya memasang wajah datar. Bagaimana tidak, orang yang saat ini paling anti ditemuinya malah berdiri disebelah nya dan berfoto bersama. Sial. Tapi Kesha tidak dapat memungkiri perasaan itu. Perasaan saat Romy berada disebelahnya, disampingnya. Tapi saat ini, Romy tidak sehangat dulu, ia begitu dingin, sedikit ada kesan ‘keterpaksaan’ saat ia berdiri disebelah Kesha. Perubahan sikap Romy yang begitu signifikan membuat Kesha bingung sendiri. Entah ada kesalahan apa atau perbuatan Kesha yang bagaimana yang membuat Romy seperti itu. Kesha hanya ingin Romy mengatakan apa yang menyebabkan ia seperti itu. Bukankah sungguh menyakitkan jika seseorang yang sudah terbiasa dengan kita tiba-tiba menjauh dan menjadi dingin?

I miss the old You.


                Romy bukanlah Romy yang dulu. Dia telah berubah. Entah ini hanya perasaan ku saja atau memang ini yang sesungguhnya. Romy bukanlah pria yang selalu berada di sisiku, yang selalu mengatai aku ‘bodoh’, yang terkadang mengajari aku bagaimana cara yang benar untuk melihat rasi bintang, bagaimana cara melihat bintang dengan benar, bahkan dia selalu mengacak-acak rambut ku jika aku terlalu lama menangkap apa yang dia maksud. Ah, i miss that moment so,Rom.
                Sudah sekian lama aku tidak pernah bercanda, bertukar pendapat dan bersama dengan Romy. Dia seakan menghilang dari kehidupanku. Dia tidak pernah bertegur sapa denganku, tidak pernah memulai pembicaraan jika bukan aku yang memulainya, tidak pernah mengirimiku pesan singkat seperti yang biasa dia lakukan terdahulu.
                Tepatnya kemarin, saat pembinaan astronomi. Saat aku ingin keluar kelas, aku berpapasan dengan Romy, ia baru saja datang. Dia terlambat. Tidak seperti Romy yang biasanya. Saat itu terpaksa melemparkan senyumku untuknya, agar aku tak dikira sombong. Tapi tak kusangka, senyumanku hanya dianggap angin lalu olehnya. Yang aku rasakan saat itu hanya satu; malu. Aku sangat benci dirinya yang sekarang. Sangat dingin dan menjengkelkan.
                Aku tidak tau apalagi maksudnya. Setelah tidka menghiraukan senyumanku tadi, sekarang ia mengambil tempat duduk di depanku. Ya,tepat didepanku. Aku yang pada saat itu sudah sangat emosi akan sikapnya, tidak memerdulikannya lagi. Aku langsung berpindah tempat duduk di paling depan dengan beralasan tidak dapat berkonsentrasi. Aku tidak peduli akan tatapan mata Romy yang mengikuti gerak gerik tubuhku yang menjauhi kehadirannya, yang dianggap tidak mengharapkan kehadirannya pada saat itu. Aku tertawa bahagia karena aku berhasil menjauh darinya. Tapi apakah itu apa yang sesungguh nya yang aku rasakan? Apakah aku bahagia ketika aku jauh darinya? Sepertinya tidak. Saat itu aku benar-benar telah merasa menyakiti perasaanya. Ah tapi siapa peduli. Jika aku peduli padanya, akankah dia memerdulikanku? Aku yakin tidak.
                Aku pun mengikuti pembinaan astronomi itu dengan perasaan yang sangat tenang. Sangat tenang? Ya, sangat tenang karena aku tidak harus melihat sikap cuek bebek Romy yang membuatku uring-uringan itu. Sungguh, aku merindukan kamu Rom. Kamu yang biasanya ada disebelahku, bersandar dibahuku, selalu denganku. Ada apa denganmu Rom? Mengapa kamu menjauh?

Thursday, April 25, 2013

Need your comment :)

You can comment my post :) If you have to visit my blog, you can write a comment, or maybe request a love word :D
I'm waiting for your comment :)

Katakan atau Tidak?


Tadi pagi, sewaktu pelajaran olahraga, aku mendapati gebetanku sedang bersenda gurau dengan gadis yang dulu sempat berada di titik special di hatinya. Dea. Ya, gadis itu adalah kekasih Bara yang baru saja berpisah secara baik-baik sebulan yang lalu. Semenjak Bara tidak menjalin kasih dengan Dea lagi, dia sering bersama ku, sekedar bercerita, bercanda atau membuat tugas. Karena memang aku dan Bara sesama kelas IPA walaupun beda kelas. Kami sangat akrab. Tapi Bara hanya menganggapku sebatas ‘TEMAN’. Tidak lebih. Berbeda denganku yang saat ini telah menaruh hati padanya. Sebut saja perasaan ini, jatuh cinta diam-diam. Jatuh cinta diam-diam itu memang menyakitkan. Kita tidak bisa protes saat dia bersama siapa dan dengan siapa. Dia tidak tau bahwa kita  mencintainya kan? Lalu jika diam-diam kita ngambek kalau dia bersama gadis lain, apakah dia tau apa alasan kita ngambek sama dia? Tidak. Dia bukan pacar kita, dia hanya orang yang kita cintai, secara diam-diam. Seperti pagi tadi, kelas ku dan kelasnya olahraga bersama di lapangan sekolah. Saat itu kami sedang beristirahat sambil menunggu pengabsenan. Saat itu sudut mataku mencari sosok Bara. Jika aku tau akhirnya akan menyakitkan, seharusnya aku tidak akan mencari sosok Bara tersebut. Tepat saat sudut mataku menangkap sosoknya, aku juga menangkap seorang gadis berperawakan hitam manis, dengan rambut panjangnya yang digerai sebahu, membawa tas dan helm di tangan kirinya. Gadis itu baru memasuki sekolah dan Bara menahan langkahnya menuju ke kelas. Mereka berjalan beriringan, lalu berdiam diri di samping ring basket untuk berbicara. Mungkin berbicara sambil berjalan sangat sulit. Saat itu kulihat Bara sedang menodong Dea untuk meminta seribu atau duaribu rupiah. Kulihat mereka tertawa bahagia, seakan putusnya hubungan mereka bukan suatu halangan bagi mereka untuk menjalin hubungan baik kembali. Kulihat pergelangan tangan Dea digenggam oleh Bara, tanda ia memaksa Dea untuk memberikannya uang.
Kudengar teman-teman sekelas Bara mulai menyorakinya dengan kata ‘ciee’ yang menggema di lapangan. Sedangkan teman-teman ku hanya berkata, ‘Bara, si Katrin panas dalam nih! Hatinya panas! Hahaha...’ Saat itu aku sengaja tertawa berpura-pura untuk tidak menghiraukan Dea dengan Bara. Aku berpura-pura untuk tertawa dengan lepas agar teman-temanku tidak mengira aku cemburu akan kedekatan Dea dengan Bara tadi. Betapa menyedihkannya diriku ini. Aku tidak menyadari bahwa Bara sempat menangkap mata ku saat aku menatap Dea dan Bara tertawa tadi.
Sepulang sekolah, aku berpapasan dengan Bara. Aku ingin menyapanya, tapi kuurangkan niatku itu. Rasa perih yang ia torehkan secara tidak sengaja itu masih membekas di hatiku. Ya, cemburu. Jelas aku cemburu. Hal itu terjadi begitu saja didepan mataku. Sangat cepat dan terekam begitu saja. Aku bahkan masih bisa mereplay kejadian itu berkali-kali didalam otakku. Dan itu semakin membuat api cemburu semakin membesar dihatiku ini. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Bara begitu saja, karena dia tidak tau bagaimana perasaan ku padanya. Aku tidak berhak untuk marah, bahkan untuk memarahinya. Ingat, dia hanya teman. Tidak lebih. Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh begitu saja. Padahal, sewaktu Dea menjadikan Bara sebagai someone special diulang tahunnya saja  aku tidak memiliki sedikit rasa cemburu. Wajar saja karena pada saat itu mereka masih memiliki status sebagai sepasang kekasih. Bahkan saat itu aku masih sempat merestui hubungan mereka sampai kakek-nenek. Bahkan dulu aku sempat mendoakan agar hubungan mereka tidak putus. Tapi entah mengapa saat ini aku ingin menarik semua doa yang aku ucapkan kepada mereka terdahulu.
Aku tidak tau kapan rasa sayang ini  mulai muncul. Aku tidak sadar kapan aku mulai khawatir ketika sepulang futsal dia tidak langsung pulang kerumah, aku takut jika ia mulai menjauh dariku. Aku sadar bahwa aku mulai menyayangi nya, bukan sebagai teman, melainkan lebih dari itu. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk mengungkapkan perasaan ku ini. Aku sangat takut jika nantinya perasaan ini hanyalah perasaan yang dianggap angin lalu, hanya bertepuk sebelah tangan. Aku tidak ingin Bara menjauh nantinya. Lebih baik aku dan dia cukup sebagai teman. Tidak masalah jika ia tidak mencintaiku kembali, asalkan aku bisa bersama nya setiap waktu. Menatap senyum manisnya, bersenda gurau dengannya, bersama dengannya. Mungkin suatu saat perasaan ini akan hilang dengan sendirinya karena tidak terbalaskan. Ku harap begitu. Karenan terkadang akupun terasa sakit sendiri jika aku melihatnya ia bertingkah mesra dengan gadis lain, terutama Dea. Ah, aku jadi semakin bingung. Aku harus mengungkapkan perasaan ini dan menerima apapun jawabannya, sekalipun dia menjauh atau aku harus tetap memendam rasa ini agar aku tetap bisa berada disampingnya hanya sebagai teman. Ah aku bingung....

Wednesday, April 24, 2013

Sahabat Terjahat-ku

Aku bukanlah gadis yang lemah lembut. Yang akan diam saja jika ada orang yang membentakku. Sekalipun dia adalah Sahabatku sendiri.
'Indri, kamu itu pengecut banget! Kamu cuma berani ngomongin mereka dibelakang saja! Apa sih susahnya bilang sama mereka kenapa kamu ngemusuhin mereka! jangan jadi loser dong Ndri!'
'KEVIN!! Aku gak suka kalo kamu bentak-bentak aku kayak gitu! Kamu dari dulu cuma bisa nyalahin aku aja! Ngatain aku egois lah, keras kepala lahah. Semua yang jelek-jelek kamu kasih ke aku! Sahabat macem apa kamu Vin??'
Aku pun berlari meninggalkan Kevin yang dengan bahagia nya mengumpatku dan menyalahkanku. Si Clara juga ikut-ikutan ngebela Kevin! Mereka berdua itu sahabat macam apa sih? Bisanya cuma nyalahin aku aja. Ngatain aku egois, emosian. Emang nya mereka gak pernah emosi, gak pernah egois? SUMPAH! Aku benci banget sama mereka. Aku gak peduli udah temenan sama mereka dari TK. Buat apa aku temenan sama sahabat yang cuma bisa menjerumuskan aku?
Memang saat ini aku sedang ada sebuah konflik kecil dengan Dwi dan Stella. Hanya karena aku memosting sebuah status di Facebook yang kata mereka status itu ditujukan pada mereka. Padahal aku hanya mengutip sebuah kata-kata dari novel. 
Dan saat aku menceritakan ini ke Clara dan Kevin, mereka dengan semangat membara mengatai bahwa aku yang salah, dan aku harus meminta maaf pada mereka. Apa maksud mereka? Aku harus mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat? Ini gila!
Aku benci mereka yang memihak Dwi dan Stella yang  notabene baru mereka kenal beberapa bulan yang lalu. Aku benci Clara dan Kevin! Aku benci sahabat ku! Mereka penipu!!

Hingga suatu hari, tepat seminggu aku bermusuhan dengan Clara dan Kevin, aku menyadari sikap mereka yang pada saat itu membentakku.
Ada sebuah acara televisi yang membuat aku tersadar akan apa arti sahabat sebenarnya.
Masih teringat jelas apa yang saat itu aku dengar dari televisi: Sahabat, sejahat apapun mereka, mereka cuma pingin ngelakuin yang terbaik untuk kita. Walaupun dengan cara yang terkadang menyakitkan perasaan kita. Tapi percayalah, sahabat sejati tidak pernah menjerumuskan kita.
Pada hari itu, aku langsung mencari Clara dan Kevin saat bel istirahat di kantin. Dan aku menemukan mereka sedang menikmati bakso yang baru saja dipesan. Disana juga ada Dwi dan Stella.
Ya! Tekad ku sudah bulat! Harus sekarang. Tegasku dalam hati.
Aku pun langsung menghampiri mereka.
'Dwi, Stella, maafin aku karena status facebook ku ya. Status itu tidak aku tujukkan padamu. Sungguh, aku tak berbohong. Clara, Kevin, aku tau kalian memang sahabatku, kalian gak pernah menjerumuskan aku, maafin aku Kevin, Clara' Kataku dengan sungguh-sungguh pada saat itu.
Mereka berempat hanya menatapku dengan penuh tanda tanya.
Aku yang terkenal gengsi memulai kata maaf, untuk pertama kalinya meminta maaf.
Mereka berempat hanya memandangku dengan tatapan heran. Lalu mereka tertawa bersama. Senyum ku pun mengembang. Aku sudah tahu jawabannya.
Dan aku tau, sejahat apapun sahabat, dia hanya mengharapkan yang terbaik untuk sahabatnya. That is true.

David, Sebuah Cinta Terpendam

'Kamu yang salah Dav! Kamu yang duluan nyuekin aku kemarin dikelas!'
'Kamu kali Nda! Kemarin waktu aku minjem buku bahasa inggris mu, kamu gak sempet ngomong apa-apa ke aku!
'Ih kamu itu ngeselin banget sih Dav!'
Ya,beginilah hubunganku dengan David akhir-akhir ini, salah satu sahabat terbaikku, kedua setelah Putra.
Aku kenal David 3 bulan yang lalu, saat kami bertemu di acara sweet Seventeen sahabatku, Dinda.
3 bulan yang lalu, hubungan kami sangat dekat. Bahkan banyak yang mengatai kami bahwa kami telah berpacaran. 'Jangan ngaco deh kalian' . Selalu aku berkata kepada orang-orang yang menggosipkan kami.
Memang, aku sebenarnya tidak ada rasa dengan David. Ya, sebelum kejadian beberapa minggu lalu, saat kami bertemu secara tidak sengaja di Aula sekolah. Saat itu aku sedang membolos, karena aku sangat benci pelajaran Fisika. Membuat kepalaku menjadi benang kusut saja.
Kebetulan pada saat itu dia ditugaskan oleh wali kelasnya untuk mengambil sebuah kursi di Aula.
'Eh david, ngapain kamu Dav?'
'Ini nih, ngambil kursi, disuruh sama wali kelas ku. Kamu ngapain disini? Bukannya dikelas kamu lagi belajar Fisika?'
Ya,wajar saja jika David tahu. Karena kelas nya dan kelasku bersebrangan.
'Aku lagi mengistirahatkan otak sejenak. Fisika cuman buat kepala ku pusing'
Dia pun berjalan mendekati aku yang saat itu duduk lesehan di lantai Aula yang terbilang mengkilap karena setiap harinya di bersihkan. Dia duduk disebelah ku.
Entah mengapa aku merasakan detak jantungku menjadi lebih cepat. Apa aku terkena serangan jantung? Ah,  tidak mungkin!
'Kamu tuh, kalo gak suka sama fisika, kenapa masuk kelas IPA sih? Karena gengsi ya?'
'Engga kok Dav, aku cuma lagi gak pingin ikutan fisika aja, cerewet amat sih!'. Aku jawab pertanyaannya dengan ketus. Karena aku tak senang ada orang yang terlalu mengurusi urusanku.
'Duh, galaka banget sih kamu, Dinda jeleeeekk!'. Tangannya seperti memukul kepalaku, tapi tidak terasa sakit. Lalu dia mengacak-acak poniku yang terjuntai kebawah.
Sangat romantis.
Aku pun menggembungkan pipiku tanda kesal. Tapi bukannya merasa bersalah, ia malah tertawa melihat wajahku yang katanya seperti balon itu.
Entah mengapa, saat itu aku baru menyadari satu hal, aku menaruh hati padanya.
Tapi sepertinya ini terlalu cepat. Bagaimana jika dia tidak menaruh rasa padaku?
Ah, sepertinya, mencintai orang yang ada di sebelah kita tanpa diketahui, merupakan suatu tantangan. Tapi apakah perasaan ini akan bertahan lama, jika hanya dipendam didalam hati? Ah, sepertinya jatuh cinta itu memang harus diungkapkan. Bukan dipendam seperti ini. Betul kan, David?

Monday, April 22, 2013

Sebuah Pesan Singkat

"Kamu gimana kabar? Baik? kayaknya engga deh. Itu buktinya kamu selalu mengumpat sama dia.
Kamu ada masalah apa? Cerita dong ke aku, siapa tahu aku bisa bantu.''
Hahh... Kata-kata itu tak sempat ku ketikkan smartphone ku yang sedari tadi hanya ada di genggaman tanganku. Sejak kapan sih aku jadi pengecut seperti ini?
Bahkan hanya untuk mengirimkan sebuah pesan singkat tanpa harus bertatap muka dengan orang yang kukirimi pesan saja tidak berani.
'Kalau aku SMS patsti gak bakal dibales. Duh'
Hanya itu yang selalu ku ucapkan saat aku ingin mengiriminya sebuah pesan singkat. Sehingga aku pun tak pernah mengiriminya pesan.
Hingga suatu hari, smartphone ku berbunyi, aku pun dengan enggan meraih telepon genggamku itu. Saat kulihat layar handphone ku, aku terbelalak. Diam membisu.
Dika? Kernapa dia tumben ngeSMS aku ya? Tanyaku dalam hati, karena selama ini, aku sangat takut untuk mengiriminya pesan singkat karena takut tidak dia balas. Tapi ternyata, hari ini, malah dia yang mengirimi aku pesan.
'Kenapa dika? Tumben sms nih..' Entah mengapa aku sempat mengetikkan kata 'Tumben sms nih' , awalnya aku tak tau maksud kalimat itu. Tapi belakangan aku tau, bahwa kalimat itu berarti 'Kamu kemana aja sih? Gak tau ya kalo aku kangen kamu!' . Hati tidak pernah salah dalam bertindak.
'gak kenapa sih, cuma pengen aja gitu ngirimin kamu SMS, boleh kan? Hehe..'
'Aku kangen kamu Dika.. Tapi kidding. Hihi..'
Yes! Aku bisa SMS an sama dia lagi. Aku selalu menikmati masa-masa dimana aku tersenyum sendiri ketika membaca pesan darinya. Hah, kenapa aku ini?
Ternyata aku sangat merindukannya, sangat teramat! 
Walaupun hanya sebuah pesan singkat yang terkesan sepele, tapi itu sangat berarti untukku.
Pesan singkat itu sangat berarti untukku. Aku pun memasukkan SMS nya di salah satu save message ku.
Entah mengapa, aku jadi senaif ini. Semua hanya satu, gara-gara: cinta.

Hanya Tipuan Mata

"Heh bodoh! Kamu itu salah mengartikkan perhatian dia Kesha! Dia itu gak ada rasa sama kamu. Kamu cuma teman di matanya! Wake up, dear! Stop dreaming!"
Kata-kata itu meluncur saja dari mulut sahabatku, Dewa, yang mungkin sudah bosan mendengar keluh kesah ku mengenai lelaki yang akhir-akhir sering bersamaku, Romy.
Ya, setelah ribuan kata terucap, setelah empat belas hari belakangan ini dia menghilang, tak mengabariku, aku jadi uring-uringan sendiri. Hingga, kemarin, akhirnya aku memutuskan untuk bercerita kepada sahabat terdekatku, Dewa.
Dan ya, aku memang dikatai terlalu cepat menaruh hati. Aku terlalu cepat utntuk menyayangi orang yang berbaik hati padaku. Sungguh, aku tak sempat berpikiran kesana.
Ribuan kata nasihat meluncur begitu saja dari mulut Dewa. Dia tak memikirkan perasaan ku yang terkadang tersindir dengan kata-katanya. Itulah sahabat, mereka selalu jujur.
Ya mungkin ku akui, aku tak tahu kapan pastinya, aku telah jatuh hati pada Romy.
Semenjak 2 minggu dia menghilang tak ada kabar, aku selalu memikirkan dia, di setiap hariku. Aku sudah seperti orang gila yang ingin meneriakkan namanya setiap aku rindu padanya.
Romy, masih teringat jelas dalam ingatanku, beberapa minggu yang lalau sebelum dia menghilang. Ia masih sempat duduk bersebelahan denganku. Dan selalu dengan gayanya yang khas, mengacak-acakkan rambutku. Hingga aku mengembungkan pipiku tanda kesal, yang langsung mengundang gelak tawa darinya. Tawa nya begitu renyah, manis. Ia masih sempat menukul kepalaku tanda jengkel denganku saat ku coret bukunya dengan tanda tanganku. Ia masih sempat menggodaku dengan ribuan gurauan nya. Aku bersumpah bahwa aku sangat merindukkannya. Hingga pada akhirnya, kalau tidak salah, Senin lalu, saat aku bertatap muka dengannya, aku melempar senyum jailku pada nya. Tapi, kenapa dia malah seperti tak menghiraukan senyuman ku? Pikrianku saat itu masih mencoba untuk berpikir bahwa dia tidak melihatku.
Tapi mungkin, pikiran negatif itu muncul dan menjadi kenyataan. Saat aku mengikut pelajaran tambahan astronomi, dia tidka lagi duduk disebelahku. Padahal sangat jelas terlihat, saat itu baru terisi oleh 3 orang. Aku, dia dan anak kelas lain. entah mengapa, dia mengambil tempat duduk 2 baris di depanku. Aku ingin menangis. Tapi ku tahan, tidak luc kan, jika aku menangis hanya karena dia memilih tempat duduk di depan? Aku masih mencoba berpikir positif. Tapi ternyata pikiran positifku telah terkalahkan oleh kenyataan negatif.
Hari demi hari, hubungan kami semakin renggang. Aku tak sempat bertegur sapa dengannya. Rasa trauma masih membekas dibenakku. 'Bagaimana jika senyuman ku hanya dianggap angin lalu olehnya? Bagaimana jika dia tidak menghiraukan senyumanku lagi? Ah perih rasanya'. Itulah alasanku mengapa aku enggan melempar senyum kepadanya. Hingga sampai saat ini, jika aku bertemu dengannya, aku hanya memasang tampang cemberut, judes dan jutek. Semoga kamu tau, semua itu hanya untuk menutupi rasa rinduku padamu, Romy..

Saturday, April 20, 2013

Cinta Bersambung..

Bagaikan asap yang menguap lalu diterbangkan angin, hilang tak bersisa..
Sebenarnya, perasaan kita ini, tersimpan di lubuk hati terdalam, tidak terungkap dan hanya terpendam dimakan waktu. Hah.. kenapa cinta itu separah ini sih?
Kisah cinta kita yang dulu, bisa dibilang, masih bersambung. Kenapa? Kita terpisah hanya karena jarak dan waktu pertemuan yang sangat singkat. Bagaimana jika seandainya, saat itu, kita tidak terpisah oleh jarak, mungkin hingga saat ini kita masih bersama, ya kan?
Haha, terkadang, menangis pun tidak bisa mengembalikan kisah kita yang dulu. Dan saat ini, semua telah berubah.
Kau dengan nya, dan Aku bersama dengan nya. Kita memiliki kekasih yang berbeda. Tapi kenapa, hati kita selalu memiliki kontak untuk bertaut kembali?? Untuk kembali menjalin kasih.
Aku sangat ingin, Ingin sekali aku mengulang kisah kita, oke, bukan mengulang. 'melanjutkan' kisah kita yang dulu.
Tapi apa daya, hatimu tidaklah lagi untukku, tapi untuknya. Dan aku, telah memiliki seorang kekasih yang sangat mencintaiku.
Tapi taukau kau, dicintai selalu lebih indah daripada mencintai.
aku rasa kau pun tau itu. Selama kau dengannya, apakah dia pernah tidak menyakitimu? Menurut pengelihatanku, sepertinya, dia selalu menyakitimu. Selalu membohongimu.
Sedangkan aku, walaupun kita terpisahkan oleh jarak, pernahkah waktu itu aku membohongimu? Bunuh aku jika aku pernah membohongimu saat itu.
Ah, tapi sudahlah...
Jika memang kau dan aku adalah kita, kita pasti akan bersama kembali. Mungkin Tuhan menginginkan kita sangat teramat saling merindu, agar bisa disatukan kembali.
Mungkin Tuhan memisahkan kita, dan menyatukkan kita dengan orang lain, agar kita bisa merasakan perbedaan saat kita bersama.
Tapi aku yakin dan aku percaya, Tuhan selalu punya jalan terbaik bagi setiap kisah cinta hamba nya.
Dan aku yakin, kita masih memiliki rasa, rasa yang mungkin saat ini sedang tertutupi oleh rasa cinta dari orang yang kita miliki sekarang. Tapi, setelah orang yang kita sayang itu pergi meninggalkan kita, kita pasti akan bersatu. Aku yakin. Sangat teramat yakin.

tidak Jelas

Kita ini apa ya?
Pacar? Bukan. Selingkuhan? Bukan. Gebetan? Bukan. Teman? Apakah kita teman??
Hubungan kita, sangat tidak jelas.
Kemana-mana kita selalu berdua, bahkan banyak orang yang mengatai kita bahwa kita berpacarn. Saat itu aku berkata kepadamu, "Hey, Rom, mereka nge gosipin kita tuh, kita dibilang pacarn. Duh, apaan sih mereka tuh.." Aku berharapnya lebih Rom... Kataku dalam hati. "Biarin aja kali Sha, mereka itu ngefans kali sama kita."
Ya, selalu begitu jika aku mulai membuka pembicaraan tentang hubungan kami.
Aku dan Romy, hanya sebatas teman sejak aku mulai mengenalnya. Dia pendiam, tak banyak bicara, tak banyak berontak. Dia berbeda dari laki-laki yang sebelumnya ku temui. Dia tidak merokok, tidak menyentuh minuman keras. Dia adalah teman laki-laki terdekatku, ya, lumayan dekat.. Kami bertemu 3 kali seminggu selama 3jam tiap harinya. Aku dengannya, selalu mengikuti pelajaran tambahan setiap pulang sekolah. Kami sama-sama menyukai astronomi, karena menurut kita, Astronomi itu mengasyikkan.
setiap pelajaran tambahan itu, dia selalu berada didekatku, layaknya seorang kekasih. Aku terkadang heran, kenapa ia tidak duduk di depan? bersama teman-temannya. Ah, tapi pertanyaan itu selalu kuurungkan, karena aku takut dia merasa terganggu dengan keberadaan dirinya disampingku.
Sore itu, saat aku sedang serius mengikuti pelajaran tambahan Astronomi, dia menyederkan kepalanya di bahuku. "Kesha, aku pinjem bahu kamu dong, aku capek nih, bentar aja, gak lama kok.". Aku hanya diam saja, menatap wajah polosnya yang mulai terlelap.
Apa kah semua ini? Adakah seorang teman yang bersikap mesra layaknya kekasih seperti ini? Ah, lupakn! Dan aku tetap fokus ke Astronomi. Ya, pandanganku fokus, tidak dengan pikiranku. Aku memikirkan hubungan ku dengan Romy. Yang penuh dengan tanda tanya..

Bukan Ikut Campur

Sebenarnya, emosi ku udah di ubun-ubun. Rasa keingintahuanku sudah sampai titik akhirnya.
Pingin banget nanyain hal ini ke kamu, "kamu kenapa sih sama dia?" , tapi kata-kata itu terus tak berucap. Hanya berdiam diujung bibir, tak sempat dilepaskan.
Twitter, facebook dan personal message BlackBerry kalian- kau dan dia, membuat rasa keingin tahuanku semakin memuncak. Kalian berbalas pesan, tetapi tidak dengan suasana harmonis. Dengan sedikit rasa emosi.
Entah mengapa, aku yang terlihat emosi melihat kau di injak-injak olehnya!
Tidak bisa kah kau sedikit berontak? Atau minimal meyeruakkan kata "Stop talking bit*ch!"
Aku tak tau ada masalah apa yang membuat kalian konflik. Aku ingin bertanya, tapi aku takut dikatakan ikut campur. Aku peduli, tapi aku tak tau bagaimana mengatakan padamu bahwa aku peduli?
Cemburu...
YA, rasa itu ada, bahkan saat ada pertengkaran sepewrti ini, aku masih sempat saja memiliki rasa cemburu. Bodoh.
Perasaan tidak mungkin salah, hanya tidak tepat.
Dan kini, aku hanya bisa berdiam diri, melihat kalian berseteru dengan panasnya.
Aku bagaikan penguntit yang terus stalking semua social media milik kalian.
Aku hanya ingi tau, masalah apa yang kalian ributkan. Tidak bermaksud ikut campur. Hanya ingin tahu....