Menyukai
seseorang itu lumrah. Saling menyukai itu wajar. Tapi jika misalkan, kita
menyukai seseorang, lalu teman kita juga menyukai nya dan ia berusaha merebut
orang yang kita cintai untuk mencintai nya, apakah itu wajar?
Rara
dan Mira sudah bersahabat sejak mereka masih duduk ditaman kanak-kanak. Rara
sangat mirip seperti laki-laki. Sedangkan Mira sangat lembut. Mereka bagaikan
dua manusia yang bertolak belakang. Tetapi persahabatan tidak mengenal
perbedaan. Sejak kecil mereka selalu bersama. Hingga sampai menginjak SMA.
Rara
menaruh hati pada Kevin, laki-laki pendiam, jago eksak dan seorang ice-breaker. Rara, Kevin dan Mira sangat
dekat, karena mereka pernah satu kelas saat SMP dulu. Sejak kelas satu SMA,
Mira lah yang menjadi tempat Rara menyimpan rahasianya tentang Kevin. Dimana
Rara selalu heboh jika melihat Kevin melewati kelasnya, saat Kevin tersenyum
kepadanya. Semua ia curahkan kesenangan dan kegembiraan nya itu kepada Mira.
Rara juga selalu bercerita tentang berbagai penolakan Kevin. Misalkan saja saat
Rara mengajak Kevin melihat-lihat buku di toko buku dekat sekolah, Kevin selalu
beralasan ada bimbel yang berarti menolak ajakan Rara secara halus.
Kevin
selalu terlihat mempesona di depan mata Rara. Kevin selalu memberikan rasa
nyaman bagi Rara. Hal itu selalu Rara nikmati tiap detiknya. Tangan Kevin yang
besar yang sering mengacak-acak kan rambut Rara. Mengatai Rara bahwa rambut
Rara sama halusnya dengan bulu shitzu kesayangannya. Dengan begitu Rara akan
mengembungkan pipi nya tanda kesal dan selalu mengundang gelak tawa dari Kevin.
Kevin sering menggoda Rara, dan hal itu selalu membuat muka Rara bersemu merah.
Kevin tidak tahu bahwa Rara menyayangi nya, mencintainya. Kevin tidak peka. Itu
yang membuat Rara sedikit kesal. Rara sangat ingin mengungkapkan perasaannya.
Tapi Rara ingat, bahwa dia adalah wanita. Sedikit aneh jika Rara mengutarakan
perasaanya. Hingga perasaan itu hanya bisa terpendam di dalam hati Rara.
Hingga
saat Prom Night, atau pelepasan siswa kelas XII, Rara ingin mengutarakan
perasaannya. Ia sudah tidak peduli dengan aturan bahwa ia adalah wanita. Saat
itu, Rara, Mira dan Kevin sedang menikmati hidangan yang disajikan. Mereka
bertiga sedang tertawa terbahak-bahak di sebuah meja yang ada dipojok. Meja itu
berbentuk persegi. Terdapat 4 kursi
disana. Rara berhadapan dengan Kevin, dan Mira disebelah Kevin. Saat bersenda
gurau, Kevin sering kali mengacak-acak kan rambut Mira sambil mengatai rambut
Mira mirip dengan Shitzu seperti dirumahnya. Rara cemburu, geram. Rara yang melihat
itu merasakan hal yang aneh. Tapi Rara tidak ingin berburuk sangka. Tatapan
mata Kevin saat menatap Mira sangat beda. Susah untuk dijelaskan. Rara semakin
mencium tanda-tanda keanehan. Tapi sekali lagi, Rara tidak ingin berburuk
sangka. Tapi memikirkan tangan Kevin yang biasanya mengacak-acakan kepalanya
itun beralih ke kepala sahabatnya, sangat membuat hati nya panas. Terbakar api
cemburu.
Rara
tidak ingin menunggu lama lagi, saat ia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu,
Kevin memotongnya terlebih dahulu. Rara terdiam sesaat. Ia melihat Mira
menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang
mereka sembunyikan, tebak Rara dalam hati. Hingga akhirnya, Kevin
mengatakan kalimat itu dengan santainya, tanpa beban. Tanpa memikirkan hati
Rara yang hancur berkeping-keping.
“Ra, aku mau ngasih tau kamu. Aku udah jadian
sama Mira dari 6 bulan yang lalu. Aku sengaja ngasih tahu kamu malam ini, buat
bikin kamu kaget. Hehe..”
Rara
terdiam. Ia menatap Mira, lalu menatap Kevin. Ia menatap Mira dengan tatapan
penuh benci, ia menatap Kevin dengan tatapan nanar.
“Oh, udah 6 bulan ya? Selamat ya, Mira, Kevin.
Langgeng terus ya.. Eh, aku mau ke toilet dulu yah..”
Kevin
menatap kepergian Rara dengan pandangan aneh. Lalu ia bertanya kepada Mira.
“Rara udah suka sama kamu semenjak kita kelas
satu SMA, Vin. Aku yang salah udah ngerebut kamu dari dia. Mungkin sekarang dia
benci banget sama aku..”
Mira
mulai merasa bersalah. Disatu sisi ia ingin mempertahankan persahabatannya
dengan Rara, tapi disatu sisi ia sangat mencintai pria ini, pria yang juga
dicintai oleh sahabatnya.
Di
toilet, Rara menyesali ketakutannya untuk mengutarakanj perasaanya. Sekarang,
semuanya telah terlambat. Kevin dan Mira tidak mungkin dipisahkan. Rara merasa
diri nya bodoh, mengapa ia tidak menyatakannya sedari dulu, jika sedari dulu ia
utarakan, mungkin Kevin tidak pernah memegang kepala Mira di depan mata nya
tadi.
Rara
memutuskan meninggalkan acara Prom Night itu, ia ingin pulang kerumah. Saat
sesampainya diluar, hujan deras menghambat langkah nya untuk pulang.
“Hujan, aku selalu benci hujan” Rara pun
berjongkok menekuk lutut, menangis sesenggukan. Hujan meredam suara tangisnya.
Semua telah terlambat.
Utarakan
lah perasaan mu kepada orang yang kau cintai secepatnya. Lupakanlah derajat mu
sebagai wanita, waktu bisa mengubah segalanya. Waktu bisa merebut apa yang
ingin kita miliki. Sahabat bisa mengambil apa yang kita inginkan jika kita
tidak mengenal siapa dia. Ingat, sebelum semua terlambat. Terlambat...